
Belum sempat Elfa menjawab permintaan Juan Mahardika. Ada pintu diketuk dari luar perlahan, "Tuan!" panggil security dari luar kamar.
Elfa hanya tersenyum dan memberikan kode dengan menggelengkan kepala. Menunjuk pintu untuk menjawab panggilan dari luar dan dilarang minta tambah. Dengan terpaksa Juan Mahardika mengenakan pakaian dengan rapi kembali kemudian membuka pintu, "Ada apa, Pak?"
"Ada tamu yang sedang menunggu Anda di luar, Tuan."
"Siapa?"
"Namanya Henry Aleksander."
"Suruh masuk saja dulu!"
"Siap laksanakan."
Juan Mahardika menemui Henry Alexander setelah selesai mandi. Elfa tidak menemui tamu teman kuliahnya. Lebih memilih bergabung dengan twins baby yang ada di gazebo bersama Mami Mitha.
"Ada apa ke sini?" tanya Juan Mahardika duduk di depan tamu.
"Henry mewakili Kris untuk menjenguk Nyonya."
"Dia sedang bersama twins baby, sekarang sudah baikan sampaikan kepada Kris."
"Alhamdulillah, syukurlah semoga Kris tidak khawatir lagi."
__ADS_1
"Aamiin, ada yang ditanyakan lagi?"
"Henry juga ingin bertanya tentang dia, Tuan Juan tahu siapa dia?"
Henry Alexander menunjukkan sebuah foto seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus. Wajahnya terlihat tampan, tetapi terihat kusam dan tidak terawat. Ada tato kecil di lengan bagian atas dengan gambar ular kobra yang berdiri tegak dengan tulisan inisial JE.
Juan Mahardika langsung membelalakkan matanya. Sahabat sekaligus mantan pemilik kafe esek-esek itu sekarang sudah bebas dari penjara. Penampilannya yang dulu selalu necis dan glamuor, kini terlihat sayu dan dekil, tatapan matanya terlihat kosong dan bingung.
"Kamu mendapat dari mana foto ini?"
"Henry ambil foto ini saat tadi malam di tempat Rey setelah mengirim doa bersama."
"Henry tidak tanya tentang di foto ini kepada Kris?"
"Sudah bertanya kepada Kris tadi, tetapi Kris tidak menjawab."
"Tidak, Henry duduk bersama mertua laki-laki Anda kemarin."
"Terus apa lagi?"
Henry Alexander bercerita malam itu tepat setelah doa selesai datang laki-laki dalam foto itu sendirian. Tanpa malu dan sungkan dia langsung duduk dan ikut menikmati hidangan makan lontong sayur bersama. Banyak para tamu undangan langsung melihat laki-laki itu sambil berbisik.
Dari bisikan para tetangga jika laki-laki yang datang itu baru ke luar dari penjara. Henry Alexander menyimpulkan jika laki-laki itu Dokter Yohan Carnett. Namun, setelah diperhatikan wajahnya dengan seksama bukan dokter itu. Karena melihat wajah itu termasuk asli melayu.
__ADS_1
Yang membuat Henry Alexander penasaran dan diam-diam mengambil foto laki-laki itu. Mendengar sekilas tamu yang datang paling akhir itu bertanya tentang Rena. Kemungkinan laki-laki itu ada hubungnnya dengan tiga sahabat yang salah satunya adalah Kris.
"Apakah Anda mengenal dia, Tuan?"
"Ya dia teman saya dulu."
"Apa hubungan dia dengan tiga sahabat?"
"Dia adalah mantan kekasih Kris yang pertama, dia juga yang telah menhancurkan masa depan Kris dulu."
Henry Alexander mengangguk dan kembali melihat foto laki-laki yang ada d ponsel sambil mengerutkan keningnya. Teringat sesuatu yang dulu pernah dikatakan oleh Kris, "Apakah laki-laki ini yang bernama Jonny Evans, Tuan?"
"Iya benar sekali, Kamu tahu cerita tentang Jonny Evans?"
"Tidak, tetapi satu bulan lalu, Henry pernah melihat Kris malam-malam memukul samsak tinju dengan berkali-kali sambil menyebut nama itu."
Juan Mahardika mengerutkan keningnya saat mendengar Henry bercerita tentang Jonny Evans. Hanya menebak kemungkinan cinta pertama itu sangat sulit untuk dihapus dari pikiran. Walau sudah berpuluh kali menyakiti tetap sering hadir di hati.
"Apakah waktu itu malam Jum'at?" tanya Juan Mahardika teringat bulan lalu adalah hari lahirnya Jonny Evans.
"Benar, Tuan."
"Apakah Kris masih selalu mengingat laki-laki yang pernah dipenjarakannya?"
__ADS_1
BERSAMBUNG