Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 108. Pasar Tradisional


__ADS_3

Elfa memandang wajah wanita yang baru saja masuk dengan lekat. Wajahnya berkeringat ditambah napas yang memburu seperti habis dikejar orang. Umur wanita itu kemungkinan di atas empat puluh tahun.


Elfa tidak jadi marah kepada Juan Mahardika karena kemungkinan mereka tidak saling kenal. Dengan menggunakan bahasa Belanda wanita itu terus mengatakan maaf dan meminta bantuan.


Juan Mahardika yang maju dan bertanya kepada wanita itu karena hanya Juan Mahardika yang bisa berbahasa Belanda. Elfa hanya bisa berbahasa Inggris dan sedikit bahasa Arab.


Juan Mahardika bergegas memanggil kepala security hotel dan manajer restoran. Walau waktu sudah malam, jika ada pemilik hotel datang sebagian besar kepala bagian akan stanbye. Tidak hanya dua orang yang datang, manajer hotel juga datang untuk mengatasi masalah wanita yang masuk tanpa permisi.


"Kalian urus dan bantu wanita itu!" perintah Juan Mahardika.


"Siap, Tuan."


Juan Mahardika mengulurkan tangan pada Elfa, "Mau dilanjut dansa atau kita lanjut di kamar?"


"Ke kamar saja, El ngantuk."


"Ayo kita ke kamar!" Juan Mahardika mengedipkan mata, pikirannya sudah mengarah beraksi.


"Jangan berpikir macam-macam!"


"Akak tidak berpikir macam-macam, Sayang. Akak hanya mikir satu macam saja yaitu melanjutkan tadi siang, Akak sudah tidak sabar lagi."


Malam itu Juan Mahardika melanjutkan niatan beraksi pengganti saat makan siang. Hanya sekali saja tanpa melanjutkan ronde kedua. Membiarkan Elfa untuk beristirahat setelah beraksi dan tidak ingin Elfa terlalu lelah.


Pagi hari ini Juan Mahardika meeting di perusahaan. Perusahaan itu ditempuh tiga jam perjalanan. Terpaksa meninggalkan Elfa sendirian di hotel karena tidak ingin membuat Elfa kecapean.


"Kalau El bosan di kamar, boleh jalan ke mall atau belanja. Nanti ada pegawai yang berasal dari Indonesia yang akan ditugaskan khusus mengawal El ke mana saja yang El mau," pamit Juan Mahardika sebelum berangkat.


"Iya, lihat nanti."


"Akak berangkat."


"Hati-hati, ingat jangan diladeni kalau bertemu dengan wanita masa lalu!"


"Tentu, Akak akan memakai masker saja."

__ADS_1


Sampai tengah hari, El masih enggan ke luar kamar. Memilih bersantai dan chatting dengan dua sahabat. vedio call dengan Mami Mitha bercerita tentang perjalanan bisnis dan bulan madu.


Berkali-kali Juan Mahardika mengirim pesan menanyakan posisi Elfa. Karena Elfa tidak ke luar kamar sama sekali sampai istirahat siang, Juan Mahardika memutuskan kembali ke hotel sebelum maka siang. Memerintahkan Asisten Dwi Saputra melanjutkan meeting karena tinggal menindaklanjuti saja dan point penting sudah disepakati.


Elfa sedang berada di balkon kamar hotel sambil memandang kota Amsterdam saat Juan Mahardika datang. Langsung memeluk Elfa dari belakang dan mencium tengkuk berkali-kali, "Mengapa tidak ke luar untuk belanja atau ke salon misalnya?"


"Malas, El sudah bosan belanja. El sudah tiga kali wisata ke sini jadi sudah bosan."


"Lebih baik kita menghabiskan waktu berdua di kamar aja kalau gitu."


"Eee, yang ada nanti Akak modus terus. Ogah ah!"


"Jadi mau apa dong?"


"Akak mandi aja dulu, nanti antar El ke ke pasar tradisional."


Juan Mahardika hanya tersenyum simpul, sebagian wanita di luar sana pasti akan lapar mata dan akan belanja apa saja yang dilihat. Tidak dengan Elfa, tidak mau belanja ke mall, tidak mau menghabiskan waktu ke salon. Malas juga untuk berwisata ke tempat terkenal yang ada di sekitar hotel.


"Mau ngapain?"


"El ingin tahu pasar tradisional di sini, itu yang belum pernah El kunjungi saat ke sini."


Mulai dari sayuran, daging, pakaian, sovenir, kue dan masih banyak lagi dijajakan secara terbuka. Bisa tawar menawar juga selayaknya pasar tradisional. Bahkan, ada banyak makanan dari berbagai negara juga dijajakan di pasar ini.


"Sayang, mau mencari apa, sih?" tanya Juan Mahardika setelah hampir setengah pasar di telusuri.


"El mau lihat-lihat dulu, Akak. Belum ada yang tertarik."


Ada satu deret panjang gerai makanan tradisional yang dijajakan para pedagang pasar, "Akak, El mau mencicipi makanan tradisional itu!"


"Apa yang pertama di coba, ingat dilihat dulu komposisinya?"


"Iya."


Elfa berjalan perlahan sampai di gerai penjual makanan seperti wafel tipis dan ada isian ditengahnya. Elfa membaca dengan nama stroopwafels. wafel tipis bertekstur renyah berisi karamel manis dengan harga terjangkau.

__ADS_1


"Itu stroopwafels namanya, El mau Akak belikan?"


Elfa mengangguk dan mendekati gerai. Juan Mahardika yang berkomunikasi dengan bahasa Belanda. Elfa menikmati renyahnya stroopwafels yang renyah dan manis sambil melihat-lihat lagi makanan yang lain. Elfa berhenti di gerai pedagang yang menjual ikan yang masih mentah ditata rapi.


Gerai itu bertuliskan Hollandse Nieuwe Haring. Menjual ikan yang berasal dari ikan haring mentah yang disajikan dengan acar, bawang dan roti. Elfa hanya melihat dengan terpaku saat penduduk asli sedang menikmati ikan mentah itu.


"El mau itu?" tanya Juan Mahardika sambil berbisik di telinga.


"Tidak, El geli melihat cara makan mereka."


Juan Mahardika bercerita tentang fakta menarik dari makanan ini cuma ada saat bulan Mei sampai Juli. Hal itu karena ikan jenis ini hanya ditangkap pada bulan tersebut. Cara makannya pun unik, dari ikan mentah, pegang ekornya, kemudian langsung lahap.


"Apa rasanya, Akak?"


"Sama rasanya kayak makan susi kalau di Jepang, segar dan enak bagi yang doyan."


"Akak pernah makan?"


"Pernah dulu sekali."


"Ayo kita lanjut aja, El geli melihat cara makannya."


Elfa melanjutkan mencari kuliner yang unik lainnya. Berhenti di salah satu gerai yang bertuliskan Frikandel. Sosis panjang tanpa kulit yang terbuat dari daging sapi atau ayam cincang, mirip bergedel dari Indonesia. 


Sosis Frikandel kerap dijajakan selama hari libur nasional dengan bendera merah putih biru dengan kentang goreng. Disajikan dengan bawang mentah, saus tomat, dan mayones. 


"El mau itu saja, Akak!"


"Mau berapa?"


"Dua saja."


Sedang asyik menikmati makanan yang rasanya gurih dan pedas manis dari saos. Ada wanita yang berlari dri kejauhan sambil merentangkan tangan, "My honey, Juan!" teriaknya.


Wanita itu melewati El yang sedang makan Frikandel dengan berdiri. Dengan sengaja memajukan sedikit lututnya mengenai wanita yang tidak melihat kanan kiri saat berlari. Yang awalnya akan mendekati Juan Mahardika, wanita itu berbelok tanpa terkendali menuju arah Asisten Dwi Saputra yang berdiri melihat arah lain.

__ADS_1


Langsung memeluk Asisten Dwi Saputra dari samping. Membuat sang asisten tersentak kaget, "Aauw!"


"Sorry, Sir." Wanita itu melepas pelukan Asisten Dwi Saputra dan berbalik badan memandang Elfa yang menahan tawa, "Hai you ...!" teriaknya.


__ADS_2