
Bukannya Juan Mahardika marah, justru memberikan jempol kepada Elfa. Saat wanita itu berteriak, Juan Mahardika hanya memberikan kode kepada dua pengawal. Untuk bisa mengatasi wanita yang terlihat emosi.
"Ayo kita keluar dari sini!" Juan Mahardika langsung menggenggam tangan Elfa ke luar dari gerai makanan khas Belanda.
"Akak kenal wanita seksi tadi?"
"Tidak, lain kali jangan cuma di jegal. Di sleding saja."
"Ini di negeri orang, Akak."
"Tidak masalah yang penting Akak tidak berinteraksi dengan wanita yang aneh seperti itu."
"Aneh kata Akak, mengapa dulu Akak mau dengan mereka?"
"Itu dulu, sekarang Akak sudah tobat."
Saat Juan Mahardika dan Elfa meninggalkan tempat, dua pengawal dan Asisten Dwi Saputra sedang menghadang wanita seksi yang sedang emosi. Awalnya ingin mengejar tetapi setelah melihat dua wajah pengawal, nyali wanita itu langsung ciut.
"Ada apa, Nona?" tanya salah satu Pengawal.
"Tidak ada apa-apa, Tuan. Saya kira mengenal sepasang suami istri yang baru saja meninggalkan tempat ini," jawab Wanita seksi itu sambil melirik Asisten Dwi Saputra.
Asisten Dwi Saputra terdiam sambil melihat gerak-gerik dan gestur tubuh wanita seksi itu. Wajah wanita itu rasanya tidak asing dan pernah dilihatnya. Rambut hitam, mata coklat, badan kurus seperti kebanyakan wanita yaang berasal dari Asia.
Wanita seperti itu dulu yang menjadi tipe Juan Mahardika. Asisten Dwi Saputra jarang mengenal satu per satu dari mereka yang pernah dikencani oleh tuannya. Sebagian besar hanya akan berkencan sekali saja dan langsung berganti.
"Apakah Anda mengenal pasangan suami istri tadi?" tanya Pengawal satu lagi.
"Mungkin saya salah, Tuan. Orang yang saya kenal belum menikah."
"Ok baiklah, kami permisi."
"Silakan."
__ADS_1
Hanya dalam waktu sepuluh menit, Asisten Dwi Saputra dan dua pengawal sudah berjalan di belakang Juan Mahardika. Berjalan seolah tidak pernah terjadi sesuatu. Tetap berjalan sambil mengawasi siapa saja yang berada di sekitar tuannya.
Hari keempat Juan Mahardika berpindah ke negara yang satu wilayah dengan Belanda yaitu Eropa Barat. Berangkat ke negara Swiss dengan penerbangan malam hari. Ada barang tekstil yang dikirim ke negara yang terkenal dengan pegunungan Alpen itu.
Elfa sangat antusias karena belum pernah mengunjungi negara ini. Dulu saat lulus SMA ingin berkuliah ke negara ini karena terkenal dengan negara yang paling nyaman bagi mahasiswa yang kuliah di Swiss. Hanya sayangnya terlalu jauh dari Indonesia dan tidak mendapat izin dari Mami Mitha.
Baru membaca profil dari negara Swiss saja, Elfa sangat menyukai negara yang akan dikunjungi. Terbersih, terindah, idaman bagi warga dunia, ternyaman bagi mahasiswa. Bayangan rumah impian di sana pasti akan sangat menyenangkan.
"Maaf ya, Sayang. di sini kita akan tinggal di apartemen saja."
"Di sini Akak tidak punya hotel?"
"Hanya ada satu perusahaan saja."
"Tidak apa-apa, Apartemen juga sudah cukup, El baru kali ini berkunjung ke sini."
Juan Mahardika hanya akan melakukan meeting satu kali dengan perusahaan cabang yang ada di Swiss. Memiliki apartemen pun baru satu minggu yang lalu membelinya. Apartemen khusus untuk istri tercinta, dulu saat ke sini hanya menginap di Hotel.
Juan Mahardika berangkat ke perusahaan bersama Asisten Dwi Saputra pukul sembilan pagi. Perusahaan itu tidak jauh dari apartemen yang di tempati. Hanya menggunakan mobil perusahaan kurang dari satu jam sudah sampai.
Elfa hanya berjalan-jalan di Jembatan Kapel Lucerne yang tidak jauh dari apartemen. Dengan menggunakan goegle map semua bisa dijangkau tanpa kendala. Mudah mengetahui seluk-beluk jalan yang rumit sekalipun.
Jembatan indah itu berada di tengah kota dan di tengah danau. Meskipun jembatan yang terbuat dari kayu, tetapi sangat kokoh dan sangat terawat. Dihiasi bunga yang sangat cantik di tambah angsa yang berenang ke sana dan kemari dengan riang.
Berdiri di pinggir jembatan sejauh mata memandang sangat terlihat cantik dan mempesona. Hati serasa sangat tenang dan damai tanpa beban. Sudah lama Elfa tidak merasakan damai seperti saat ini.
Benar dan terbukti semua apa yang diperintahkan Mami Mitha dan Papi Alfarizi. Bahagia yang dirasakan kini adalah sedikit paksaan dan firasat orang tua. Tidak ada kata lain selain mengucap syukur dan berdoa yang terbaik untuk orang tua.
Seolah Elfa sedang berdiri di jembatan titik balik dalam kehidupannya sendiri. Penderitaan yang di rasakan pada masa lalu seperti sudah di tinggal di belakang jembatan tempatnya saat ini berdiri. Yang ada hanya masa depan yang cerah secerah mentari pagi yang sangat memukau di depan mata.
Rasa damai, rasa bahagia kini terpatri dalam hati. Rasa sakit hati sudah sirna dan berganti cinta sejati. Hanya akan menyongsong masa depan gemilang berdua dengan orang terkasih.
Setelah dua jam berlalu, Juan Mahardika selesai meeting. Ingin segera pulang dan bertemu dengan istri tercinta. Menuju apartemen berdua dengan Asistern Dwi Saputra.
__ADS_1
Juan Mahardika tidak menemukan sang istri di apartemen. Tidak ada pesan apapun di ponsel. Memeriksa kamar, tidak ada tas dan identitas yang biasa tergeletak di meja.
Menghubungi menggunakan ponsel hanya suara dering saja. Walau tersambung, tetapi tidak diangkat oleh pemilik ponsel. Membuat Juan Mahardika panik sepanik-paniknya.
Berlari ke lobi apartemen dan bertanya kepada security yang tugas. Security tidak memperhatikan orang yang keluar kasuk apartemen. Apalagi penghuni baru, sebagian besar mereka tidak mengenal sama sekali.
Juan Mahardika mengulang mencari seluruh sudut apartemen di bantu Asisten Dwi Saputra. Hanya sayangnya, tidak menemukan istri tercinta di mana pun juga. Hati semakin khawatir dan bingung harus mencari ke mana.
"Dwi ...!" teriak Juan Mahardika.
"Apakah kamu tidak meminta security untuk menjaga apartemen?"
"Maaf saya lupa, saya teringat waktu di Belanda, Nona El tidak pernah ke luar sama sekali. Jadi saya pikir tidak perlu memerintahkan security untuk menjaga apartemen."
"Sekarang di mana mencari dia?"
"Apakah Nona El tidak berpamitan dengan Anda?"
"Tidak."
"Apakah ponselnya tidak aktif"
"Sudah aku hubungi berkali-kali, ponsel tersambung tetapi tidak diangkat."
Asisten Dwi Saputra mengerutkan keningnya berpikir dan memperkirakan di mana istri dari tuannya. Tidak mungkin akan pulang sendiri, kemungkinan pasti ke luar rumah karena bosan di apartemen sendiri. Ponsel tidak diangkat berarti mungkin tidak mendengar suara panggilan masuk.
"Dwi, katakan sesuatu, jangan bengong saja?"
"Sebentar, Tuan. Saya masih berpikir."
"Apakah perlu kita lapor polisi?"
"Jangan dulu, Tuan. Lebih baik kita cari sendiri terlebih dahulu. Anda Ada usul kita akan mencari ke mana?"
__ADS_1
"Ke mana ya, aku sendiri bingung?"