Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 98. Beda Adat dan Kebiasaan


__ADS_3

Sebelum Juan Mahardika dipeluk oleh teman Mommy Vera, dia mengikuti Abi Ali dengan melipatkan kedua tangan di dada. Namun, langsung ditertawakan oleh oleh mereka. Pasalnya dulu Juan Mahardika lah yang meminta dipeluk dan dicium pipinya.


"Kamu takut sama istrimu, Juan?" tanya salah satu Wanita sosialita sambil mendekati dan tetap ingin memeluk.


"Maaf, Nyonya. Juan bukan takut sama istri, tetapi sekarang ingin jadi orang yang lebih baik."


Kembali mereka menertawakan sikap Juan yang menurut mereka aneh. Elfa langsung mengusap lengan Juan Mahardika dan berbisik, "Jangan menyerah ya, Kak. Ingat itu cobaan!"


Ini ujian Juan Mahardika yang sebenarnya. Dulu saat di Ngawi berada di lingkungan yang memiliki keyakinan yang sama. Bersikap ramah dan saling menghormati dan menghargai.


Sekarang saat berada di lingkungan yang berbeda keyakinan. Berbeda adat dan kebiasaan masyarakat yaitu masyarakat yang cenderung hidup bebas. Akan ada banyak hinaan, ejekkan bahkan akan ditertawakan seperti saat ini.


Juan Mahardika tidak memperdulikan omongan wanita sosialita. Lebih mengusap lembut tangan Elfa untuk meminta dukungan. Bersabar dan mencoba ikhlas dengan konsekuensi dan resiko atas keyakinan hati.


Daddy Hans Mahardika yang merasa sungkan kepada Abi Ali. Langsung mendekati Mommy Vera dan berbisik di telinga. Juan Mahardika juga menatap sendu wajah Mommy Vera seolah meminta untuk bisa menghormati keyakinan masing-masing.


"Come on, Moms. Kita persiapan makan malam saja!" ajak Mommy Vera kepada teman wanita sosialita.


"Iya ayo, da da ganteng!" Para wanita sosialita itu melambaikan tangan dan diikuti Juan Mahardika yang hanya nyengir kuda sambil melirik Elfa.


Elfa hanya bisa menahan senyum melihat tingkah wanita sosialita dan Juan Mahardika yang terlihat salah tingkah dan bingung. Ingin menjaga image dan tidak ingin Elfa salah paham. Namun, mereka tidak memahami jika Juan Mahardika sudah banyak berubah.


Juan Mahardika mendekati Elfa dan berbisik, "Sayang boleh tidak Akak masuk kamar, hati Akak lagi bad mood?"


"Tidak enak sama Opa dan Daddy dong, Akak."


"Beri Akak semangat sedikit, please!"


Elfa hanya mengecup pipi Juan Mahardika sebelah kiri sekilas, tetapi dengan sengaja Juan Mahardika memiringkan wajah jadi yang niatnya ingin mengecup pipi kanan, yang dikecup bibir.


Elfa langsung mengerucutkan bibirnya kesal, yang dikecup menjadi sumeringah dan mendapatkan semangat dan tidak bad mood lagi.

__ADS_1


Datang lagi rombongan keluarga dari Juan Mahardika yang terdiri dari beberapa pasangan muda dan putra-putri mereka. Elfa lebih enjoy dengan anak-anak tidak ikut berbincang dengan mereka yang dewasa. Tetap saja adat dan kebiasaan yang tidak bisa dirubah, saat bertemu mereka berpelukan dan cipika-cipiki.


Sampai mereka ramah-tamah sambil makan malam, Elfa lebih memilih bermain dan berbincang dengan anak-anak. Juan Mahardika lebih memilih menyelamatkan diri berbincang dengan Daddy Hans, Abi Ali dan keluarga yang laki-laki berbincang bisnis.


Setelah para tamu berpamitan pulang, datang Asisten Dwi Saputra dari bandara langsung menuju kediaman Juan Mahardika. Asisten kekasih sahabat Elfa itu langsung mengadakan meeting berdua dengan Juan Mahardika hampir menjelang pagi. Hampir satu bulan sudah perusahaan dipimpin melalui online saja.


Ada banyak dokumen yang harus ditanatangani. Ada banyak berkas yang harus diperiksa. Dan juga menerima laporan tentang Dokter Yohan Charnett yang bekerja di dekat vila.


Asisten Dwi Saputra melaporkan tentang dokter yang sangat teropsesi dengan Elfa itu tidak banyak mendapatkan informasi tentang Elfa. Sampai konferensi pers yang dilakukan Papi Alfarizi, dokter baru terlihat oleng.


Asisten Dwi Saputra mengirim beberapa foto saat dokter urologi itu mabuk berat malam hari setelah melihat konferensi pers di televisi. Kemungkinan besar dia sok berat mendengar berita itu. Apalagi yang menjadi pendamping hidup Elfa adalah laki-laki satu negara dengannya.


"Bagaimana dengan keadaan Anda, Tuan?" tanya Asisten Dwi Saputra setelah selesai bercerita.


"Aku baik-baik saja."


"Raut wajah Anda tidak menunjukkan itu, saya tahu betul tentang Anda."


Dengan tersenyum kecut Juan Mahardika bercerita tentang trauma Elfa di masa lalu. Tentang proses cinta Elfa yang baru mulai tumbuh. Walau tidak bercerita tentang pusaka bumerang yang belum bisa beraksi, pasti sang asisten sudah bisa menebaknya.


Juan Mahardika mengangguk, hanya bergumam dalam hati sudah pasti bisa di tebak dengan mudah. Namun, dibalik kegagalan itu ada hikmah yang luar biasa bagi Juan Mahardika. Bisa lebih bersabar dan tidak mudah emosi seperti dulu lagi.


Di kamar, Elfa bisa tidur nyenyak malam ini karena Juan Mahardika yang melakukan meeting hampir menjelang pagi. Tidak ada yang mengganggu tidurnya seperti biasa. Bangun saat menjelang subuh masih belum menemukan suami sampai kamar.


Setelah azan berkumandang di ponselnya, Juan Mahardika baru masuk kamar. Elfa sudah selesai mandi dan bersiap untuk melakukan ibadah, "Tunggu Akak dulu, Sayang. Akak mandi sebentar!"


"Baik, El tunggu."


Sholat berjamaah berdua, berdoa bersama dan menghafal surah pendek sebentar. Semua dilakukan dengan berdua rasanya sangat damai dan tenang. Nikmat mana lagi yang akan didustakan jika menerima kebahagiaan seperti itu.


"Akak tidak ngantuk semalaman meeting dengan Asisten Dwi?"

__ADS_1


"Ngantuk sih sedikit, tetapi setelah melihat El, mata Akak jadi langsung segar."


"El mau sarapan sekarang atau bareng keluarga?"


"Nanti bareng saja."


"Mom dan Dad sarapan jam sembilan, Sayang. Mereka baru akan bangun setelah jam delapan pagi."


"Oooo sarapan bareng Opa saja karena beliau terbiasa setelah subuh sarapan."


"Ayo kita turun, siapa tahu Opa sudah ke luar!"


"Iya."


Abi Ali sudah duduk di ruang keluarga sambil menikmati kopi pahit. Duduk sendirian sambil melihat berita televisi, "Opa, sudah sarapan?" tanya Juan Mahardika.


"Ini sudah ada sandwich dan kopi pahit."


"Alhamdulillah, bibi pengertian banget."


Elfa tersenyum melihat Juan Mahardika merasa lega. Teringat tadi malam bibi bertanya apa yang harus dihidangkan untuk sarapan pagi sang kakek. Yang terpenting sudah ada sesuatu yang masuk perut sebelum minum obat.


Masih pagi buta ada suara bel pintu berbunyi dari pintu utama. Juan Mahardika mengerutkan keningnya karena heran dan bertanya dalam hati siapa yang datang bertamu sepagi ini. Tuan rumah saja hanya diri sendiri dan bibi yang sudah terbangun yang lain masih terlelap dalam mimpi.


"Kak, itu ada tamu, sana dibuka pintunya?" perintah Elfa.


"Siapa yang bertamu pagi buta begini?" tanya Juan Mahardika heran.


Bibi berlari menuju pintu utama, "Saya saja yang membuka pintu, Tuan!"


Hanya dalam lima menit bibi kembali dan langsung menemui Juan Mahardika, "Tuan, tamu itu sedang pencari Anda?"

__ADS_1


"Siapa, Bibi?"


"Seorang wanita cantik yang sedang hamil."


__ADS_2