
Setelah Nanny Sofia membantu Elfa memberikan ASI pada twins baby bergantian. Mereka terlelap kembali pada waktu lebih dari sepertiga malam. Datang Juan Mahardika dengan sejuta harapan karena tahu betul jam seperti ini Elfa selesai melakukan ibadah malam.
Berniat memanfaatkan waktu saat buah hati tercinta terlelap. Masuk kamar dengan senyum yang mengembang, "Sa ...?" Juan Mahardika tidak melanjutkan ucapannya.
Mata langsung berkaca-kaca melihat tangan kiri istri tercinta dipasang selang infus. Tertidur pulas tidak mendengar ada yang masuk. Wajah terlihat pucat dan sayu karena kelelahan.
"Ya Allah apa yang terjadi, Sayang?" tanya Juan Mahardika mengusap lembut lengan Elfa.
Elfa tidak terbangun saat Juan Mahardika datang dan mengusap lengan. Berpindah masuk di ruang twins baby tertidur pulas dan di jaga dua pengasuh yang tidur di tempat tidur berdua. Wajah Nanny Sofia dan Bibi Suti terlihat lelah juga.
Juan Mardika langsung menuju ruang khusus tempat tim dokter bertugas. Ada satu dokter dan dua perawat yang masih terjaga. Mereka berbincang sambil membuat laporan untuk menghilangkan kantuk yang mendera.
"Dokter!" panggil Juan Mahardika.
"Tuan ...?" Dokter Emy langsung berdiri dan membungkuk hormat.
"Apa yang terjadi?" tanya Juan Mahardika dengan emosi.
"Nyonya diare mulai dari tadi sore, takut kekurangan cairan jadi dipasang infus untuk menstabilkan cairan tubuh Nyonya El, Tuan."
__ADS_1
"Mengapa tidak ada yang menghubungi saya atau dibawa ke rumah sakit?"
"Maaf, Tuan. Kami dilarang menghubungi Anda, Nyonya juga tidak bersedia dirawat ke rumah sakit."
"Bagaimana dengan diarenya sekarang?"
"Sudah tidak diare lagi, Tuan. Isyaallah setelah botol infus yang dipasang habis, tidak perlu dipasang lagi."
"Apakah mereka baru saja tertidur?"
"Betul, Tuan. Baby Zi dan Baby Za pukul tiga tadi terbangun dan Nyonya El memberikan ASI secara bergantian, kemudian tertidur lagi."
"Maafkan Akak, Sayang. Mengapa tidak bilang dari sore?" monolognya sendiri.
Juan Mahardika berbaring di samping Elfa, miring menghadap Elfa yang tidur terlentang. Memandang wajah yang terlihat sayu dan sedikit pucat. Bisa membayangkan rasa capek dan lelah harus mengurus dua bayi dan badan kurang fit.
Mata semakin berkaca-kaca saat melihat tangan ada jarum infus yang menancap. Sakit yang tidak dirasa demi buah hati tercinta tetap mendapatkan ASI yang cukup, "Maafkan Akak." Juan Mahardika memeluk pinggang Elfa yang masih memejamkan mata.
Juan Mahardika ikut terlelap sambil memeluk Elfa. Tidak dipungkiri perjalanan jauh membuat badan terasa lelah. Hanya sayangnya seolah baru sekejap terlelap azan mulai berkumandang, mata kembali terjaga istri tercinta belum juga terbangun.
__ADS_1
Juan Mahardika mencium pipi dan bibir Elfa sekilas, "Sudah pagi, Sayang."
Elfa mengerjapkan mata sudah ada suami tercinta berbaring di samping, "Akak ...?" Elfa mencoba untuk bangun.
"Jangan bangun dulu, sebentar Akak bantu!"
Juan Mahardika turun dari tempat tidur, dan membantu Elfa bangun sambil memeluknya, "Apa yang dirasakan sekarang?"
"El baik-baik saja, Akak."
"Mengapa tidak bilang kalau El sakit?"
"El hanya lemas sedikit aja, Akak."
"Lain kali El jangan menyembunyikan apapun itu, Akak tidak ingin terjadi sesuatu pada El, untung Akak tidak mengamuk tadi malam melihat El dipasang infus."
"El tidak ingin Akak khawatir, dan maaf Akak belum bisa buka puasa sekarang," canda Elfa sambil mengedipkan mata.
BERSAMBUNG
__ADS_1