
Juan Mahardika masuk ke sebuah kafe dan karaoke yang dulu sering didatangi. Dulu sering bertemu dengan wanita yang ada di tempat karaoke itu. Ada banyak wanita yang sering menemani tamu dan bisa diajak berkencan.
Tanpa harus mencari dan memilih, Juan Mahardika langsung biberikan ruang VIP seperti biasa. Diantar langsung dengan wanita yang akan menemani saat berada di dalam. Lengkap dengan makanan andalan kafe yang jadi satu dengan karaoke.
"Anda sudah lama sekali tidak berkunjung ke sini, Tuan?" tanya Pemandu yang sering dipanggil Tasya.
"Biasa sibuk, sini duduklah!" perintah Juan Mahardika sambil menepuk sofa yang ada di sebelahnya.
Perjalanan dari perusahaan milik Papi Alfarizi sampai masuk ke kafe dan karaoke tadi. Pusaka Juan Mahardika sering terbangun saat membayangkan hal indah. Apalagi membayangkan wajah Elfa yang terlihat cantik saat bertemu tadi.
Setelah berbincang sebentar dengan Tasya. Juan Mahardika mulai menarik Tasya dalam dekapan. Mengecup bibir hanya sekilas sebagai pemanasan tujuannya.
Tanpa diduga, Tasya langsung agresif menyerang Juan Mahardika dengan mengeksplor dan mulai mencium Juan Mahardika dengan bergerilya mengabsen seluruh isinya. Walaupun Juan Mahardika tidak membalas dan hanya menikmati sesaat aksi Tasya. Hanya sayangnya Juan langsung mendorong Tasya padahal wanita pemandu karaoke itu belum puas dan masih ingin menikmati aksinya.
"Ada apa, Tuan?"
"Sebentar dulu, aku mau ke kamar mandi!"
"Ooo apakah perlu Tasya temani?"
"Tidak perlu, kamu tunggu di sini saja, aku mau buang air besar!"
"Baiklah, Tuan."
Juan Mahardika bergegas masuk kamar mandi dan menutup rapat pintunya. Memukul tembok berkali-kali karena kesal. Setelah mulai ingin beraksi pusaka kebesaran kembali tidak mau berfungsi. Saat menikmati aksi Tasya tanpa diduga pusaka justru tertidur pulas.
Memejamkan mata dan berdiri bersandar di pintu. Mulai membayangkan seperti sesaat setelah melihat Elfa. Bergegas pusaka itu terbangun dengan menggeliat perlahan dan menegang. Namun, saat pikirannya ingin beraksi dengan Tasya si wanita pemandu lagu kembali pusaka mengecil dan tertidur pulas kembali.
"Apakah kamu tidak mau aku ajak beraksi dengan Tasya?" tanya Juan Mahardika sendiri sambil menunjuk pusaka kebesaran.
__ADS_1
Pusaka tidak ada reaksi saat diajak berbincang. Terkadang sudah seperti orang tidak waras selalu pusaka kebesaran yang ditanya. Seolah pusaka memiliki pikiran sendiri tidak berhubungan langsung dengan pikirannya.
"Sebenarnya apa sih mau kamu, mengapa hanya melihat putri pengusaha itu kamu bangun, tetapi saat sekarang ini aku mengajak kamu beraksi mengapa sekarang kamu anteng dan tidur kembali?" Juan Mahardika kembali mengajak pusaka kebesaran berbincang.
Hampir setengah jam Juan Mahardika berada di dalam kamar mandi. Kembali emosi dan kesal karena ternyata keinginan tidak sejalan lagi. Dengan gontai ke luar kamar mandi dengan memegangi perutnya.
Harus memiliki alasan yang kuat agar si pemandu lagu Tasya tidak curiga. Dengan wajah yang datar Juan Mahardika berjalan dan duduk mendekati Tasya.
"Maaf Cantik, perut aku tidak bisa diajak bersenang-senang. Kemungkinan tadi aku salah makaan, sakit sekali sekarang, aku akan berobat ke rumah sakit."
"Lo jadi kita tidak jadi ...?"
"Tidak jadi, tetapi tenang saja. Aku akan membayar kamu full seperti biasa plus aku berikan bonus sebagai permintaan maaf."
"Iya baiklah terima kasih, Tuan. Semoga cepat sembuh."
Dengan emosi yang ditahan, Juan Mahardika ke luar dari kafe dan karaoke dengan langkah panjang. Pikirannya mulai seperti sebelum bertemu dengan Elfa. Mulai frustasi dan putus asa takut pusaka tidak bisa beraksi kembali.
Kaca yang berserakan ada yang mengenai kaki dan lengan. Dengan sengaja Juan memukul satu lagi kaca yang belum pecah di pinggir lemari. Darah langsung mengalir dari ujung ruas jari yang terkena pecahan kaca.
Bersamaan Asisten Dwi Saputra mendorong pintu kantor tuannya sesaat melihat Juan Mahardika melintas di depan kantor miliknya, "Tuan, apa yang Anda lakukan?"
Juan Mahardika hanya terdiam dan duduk di kursi. Tidak menjawab pertanyaan dan teriakan asistennya. Membiarkan darah itu terus mengalir dan menetes di lantai samping kursi yang di duduki.
"Apa yang terjadi, Tuan?"
Tetap saja Juan Mahardika terdiam tanpa menjawab sepatah katapun. Asisten Dwi Saputra mengambil kotak P3K dan membersihkan darah di jari dengan tisu dan membersihkan dengan alkohol. Memberikan pertolongan pertama dengan mengoleskan obat merah agar tidak infeksi.
"Anda sudah tenang sekarang, Tuan?"
__ADS_1
Juan Mahardika mengambil napas panjang dan menghembuskan dengan kasar. Kini pikiran dan hatinya kembali seperti dulu, putus asa, frustasi dan tidak memiliki harapan lagi untuk sembuh. Seolah peristiwa terbangun pusaka itu hanya sesaat saja.
"Tuan, berceritalah!"
"Pusaka ini hanya terbangun sekitar satu jam saja, saat aku masuk di karaoke dan ingin beraksi dengan pemandu karaoke itu, pusaka aku kembali tertidur pulas," kata Juan Mahardika sambil memejamkan mata.
Asisten Dwi Saputra mengerutkan keningnya teringat saat Juan Mahardika ke luar dari perusahaan milik Tuan Alfarizi. Laki-laki itu semangat empat lima ingin mencoba pusakanya yang baru saja terbangun. Tidak mau mendengarkan apa yang ingin dikatakan saat itu.
"apakah saya boleh memberikan nasehat, Tuan?"
Juan Mahardika langsung membuka mata memandang wajah asisten yang terlihat ragu. Ada rasa sungkan dan hormat yang terpancar di wajahnya. Sorot mata Asisten Dwi Saputra yang terlihat tulus dan jujur.
"Katakan!"
"Seharusnya Anda merenungkan setelah peristiwa hari ini, Mencari apa yang salah dan mencoba memperbaiki diri."
"Memperbaiki diri?"
"Silahkan Anda renungkan apa yang saya katakan tadi, sebaiknya beristirahat di kamar. Biar OB membersihkan ruang ini sampai bersih dulu!"
"Iya, kamu tunda semua meeting hari ini!"
"Baik."
Setiap orang akan memiliki otak dan cara berpikir yang berbeda. Maksud Asisten Dwi Saputra menginginkan tuannya menjadi lebih baik. Ingin bisa mengubah cara pandang dan hidupnya dari yang salah menjadi benar.
Beda lagi dengan cara berpikir Juan Mahardika. Karena pertemuan dengan Elfa, pusaka langsung terbangun sempurna. Langsung menyimpulkan jika gadis itu yang membuat semua terjadi dan hanya karena Elfa seorang.
Setelah merenung lebih dari dua jam di kamar. Timbul rasa benci kepada Elfa karena semua yang terjadi karena gadis mantan pimpinan pejuang gadis. Ingin membalas dendam kepada Elfa tentang yang terjadi pada dirinya selama dua tahun terakhir ini.
__ADS_1
"Tunggu saja El, aku akan balas dendam kepada kamu. kalau bisa akan lebih sakit dari ini!" monolog Juan Mahardika dengan mengeratkan gigi karena marah.