
Yang emosi karena mendengar ucapan Kris bukan Elfa, tetapi Rena. Istri dari Asisten Dwi Saputra itu langsung memukul kayu penyangga gazebo berkali-kali. Sangat emosi dan marah mendengar Kris yang terdengar ragu dan bimbang dengan rencana gugatan cerai.
"Rey, sabar!" teriak Elfa.
Kris langsung tersentak kaget dan berlinang air mata. Kegelisahan hati semakin menjadi setelah melihat sahabat marah dengan keraguan yang ada di dalam hati. Gelisah bukan kemauan pikiran, keraguan bukan tanpa sebab karena ada janin yang berkembang di rahim.
"Kris kamu sholat subuh dulu sana, jangan ditinggalkan kewajiban!" perintah Elfa dengan tegas.
"Iya." Kris turun dari gazebo memeluk Rena yang emosi.
"Maafkan, Kris."
"Hhmm."
"Sus, tolong kawal Kris, selesai mandi dan sholat pastikan dia kembali ke sini!" perintah Elfa lagi.
"Baik, Nyonya."
Kris dan dua perawat meninggalkan gazebo. Elfa mendekati Juan Mahardika, "Akak, tolong peluk El!"
"Sini, Sayang. Jangan emosi dan tenangkan pikiran."
Elfa terisak dalam pelukan Juan Mahardika. Merasa miris melihat ada keraguan di mata Kris tentang perceraian itu. Padahal kemarin bercerita sudahh lama ingin membetalkan pernikahan dengan Dokter Yohan Carnett karena mengetahui tujuan sang suami rahasia.
Elfa pernah membaca artikel tentang kebanyakan wanita yang mengalalami kekerasan dalam rumah tangga. Mereka sebagian besar bertahan karena sudah memiliki ketururnan. Tidak ingin keturunan tumbuh dengan tidak sempurna karena tidak ada keluarga yang utuh.
Sebagian wanita rela mendapatkan perlakuan kasar pasangan hanya demi buah hati tercinta. Ada juga karena demi cinta dan berharap suatu saat nanti pasangan akan berubah. Padahal sebagian yang mengalami perlakuan kasar dalam rumah tangga akan cenderung mengulangi lagi.
Ditambah jika kepala rumah tangga memiliki kebiasaan buruk dalam pergaulan. Minuman keras atau barang terlarang, mereka cenderung kasar saat tidak sadar. Hanya sekedar meminta maaf, tetapi sering mengulang lagi.
__ADS_1
Di sisi lain jika cinta sudah tertanam mendalam di dada. Seorang wanita cenderung lebih mudah memaafkan perlakuan kasar itu. Semua dilakukan hanya demi cinta tanpa menyadari perlakuan itu akan selalu membekkas di hati.
"Sayang, ayo sarapan pagi dulu, El harus minum susu hamil lo!" Juan Mahadrika melepas pelukan Elfa.
"El ingin sarapan di gazebo sini saja, Akak."
"Ok, tidak masalah."
"El juga ingin sarapan bersama dengan semua pegawai dan tim dokter yang ada di sini."
"Mengapa harus mengajak semua orang?"
"El ingin menunjukkan pada Kris jika dia tidak sendiri, ada banyak orang yang memperhatikan dia. Biar dia sadar tidak perlu memperjuangan orang yang tidak pernah menganggap dia ada."
"Rey saja yang bilang sama koki yang ada di dapur."
"Ayo, Aa temani!" Asisten Dwi Saputra mengulurkan tangan menggandeng tangan Rena.
Kris yang bingung saat datang semua berkumpul bersiap untuk sarapan pagi. Elfa dan Juan Mahardika tidak membedakan antara pegawai dan majikan. Walau pegawai sangat hormat dan patuh, tetapi Juan Mahardika memperlakukan mereka seperti keluarga.
"Apa maksudnya ini, El?"
"El hanya ingin menunjukkan pada Kris, ada banyak orang yang ada di sekililing Kris yang perduli, jangan hanya karena Kris memiliki keturunan berniat bertahan dengan orang yang salah, jadi El mohon Kris mempertimbangkan lagi keraguan itu."
"Rey sangat setuju dengan El, Kris harus berpikir ulang seribu kali kalau perlu. Jangan sampai goyah hanya karena Kris memiliki putra dari dokter durjana itu."
"Kris hanya ragu, Kris belum memutuskan apapun."
"El tahu, tetapi perlu Kris ingat masih ada El dan Rey yang selalu bersama, jangan sekali lagi mengulangi menghadapi masalah sendirian."
__ADS_1
"Iya maaf, Kris sangat menyayangi El dan Rey."
Mereka sarapan bersama dengan akrab. Walau banyak yang menikmati sarapan dengan duduk di pinggir kolam renang. Tidak mengurangi rasa kekeluargaan yang ada. Setelah selesai para pegawai kembali bekerja pada tugas masing-masing.
Asisten Dwi Saputra mendapatkan kiriman pesan WA dari pengacara yang menangani kasus Kris, "Tuan, silakan Anda lihat laporan dari pengacara, saya kirim ke pesan WA Anda!"
"Kirim juga ke El, Asisten Dwi!"
"Siap."
Asisten Dwi Saputra tidak hanya mengirim laporan lewat pesan WA pada Elfa saja. Mengirim juga kepada Rena dan Kris bahkan kepada Henry Alexander untuk bisa membacanya. Mereka membaca secara bersamaan di ponsel masing-masing.
Dalam laporan itu, pengajuan perceraian di tunda karena alasan dari pihak tergugat. Dalam keyakinan yang dianut sebagian besar penduduk Indonesia, wanita yang sedang hamil disarankan bercerai setelah melahirkan. Pengadilan menyetujui penundaan itu demi bayi yang belum lahir.
Hal yang halal, tetapi dibenci oleh Allah adalah perceraian. Tidak ada yang melarang bercerai dalam keadaan hamil. Namun, ada sisi kemanusiaan tentang sang jabang bayi yang belum lahir.
Dalam laporan itu, pengadilan memutuskan untuk menunda perceraian sampai bayi lahir. Walau pengacara juga mengajukan perceraian karena sang suami menggunakan narkoba dan suka mengkonsumsi alkohol. Pengadilan tetap akan menjadwalkan persidangan setelah bayi lahir.
Pernikahan dua negara akan banyak persyaratan yang dilakukan. Perceraian juga harus melalui prosedur yang lebih rumit. Harus memenuhi syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dua negara.
Ada satu lagi laporan dari pengacara tentang Doker Yohan Carnett. Persetujuan bahwa dokter urologi itu melakukan rehabilitasi ke negara sendiri. Dengan alasan sang dokter hanya pemakai bukan pengedar.
Kris hanya terdiam bingung saat sudah selesai membaca laporan. Sebentar lagi pasti suami rahasia tiba di Autralia. Akan banyak peluang bertemu jika dokter itu berada di negara sendiri.
Belum sempat membahas persoalan Kris, dengan terpaksa Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra harus berangkat ke kantor lebih pagi. Ada meeting yang harus dilakukan di kantor pusat bersama Papa Hans Mahardika. Elfa dan Rena harus mengikuti suami ke kamar untuk bersiap-siap.
Kris sendirian termenung di gazebo memikirkan sebentar lagi Mr. Yo akan pulang kampung. Keresahan hati susah di tebak, kemarin saat gugatan cerai di layangkan gelisah. Namun kini saat mendengar ayah dari putra yang masih ada di dalam perut akan datang semakin gelisah.
Rasa hati ingin segera lari dan menghilang dari negara yang di pijak saat ini. Tidak ingin bertemu dan takut ketahuan jika sekarang ini ada di Australia. Seolah saat ini sedang menghadapi Mr. Yo yang sedang memegang ikat pinggang dengan senyum devilnya.
__ADS_1
Bergegas Kris menusap perutnya, "Bagaimana kalau kita lari dari sini, Nak. Ibu tidak ingin bertemu ayahmu, Ibu takut dia menyakiti kamu. Yok kita lari saja!"
"Kris mau lari ke mana, bagaimana kalau aku yang temani?"