
Rencana pernikahan tinggal lima hari lagi dilaksanakan. Juan Mahardika jungkir-balik mengatur waktu untuk menghafal surah Ar Rahman. Mulai dari murotal di online sampai tulisan tangan selalu dibawa ke manapun dia berada.
Banyak dibantu oleh Asisten Dwi Saputra dan Asisten Surya dalam mengahfalnya. Sedangkan malam itu juga Alfian Alfarizi dan Asisten Julio langsung pulang ke Bogor lagi. Karena pekerjaan yang menumpuk dan akan menjemput istri dan putra-putrinya untuk acara pernikahan nanti.
Mulai di kamar, di sungai bahkan saat mengikuti Elfa ke manapun juga. Juan Mahardika selalu menghafal dan menghafal tanpa henti. Terkadang membaca arti dan makna yang terkandung di dalam surah yang ajaib itu.
Setelah solat isya saatnya Juan Mahardika menghadap ke Pakde Sarto untuk setor ayat. Seberapa pun yang di hafal harus melantunkan di depan Pakde Sarto. Akan dibetulkan mahroj, tajwid dan lafal yang benar.
Dalam waktu empat hari, Juan Mahardika selalu berkonsentrasi saat menghafal. Tidak ingin gagal dan tidak ingin malu di depan abang ipar. Bahkan terkadang jarang berkomunikasi dengan Elfa hanya karena ingin sempurna saat waktunya tiba nanti.
Dua hari sebelum hari H, Alfian Alfarizi memberikan kabar kepada Papi Alfarizi dan Elfa jika Dokter Yohan Charnett menemui Alfian secara langsung. Sehari sebelumnya dokter urologi itu tidak diterima sebagai karyawan rumah sakit Aljuzeka dengan alasan belum membutuhkan dokter ahli.
Dokter Chanett Yohan menemui Alfian Alfarizi secara pribadi dengan tujuan bertanya langsung tentang Elfa. Dengan berterus-terang dokter itu masih ingin berjuang mendapatkan cinta Elfa. Tidak perduli sudah ditolak berkali-kali oleh gadis yang dicintai.
Dokter Yohan Charnett belum mengetahui jika Elfa akan menikah dua hari lagi. Awalnya Elfa melarang untuk memberitahu tentang pernikahan mendadak itu. Namun, setelah dipertimbangkan Alfian Alfarizi langsung mengabari pada dokter itu agar tidak mendekati lagi.
Hanya sayangnya, dokter urologi itu tidak terima karena jodoh gadis yang dicintai adalah saingan satu negara. Dengan setengah emosi, Dokter Yohan Chanett meminta alamat tempat Elfa akan menikah. Tidak tahu apa tujuan sebenarnya dari laki-laki itu.
Tentu saja, Alfian Alfarizi tidak memberikan alamat kepada Dokter Yohan Charnett. Banyak sekali alasan laki-laki itu tidak diberikan informasi. Selain melihat etitut yang terlihat kaku, dokter itu sangat terlihat ambisius.
Alfian Alfarizi juga mengabarkan setelah dokter itu bertemu, sore harinya dia menghilang bak ditelan bumi. Diselidiki oleh anak buah Asisten Julio sudah tidak ada di hotel tempat menginap. Dari keterangan resepsionis sudah cek-out dua jam lalu.
Mencari informasi di bandara, dokter urologi itu belum pulang ke negaranya. Saat ini anak buah Asisten Julio mencari dokter itu ke daerah sekitar villa. Tidak lupa mencari di sekitar rumah Papi Alfarizi yang ada di Bekasi.
Elfa dan Juan Maharika sedang duduk di pinggir sungai bersama Jasmine Mahardika. Gadis remaja itu sangat antusias bermain air dengan riang bak anak kecik yang tidak pernah bermain air. Seperti anak yang lepas dari pengawasan orang tuanya.
"Kata Abang Al, dokter itu masih berusaha mencari El. Apakah boleh Akak melempar dia ke kutup utara, Garwoku?"
"Apakah Akak takut kalau dokter itu menyusul ke sini?"
"Bukan takut, jika dibanding dengan dokter itu sangat jauh lebih tampan Akak lah."
"Percaya diri banget sih."
"Bagaimana kalau dia menyusul ke sini?"
"Tidak mudah mencari alamat ke sini. Tidak semua orang mengetahui keluarga El di sini."
__ADS_1
"Jangan salah, dia dengan mudah menemukan alamat rumah El di Bekasi, di villa dan rumah sakit di Bogor, 'kan?"
Elfa terdiam sesaat mengingat cerita abang tentang Dokter Yohan Charnett yang belum kembali ke Australia. Jika memang dia mencari dan menyusul ke sini. Dengan sendirinya dokter itu langsung menyerahkan nyawa jika bertemu dengan Asisten Surya.
"Tidak perlu cemas, Asisten Surya tidak akan tinggal diam, hanya dengan menjentikkan tangan. Dokter itu pasti sudah terkapar di tanah."
"Oya, sudahlah kita bahas yang lain saja. El mau minta mas kawin apa dari Akak?"
"El tidak minta, terserah Akak saja, di desa ini sini susah mencari hal yang aneh-aneh."
"Akak maunya yang spesial dan susah dilupakan."
"Akak sudah menorehkan luka yang susah di lupakan."
"Maaf, Sayang. Mengapa itu lagi yang dibahas. Kapan Akak mendapatkan maaf dari El?"
"Tidak perlu dibahas, El sudah memaafkan Akak."
"Alhamdulillah, terima kaih."
"Ya Allah ya Rob."
Juan Mahardika memajukan badannya ingin memeluk Elfa. Rasanya ingin memeluknya dengan erat agar bisa dilupakan rasa sakit yang ada. Belum saja mendekat badan Juan Mahardika langsung di tahan oleh Elfa, "Mau ngapain?"
"Akak ingin memeluk El, untuk memberikan rasa yang ...?" Belum sempat Juan Maharika melanjutkan ucapannya, ada suara Jasmine Mahardika menjerit dan berlari ke pinggir sungai.
"Aaaah, ada apa itu, geli?" teriak Jasmine Mahardika.
Spontan Juan Mahardika turun dari batu besar dan berlari mendekati adiknya, "Ada apa, Jasmine?"
"Itu Kak, mengapa ada kuning-kuning lewat sini?"
Elfa hanya tersenyum saja karena sudah terbiasa menyaksikan itu dari kecil. Walau merasa geli juga saat melihat itu. Itu kebiasaan masyarakat desa yang tidak memiliki peturasan.
Bagi sebagian masyarakat yang tinggal di pinggir sungai. Mereka selalu menggantungkan kebutuhan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari. Hanya untuk keperluan memasak saja yang tidak menggunakan air sungai.
"Kak mengapa ada yang membuang kotoran di sini sih?"
__ADS_1
"Di sini sebagian masyarakat yang tinggal di pinggir sungai tidak memiliki peturasan, semua keperluan air diambil dari sungai."
"Mandi dan masak juga, Kak?"
"Mandi sih iya, tetapi masak mereka menggunakan air sumur."
"Sumur, apa itu sumur, Kak?"
"Sumur itu sumber mata air yang sengaja di gali untuk diambil dan dimanfaatkan airnya, kedalaman sumur bisa bervariasi dan terkadang bisa sampai tiga puluh meter."
"Wow dalam sekali, bagaimana cara mengambil airnya?"
"Dengan menggunakan katrol kecil yng ditarik tangan."
"Katrol yang ditarik tangan?" Jasmine Mahardika mengerutkan keningnya membayangkan katrol kecil ditarik dengan menggunakan tenaga manusia.
"Dibelakang rumah Bude Marmi masih ada yang memiliki sumur dengan menggunakan katrol tangan, sana kalau penasaran!" perintah Juan Mahardika kepada adiknya.
"Apakah Bude Marmi tidak memiliki sumur itu?"
"Bude punya sumur dua, tetapi sekarang menggunakan mesin untuk mengambil airnya."
"Kak, Jasmine pulang duluan, penasaran ingin melihat sumur dan katrol tangan!" teriak Jasmine Mahardika berlari pulang.
Juan Mahardika duduk kembali disamping Elfa. Masih ingin membahas tentang mas kawin dan keperluan yang lain. Belum sempat membuka mulut untuk berbicara datang anak laki-laki keluarga Bude Marmi datang mendekat.
"Kak El. Ada tamu yang baru datang, Kak El suruh pulang sekarang!"
"Sopo cah bagus tamune?" tanya Juan Mahardika,
"Ora waruh, Mas Londo."
"Berapa orang tamu yang datang?" tanya Elfa.
"Satu orang laki-laki dan datang sendirian."
"Sayang, jangan-jangan dia ...?"
__ADS_1