
Hampir dua jam Juan Maharika merayu Elfa agar mau diajak beraksi. Pasalnya sudah hampir satu bulan ini sebelum tidur selalu rutin mengajak istri beraksi. Malam ini tidak bisa tidur karena pusaka bumerang terus berontak dan ingin mengajak beraksi.
"Sayang, Akak tidak bisa tidur," kata Juan Mahardika memeluk Elfa dari belakang saat sang istri sedang tidur membelakanginya.
"Mengapa tidak bisa tidur, tinggal memejamkan mata saja, Akak?"
"Bagaimana bisa tidur? ini coba pegang pusaka bumerang berontak meminta untuk beraksi seperti biasa sebelum tidur!"
"Akak ini masih di hukum, mana bisa pusaka bumeang beraksi?"
"Tolong diberikan kompensasi dong, Sayang. Kalau Akak tidak bisa tidur sampai pagi bagaimana?"
"Memangnya apa minta kompensasi segala?"
"Ayolah please, ini pusaka bumerang Akak sudah berontak terus!"
"Akak ini!"
Elfa berbalik badan menghadap Juan Mahardika yang menunjukkan senyumnya yang paling menawan. Disertai dengan kedipan mata yang menggoda sambil menggosokkan pusaka bumerang yang sudah terbangun sempurna.
Elfa mendorong Juan Mahardika sampai dia tidur dengan tidak miring lagi. Bergegas Elfa berada di atas suami yang sudah menghadap atas tetapi tidak menyentuh sedikit pun. Hanya memandang wajah suami dari posisi atas sambil menunjukkan wajah yang di tekuk dan menahan rasa.
Dengan cepat Juan Mahardika menarik Elfa dalam pelukan, "Love you, Garwoku. Boleh cemburu, tetapi jangan hukum lagi seperti ini, Akak tidak kuat!"
Elfa tidak menjawab ucapan Juan Mahardika. Kali ini Elfa lah yang beraksi bergerilya. Sang suami hanya menikmati dan membalas pun hanya sesekali saja.
Ternyata setali tiga uang karena Elfa juga tidak bisa tidur. Dari tadi dirayu masih bertahan karena masih kesal dan gengsi. Setelah di gesek pusaka bumerang yang terbangun sempurna pertahanan akhirnya luluh juga.
Sampai di puncak nirwana, permainan dikuasi oleh Elfa. Tidak menyangka Elfa seperti sedang balas dendam karena telah terbakar cemburu wanita yang bernama Magdalena.
Juan Mahardika hanya tersenyum simpul tidak berkomentar apa pun. Masih menikmati aksi sang istri yang mulai pandai beraksi. Walau sudah berakhir dan terbaring di sampingnya, tetapi rasa itu seolah masih dirasakan.
Bibir Juan Mahardika tersenyum simpul sambil memejamkan mata. Pertama kali merasakan aksi istri yang sangat membuat hati terkesan. Indahnya tidak bisa di lukiskan dengan kata-kata.
Elfa merasa malu saat melihat Juan Mahardika tersenyum sambil memejamkan mata. Rasa cemburu mendorong hati kesal dengan beraksi lebih dari biasanya. Padahal setelah selesai beraksi merasa malu sendiri.
"Ngapain Akak tersenyum sendiri begitu?" tanya Elfa pura-pura tenang dan menguasai hati.
"Tidak apa-apa, Sayang. Akak sangat bahagia, terima kasih."
__ADS_1
Elfa tidak melanjutkan bertanya, akan panjang ceritanya nanti. Atau akan meminta tambah ke ronde kedua jika di teruskan. Lebih baik menarik selimut dan memejamkam mata mencoba untuk tidur.
Saat sarapan pagi, Juan Mahardika menyuapi Elfa masih sesekali tersenyum simpul. Aksi sang istri tadi malam sangat membuat terkesan. Seolah aksi itu masih terasa sampai kini.
Elfa selalu melihat suami yang terlihat sangat bahagia. Senyum sendiri sambil memejamkan mata berkali-kali. Wajahnya cerah secerah mentari pagi yang baru saja bersinar.
"Akak, mengapa senyum-senyum sendiri begitu?"
"Akak sangat bahagia, Sayang. Terima kasih banyak aksi tadi malam."
"Tidak usah dibahas, bikin malu saja!"
"Sangat terkesan sekali sampai sekarang masih terasa, Sayang."
"Akak suka?"
"Sangat, sekarang begitu lagi Akak mau. Yok lagi!"
"Enak aja, wani piro?"
"Demi apa pun, Akak mau!"
"Baiklah, kita berangkat pagi saja ya, setelah sarapan!"
"Hhmm."
Sarapan satu piring berdua, minum susu juga satu gelas berdua. Elfa sudah terbiasa di manja dan di layani. Hanya duduk manis perut kenyang tanpa harus susah-susah menggerakkan tangan,
"Kita berangkat sekarang!"
"El ambil tas dan ponsel dulu."
"Akak tunggu di sini!"
Mengambil tas dan ponsel ke kamar yang jaraknya tidak ada lima meter. Seharusnya tidak kurang dari sepuluh menit sudah kembali. Namun, Setelah seperempat jam berlalu, Elfa tidak kunjung ke luar kamar.
Awalnya Juan Mahardika tidak menyadari ketika Elfa tidak muncul. Juan Mahardika sedang asyik memeriksa email yang dikirim oleh Asisten Dwi Saputra. Setelah setengah jam berlalu, suami Elfa itu baru menyadari jika Elfa sangat lama di kamar.
"Mengapa mengambil tas dan ponsel sampai setengah jam sih, Sayang?" tanya Juan Mahardika sendiri sambil berlari menuju kamar.
__ADS_1
Membuka pintu kamar dengan keras karena sangat khawatir. Melihat Elfa sedang nungging di atas tempat tidur sambil memegangi perutnya. Wajahnya di benamkan di bantal sambil terdengar suara mulut yang mendesis menahan sakit.
"Sayang, ada apa?"
"Perut El sakit," jawab Elfa sambil menahan nyeri.
"Coba posisinya yang betul dulu, Akak lihat!"
Elfa tidur miring sambil menekuk lutut meringkuk sambil memegangi perutnya. Memilih memejamkan mata untuk menahan sakit dan nyeri pinggang. Setiap bulan pasti akan merasakan nyeri sebelum tamu bulanan datang.
"Sayang, apa yang terjadi?" Juan Mahardika masih bingung dan tidak tahu apa yang terjadi dengan sang istri.
"Akak, diam dulu jangan bertanya terus. Pinggang dan perut El sakit karena akan ada tamu bulanan yang datang."
"Ooo ...!" Awalnya Juan Mahardika hanya membulatkan mulutnya saat Elfa mengatakan akan ada tamu bulanan yang akan datang. Saat teringat Mami Mitha dulu pernah mengatakan akan sembuh setelah dibuatkan jamu oleh Bude Marmi. Mantan casanova itu kembali panik dan bingung.
"Sayang, apa yang bisa membuat sakitnya hilang selain jamu dari Bude Marmi?"
Ada banyak jamu kemasan pereda nyeri haid yang di jual bebas di pasaran. Bahkan di setiap supermarket kecil pun ada. Hanya sayangnya di jual di supermarket yang ada di Indonesia.
Sekarang ini berada di negeri orang yaitu Italia. Saat di Riyadh saja Elfa jarang menemui produk itu. Biasanya selalu membawa dari Indonesia sekiranya akan tinggal lama di sana.
"Ada yang jual, Akak."
"Di mana?"
"Supermarket Asia, atau apotek besar."
Juan Mahardika berjalan mondar-mandir sambil mencari informasi di goegle. Supermarket sangat jauh dari apartemen. Bisa di tempuh dua jam perjalanan pulang pergi. Ada di apotek jual obat mereda nyeri haid, tetapi berupa pil bukan jamu.
"Sayang, adanya pil pereda nyeri haid yang di jual di apotek. Apakah El mau?"
Elfa terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Juan Mahardika. Elfa terfokus karena suaminya itu bingung dan panik. Padahal, sakit dan nyeri itu datang sebelum haid itu keluar, jika sudah keluar akan hilang sendirinya.
"Sayang, apakah sakit sekali?" Elfa hanya menjawab dengan menggelengkan kepala.
Juan Mahardika mengusap lembut perut dan pinggang Elfa bagian belakang, "Kita ke rumah sakit saja ya?"
"Tidak perlu, Akak," jawab Elfa sambil meringis.
__ADS_1
Juan Mahardika semakin panik melihat Elfa seperti sangat kesakitan, "El kesakitan begitu kok, Akak panggil ambulance ya?"