
Belum saja mulut berhenti berucap, Elfa datang dan mendengar Juan Mahardika yang berbicara sendiri, "El tidak mengalami baby blues dan tidak mengalami depresi parinatal, jangan disangkut pautkan dengan pusaka bumerang Akak yang belum beraksi!"
Juan Mahardika hanya nyengir kuda mendengar Elfa menjawab dan datang tiba-tiba, "Ada apa El ke sini?"
"Akak dicari sama Teh Rania."
"Ada perlu apa Teh Rania mencari Akak?"
"Teh Rania mau pamit pulang ke Bogor."
"Hanya Teh Rania saja, Kakak Atha dan Bibi Esih tidak ikut pulang?"
"Eee mengapa Akak mengusir mereka?"
Juan Mahardika mengedipkan mata sambil tersenyum manis, "Peluang Akak akan semakin besar saat mereka pulang."
"Dasar kang modus, ayo ke luar sekarang!"
Elfa menarik tangan Juan Mahardika ke luar dari kantor pribadi. Baru saja membuka pintu, Ada Mami MItha yang menggendong baby Zi dan baby Za digendong oleh Dokter Atha.
"Mengapa Za dan Zi menyusul ke sini?"
"Dari tadi menangis minta ASI."
__ADS_1
"Ooo kita ke kamar saja!"
Selesai memberikan ASI pada twins baby. Elfa izin mandi sore setelah twins baby bermain di gazebo bersama pengasuh dan Mami Mitha. Juan Mahardika yang awalnya akan menghubungi Asisten Dwi Saputra langsung mengurungkan niatnya dan berlari menyusul Elfa, "Sayang, tunggu!"
"Ada apa, Akak?'
"Akak juga mau ke kamar ayo bareng saja," jawabnya sambil berjalan dan melirik Mami Mitha.
"Akak mau ngapain ke kamar?"
"Mau mandiin El," bisik Juan Mahardika di telinga Elfa setelah berjalan beriringan.
"El bisa mandi sendiri," jawab Elfa juga dengan berbisik.
"Kalau begitu plus-plus saja deh, untuk obat rindu."
"Maksud Akak apa?"
"Pusaka bumerang cepat terjaga saat melihat El sendirian, nanti kita langsung tancap gas dan hanya pemanasan sejenak."
"Memang bisa begitu?"
"Bisa dong, Sayang. Kalau tidak percaya coba pegang!"
__ADS_1
"Eeee."
Tangan Juan Mahardika langsung membimbing tangan Elfa untuk bertemu pusaka bumerang saat tepat masuk pintu kamar. Menutup pintu kamar hanya menggunakan kaki. Kedua tangan langsung menarik Elfa dalam dekapan.
"Akak sangat merindukan El."
Kurang dari sepuluh menit pemanasan. Pusaka bumerang sudah siap tempur dan melakukan aksinya. Melewatkan beraksi di tempat favorit dua gundukan yang kini dikuasai twins baby.
Helaian benang yang menempel di badan tidak sempat dibuka semua. Hanya tempat tertentu saja dan sisanya hanya disinggkap yang penting bisa beraksi. Sampai puncak nirwana berdua pun tidak memerlukan waktu lama setelah pertempuran dan pergulatan singkat di atas tempat tidur.
"Sudah terobati rasa rindunya, Akak?" tanya Elfa saat Juan Mahardika tumbang di samping Elfa.
"Iya, walau cepat, singkat dan padat. Pusaka bumerang sudah bisa buka puasa, terima kasih."
Elfa mengangguk dan mencium bibir Juan Mahardika sekilas. Berusaha turun dari tempat tidur dan ingin bergegas mandi ke kamar mandi. Tidak ingin dicurigai oleh Mami Mitha karena mandi terlalu lama.
"El mandi dulu, Akak tidak usah ikut mandi bareng!"
Elfa melenggang ke kamar mandi masih dalam keadaan terbuka bagian bawah saja. Sedangkan bagian atas masih tertutup sempurna. Helaian benang masih menutup dua gundukan yang tidak sempat dinikmati.
Awalnya Juan Mahardika mengangguk saat Elfa melenggang ke kamar mandi, tetapi setelah melihat pemandangan indah dari belakang Elfa, Juan Mahardika ikut turun dari kamar mandi dan menyusul Elfa, "Sayang, apakah boleh Akak minta tambah?"
BERSAMBUNG
__ADS_1