
Elfa langsung memandang Juan Mahardika dengan bingung, "Apa maksudnya itu, Akak?" tanya Elfa sambil menunjuk layar televisi.
"Lihat saja dulu, Sayang. Nanti kalau sudah selesai nobar pasti El akan faham."
"Baiklah."
Netra Elfa kembali melihat layar televisi saat Doker Yohan Carnett berteriak, "Ke mana para security?"
Dua security berlari masuk pintu utama dengan membuka mulut karena kaget. Tidak hanya taman kecil yang berantakan, tetapi ruang tamu terlihat berantakan lebih parah lagi, "Maafkan kami, Tuan. Kami juga tidak tahu tiba-tiba kami terlelap tadi malam padahal kami sedang main catur." Salah satu security melapor dan security yang satu lagi masih terpaku di depan pintu.
"Cepat panggil polisi sekarang, Pak!" perintah salah satu Dokter yang berdiri sambil memperhatikan ruangan yang sudah porak poranda.
"Jangan dulu, nanti malah panjang urusannya!" larang Dokter Yohan Carnett.
"Harus kita laporkan, ini masalah besar!"
"Jangan dulu sampai istriku ditemukan!"
"Siapa yang belum di temukan, Tuan?" tanya Security.
"Istriku, cepat kalian cari!"
"Siap, Tuan."
Semua dokter dan para istri ikut mencari di sekitar dapur, kamar mandi dan ruang makan. Dokter Yohan Carnett masuk kamar mencari istrinya di dalam. Tidak kurang dari lima menit mereka kembali hampir bersamaan.
Dua security membawa sepasang sepatu milik istri Dokter Yohan Carnett. Sepatu itu yang sebelah kiri terlihat kotor terkena tanah. Dan sepatu sebelah kanan masih bersih tetapi tali sepatunya terurai hampir terlepas.
"Tuan Yohan, kami menemukan sepatu istri Anda di taman yang berantakan seperti bekas perkelahian."
Dokter Yohan Carnett berlari mendekati dan mengambil sepatu dari tangan security. Diamati dengan seksama kondisi sepatu yang sudah tidak seperti semula. Teringat betul jika sepatu sang istri baru saja di cuci dan baru sekali dipakai.
Dokter dan para istri berlari ikut melihat sepatu milik istri Dokter Yohan Carnett. Keadaan yang terlihat kotor dan berantakan kemungkinan terjadi sesuatu yang buruk, "Apa mungkin istri Anda melawan perampok yang sedang masuk resort ini, Dok?" tanya salah satu Dokter yang mengamati sepatu.
"Benar ini, kemungkinan ada penculikan."
"Berarti istri Anda di culik oleh orang yang tidak dikenal, Dok."
"Pak Security cepat panggil polisi!" perintah Dokter yang lain.
__ADS_1
"Siap, Tuan."
Salah satu security menghubungi polisi menggunakan ponselnya. Tidak sampai lima menit ponsel sudah dimatikan. Penjaga resort itu berbicara dengan bahasa bali dan tidak diketahui artinya oleh para dokter dan istri mereka.
"Apakah kamu sudah melapor polisi, Pak?" tanya salah satu istri dokter.
"Sudah, Nyonya. Saya menghubungi polisi yang ada di dekat resort ini."
Para dokter dan istri mereka hanya berdiri di depan pintu utama tanpa berani memegang apapun. Menunggu polisi datang dengan membicarakan hanya satu orang yang tidak diketahui keberadaanya. Wajah mereka terlihat cemas dan bingung karena tidak ada yang tahu apa yang terjadi.
Hanya dalam waktu sepuluh menit datang dua petugas polisi menggunakan seragam lengkap, "Permisi, ada yang melaporkan penculikan dan perampokan," kata Polisi yang notabene teman Juan Mahardika.
"Anggota kami tidak ada satu, Pak. Istri dari Dokter Yohan Carnett yang menghilang. Kami menemukan sepatu dia di taman depan resort tadi," cerita salah satu Dokter melapor.
"Baik, akan kami selidiki sebentar. Anda semua jangan ikut masuk dulu sampai penyelidikan selesai!"
"Baik, Pak."
Dua polisi memperhatikan ruang tamu dengan seksama sambil berjalan mengelilingi ruangan. Polisi teman Juan Mahardika berhenti tepat di depan pintu kamar utama. Mengambil satu anting yang tadi malam sengaja di jatuhkan.
"Ada yang mengenali anting ini milik siapa?"
Dokter Yohan Carnett mendekati tangan polisi dan memperhatikan anting dengan teliti, "Itu anting milik istri saya, Pak."
Dengan spontan Elfa dan Rena maju mendekati layar televisi. Keduanya saling pandang dan kembali memperhatikan satu anting yang dipegang oleh polisi, "Apakah Rey mengenali anting itu?" tanya Elfa.
"Itu anting milik Kris, jadi ...?" Rena tidak jadi melanjutkan ucapannya sambil menutup mulut, matanya beerkaca-kaca ingin menangis.
"Rey, sini duduk kembali, kita lihat lagi dulu!" perintah Asisten Dwi Saputra.
"Sayang, apakah El tidak mengenali sepatu yang dipegang oleh security itu?"
"Tidak, Akak. El hanya mengenal anting itu mirip punya Kris," jawab Elfa sambil duduk kembali di samping Juan Mahardika.
Mereka kembali melihat layar televisi, di sana polisi teman Juan Mahardika menerangkan penyelidikan sementara. Jika dilihat sekilas diduga satu orang bertarung melawan lebih dari empat orang. Ada perlawanan yang sangat sengit dari satu orang itu sampai ruang tamu berantakan.
"Jadi kesimpulan Anda bagaimana, Pak?" tanya Dokter Yohan Carnett.
"Kemungkinan satu orang itu kalah melawan lebih dari empat orang."
__ADS_1
"Berarti mereka kemungkinan membawa istri saya, Pak?"
"Itu baru prediksi kami, apakah di sini ada CCTV?"
Dua secutity yang menjawab bersamaan, "Ada di sebelah sana, mari ikut kami, Pak!"
Hanya sayangnya CCTV yang dipasang oleh polisi teman Juan Mahardika hanya di ruang tamu saja. Sehingga saat mereka semua ke ruang kendali CCTV yang ada di ujung kamar. Tidak bisa lagi dilihat di layar televisi, yang ada hanya ruang tamu yang sepi tanpa ada orang.
Juan Mahardika mengusap pipi Elfa, "Tunggu sebentar, Sayang ya!"
"Apa lagi, Akak?"
"Dwi, coba kamu putar ulang vedio tadi malam!"
"Baik, Tuan."
Asisten Dwi Saputra memutar kembali Vedio aksi polisi dan anak buah sendiri. Hanya di putar tanpa suara dan sedikit dipercepat. Mata Elfa dan Rena tanpa berkedip saat melihat wanita yang tidur dibawah tanpa selimut.
Semakin tercengang saat melihat kaki yang ada banyak luka. Sampai membuka mulut karena hampir tidak percaya saat mulai menydari wanita hamil itu. Di selimuti dan diberikan obat tidur di mulut, mata Elfa merembes dan mengalir tanpa henti.
Rena sampai menjerit dan mengeluarkan kata kasar karena kesal, "Brengsek, ada apa ini, Kris!" teriaknya.
Elfa semakinn tergugu saat wanita hamil itu di tandu ke luar resort dalam keadaan terpejam, lemah dan penuh luka, "Akak, itu Kris. di mana dia sekarang?" tangisnya semakin menjadi saat Elfa masuk dalam pelukan Juan Mahardika.
"Tenang dulu, Sayang, Kris sekarang sudah aman." Juan Mahardika memeluk Elfa semakin erat.
"Di mana dia, Aa, di mana Kris?" Tidak kalah tersedu Rena menangis histeris.
"Ayo ikut, Akak!"
Sambil masih di rangkul suami masing-masing, mereka membuka pintu kamar tamu perlahan, Bersamaan Rena dan Elfa berteriak sambil menangis mendekati tempat tidur, "Bangun, Kris. cepat bangun!" teriak Rena sambil menggoyangkan tubuh Kris yang sama sekali tidak bergerak.
"Akak, apa yang terjadi dengan Kris?"
BERSAMBUNG
Yok mampir di novel teman yang rekomen banget ini
__ADS_1