
Juan Mahardika bergegas memerintahkan Asisten Dwi Saputra untuk mempersiapkan helikopter. Berencana menyusul Elfa ke Ngawi setelah mencari informasi tentang panen raya itu. Dengan mudah langsung diketahui alamat tempat acara karena ada banyak diberitakan di media sosial.
Sekarang ini atasan dan sang asisten sedang menyusun rencana di sebuah kafe dekat rumah Papi Alfarizi, "Kamu tahu di mana posisi Asisten Surya sekarang?" tanya Juan Mahardika kepada Asisten Dwi Saputra.
"Sebentar, Tuan. Saya menghubungi dia sekarang."
Hanya dalam hitungan menit saja, Asisten Dwi Saputra mengetahui posisi Asisten Surya. Laki-laki tegas dan dan ahli dalam bidangnya itu sedang meeting bersama Klien di mall milik Papi Alarizi. Juan Mahardika langsung mengajak asistennya menyusul ke mall.
Juan Mahardika menunggu Asisten Surya dengan gelisah. Meeting yang dilakukan lebih dari satu jam lamanya baru selesai. Pikiran Juan Mahardika sudah melalang buana sampai ke Ngawi.
Rekan meeting Asisten Surya baru saja berdiri dan berjabat tangan untuk berpamitan. Juan Mahardika langsung berdiri dan mendekati asisten dari ayah gadis yang dicintai dengan tidak sabar. Membuat Asisten Dwi Saputra menggelengkan kepala.
"Asisten Surya, selamat siang." Juan Mahardika langsung mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"Selamat siang, Tuan Juan. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin bicara pribadi dengan Anda, apakah boleh minta waktunya sebentar?"
"Tentu dengan senang hati. Silahkan duduk!"
Juan Mahardika duduk di hadapan Asisten Surya diikuti oleh Asisten Dwi Saputra setelah berjabat tangan, "Saya ingin meminta pendapat Anda tentang rencana saya ingin menyusul Elfa di Ngawi."
"Dari mana Tuan Juan tahu jika Nona El berada di Ngawi?"
"Saya tadi berkunjung ke rumah Tuan Al."
"Ok, apa yang akan Anda rencanakan?"
Awalnya Asisten Dwi Saputra bercerita jika tuannya ingin menyusul Elfa hari ini juga ke Ngawi. Di samping karena khawatir sang pujaan hati berangkat sendirian. Juga karena sangat merindukan dan ingin bertemu.
Juan Mahardika meminta pendapat, sebelum berangkat ke Ngawi akan meminta izin kepada Papi Alfarizi. Meminta bantuan Asisten Surya untuk bisa menghubungi Papi Alfarizi yang sekarang dalam perjalanan menuju Riyadh.
__ADS_1
"Mengapa Anda meminta izin terlebih dahulu?" tanya Asisten Surya.
"Saya tidak ingin membuat kesalahan yang sama dua kali, saya tidak berniat main-main dengan El. Saya akan bertemu dengan El atas restu calon mertua."
Dua asisiten tergelak mendengar alasan Juan Mahardika. Belum mendapatkan cinta Elfa, tetapi sudah percaya diri menganggap orang tua Elfa calon mertua. Jika sedang jatuh cinta tidak perduli umur tindakannya seperti ABG saja.
"Baiklah, saya akan mencoba menghubungi Tuan Al."
"Terima kasih."
Saat itu juga Asisten Surya menghubungi Papi Alfarizi. Bercerita tentang Juan Mahardika yang meminta izin untuk menyusul Elfa. Tidak ingin bertindak tanpa sepengetahuan orang tua.
Papi Alfarizi tergelak setelah mendengar Juan Mahardika langsung meminta izin. Teringat dulu pernah menyusul Mami Mitha ke sana untuk bisa mengejar cintanya. Akhirnya mengizinkan Juan Mahardika menyusul dengan banyak syarat.
Banyak sekali pesan yang harus dilakukan oleh Juan Mahardika. Dari dilarang memaksa, hanya mengizinkan berjuang dengan jujur. Sampai Harus melakukan semua kewajiban sebagai laki-laki yang berpegang teguh dengan keyakinan dan masih banyak lagi pesan lainnya.
Dengan senyum yang mengembang Juan Mahardika menyetujui semua syarat yang diajukan. Laki-laki keturunan Jawa Australia itu semakin bersemangat mengejar cinta Elfa setelah Asisten Surya menceritakan kisah tuannya.
"Ok semua dokumen sudah selesai dan saya kirim melalui email, pukul lima sore Anda bisa berangkat. Izin juga sudah keluar," kata Asisten Surya.
"Terima kasih."
Masih ada waktu tiga jam untuk mempersiapkan diri ke Ngawi. Juan Mahardika dibantu Asisten Surya dan Asisten Dwi Saputra untuk mempersiapkan diri. Terutama tentang belajar agama dan perlengkapan untuk beribadah.
Seperti sarung, peci, sajadah, dan baju koko adalah rekomendasi pertama yang disarankan oleh Asisten Surya yang harus dipersiapkan. Asisten Surya bercerita jika di sana Tuan Al selalu memakai sarung dan peci. Adat dan kebiasaan lingkungan desa yang kental dengan tradisi pondok dan agamis.
Papi Afarizi yang keturunan Arab sangat cocok jika menggunakan sarung dan peci atau sorban. Namun, beda lagi dengan Juan Mahardika. Laki-laki berwajah oriental itu akan terlihat aneh ada bule memakai sarung.
Hanya sayangnya, Juan Maharika sama sekali belum pernah memakai sarung atau peci. Jika hanya peci sangat mudah memakainya. Namun, memakai sarung kebingungan tidak tahu caranya, dua asisten harus membantu cara menggunakan sarung yang benar.
Sambil membatu berlatih memakai sarung, Asisten Surya bercerita dulu tuannya dipanggil Mas Onta Arab. Apa jadinya jika Juan Mahardika ada di tengah-tengah masyarakat desa. Kemungkinan akan dipanggil Mas bule kesasar.
__ADS_1
"Saya harus bagaimana kalau dipanggil Mas Bule kesasar?" tanya Juan Mahardika.
"Terima saja, Tuan. Tidak mungkin Anda akan menolaknya. Dulu Tuan Al sering bercerita terkadang ada nenek-nenek yang mencubit pipi karena gemas."
"Waduh!" Juan Mahardika memegang pipinya sendiri.
"Oya satu lagi, Tuan. Anda harus belajar bahasa jawa!"
"Apakah orang desa tidak bisa bahasa Indonesia?" tanya Juan Mahardika penasaran.
"Sebagian besar bisa, tetapi yang tua sebagian besar tidak bisa."
"Ok setelah ini saya akan belajar, lewat goegle translate."
Pukul lima sore tepat, Juan Mahardika berangkat menggunakan helikopter pribadi. Perjalanan Jakarta menuju Ngawi di tempuh kurang dari satu jam. Namun, bagi Juan Mahardika seolah perjalanan hampir satu hari penuh.
Sampai di Ngawi, Juan Mahardika disambut langsung oleh Pakde Sarto. Mendapat kabar dari Asisten Surya jika akan ada tamu yang datang. Yaitu Seorang pemuda yang sangat mencintai Elfa.
"Assalamualaikum, perkenalkan saya Pakde Sarto, pamannya El," kata Pakde Sarto mengulurkan tangannya bersalaman setelah Juan Mahardika turun dari helikopter.
"Walaikum salam, perkenalkan saya Juan Mahardika."
"Waah, ternyata keturunan Londo to calonne El?" tanya Pakde Sarto.
"Injih, Pakde," jawab Juan Mahardika menggunakan bahasa Jawa untuk pertama kalinya.
"Ee Mas Londo iso boso jowo?"
"Saget sekedik mawon." Juan Mardika menjawab sambil mendengarkan goegle translate menggunakan ear phone.
Sambil tersenyum simpul Juan Mahardika mengikuti Pakde Sarto berjalan menuju rumah utama. Berjalan sambil bercerita dengan menggunakan dua bahasa. Untung sebelum turun dari pesawat sudah memprogram goegle translate yang terhubung di telinga menggunakan ear phone.
__ADS_1
Baru memasuki teras rumah, Juan Mahardika mendengar sayup-sayup suara Elfa sedang tertawa. Jantung rasanya langsung berdegup kencang mendengar suaranya. Sambil masuk rumah Pakde Sarto berteriak memanggil Elfa, "El, calon garwomu rawuh!" treriaknya.