Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 39. Selera Berondong


__ADS_3

Juan Mahardika semakin mengeratkan pelukannya, "Katakan dulu apa yang kamu lakukan pada pusaka milikku?"


Elfa tergelak dan terus berusaha melepaskan diri dari pelukan Juan Mahardika. Tidak menjawab pertanyaan itu dan terus berusaha melepaskan diri. Hanya sayangnya, Juan Mahardika semakin erat memeluk Elfa.


"Kamu tidak mungkin lepas dari sini kali ini, cepat katakan!" Juan Mahardika semakin percaya diri karena Elfa tidak bisa bergerak sama sekali.


Belum sempat Elfa menjawab, Ada suara teriakan dari luar pintu toilet. Suara lembut Mami Mitha terdengar tidak jauh dari pintu, "El, kamu di mana, Nak?"


Elfa semakin tergelak mendengar suara Mami Mitha. Bisa menebak jika Mami masuk dan melihat yang dilakukan Juan Mahardika. Pasti akan terjadi perang Baratayuda.


"Silahkan saja memaksa lagi, kalau ingin menjadi bergedel di tangan Papi, cepat mundur!" perintah Elfa dengan tegas.


Kembali Mami Mitha berteriak dari luar pintu toilet, "El, apakah kamu ada di dalam?"


"Iya Mami, El ada di dalam!" teriak Elfa.


Dengan spontan Juan Mahardika mundur dan berdiri dibalik pintu. Bingung dan serba salah mendengare Elfa berteriak dan mengancam. Sekarang ini Juan Mahardika dalam posisi yang kurang menguntungkan karena berada di toilet wanita.


"Mami, El keluar tunggu saja di situ!" teriak Elfa sambil melihat Juan Mahardika yang terpaku.


Sambil tersenyum penuh kemenangan Elfa melenggang pergi. Berhasil membuat laki-laki itu penasaran dan tidak mendapatkan jawaban. Berniat tidak akan mengatakan apapun dan akan menjadi rahasia sendiri saja.


"Brengsek, kurang sedikit lagi!" teriak Juan Mahardika menunduk memandang pusaka yang masih terbangun sempurna.


Yang dirasakan saat mendekap Elfa, sama seperti kemarin saat wisuda. Hanya bedanya sekarang Juan Mahardika terpecah konsentrasi karena ada suara Mami Mitha. Seperti melakukan perjalanan baru sampai setengah jalan saja, tetapi dibatalkan dengan mendadak.

__ADS_1


Belum sempat mengalami pelepasan dan belum merasa puas. Saat diperintahkan untuk mundur oleh Elfa, pikiran hanya berada di tengah antara dua kaki. Pikiran terpecah ke Elfa dan ke bawah, sehingga saat Elfa melenggang ke luar toilet masih bingung dan tercengang.


"Mengapa kamu sampai sekarang masih menegang, kamu memang tidak pernah nurut sama aku ya, kamu sama brengseknya dengan gadis itu, selalu membuat aku frustasi dan kesal," kata Juan Mahardika sendiri sambil menunduk ke bawah.


Perlahan kembali tertidur pusaka itu setelah dimarahi pemiliknya. Bergegas Juan Mahardika keluar dan kembali masuk kantor Uncle Marcellino. Tidak ingin diketahui oleh paman pemilik show room mobil dari toilet wanita.


Mata Juan Mahardika masih jelalatan mencari Elfa dan kedua orang tua. Juan Mahardika hanya mendengar samar-samar suara Elfa dan kedua orang tua berpamitan dengan Uncle Marcellino. Suara mereka berada di pintu keluar show room.


Setelah persitiwa pertemuan di show room milik keluarga. Juan Mahardika mulai menyadari satu hal tentang pusaka miliknya. Tidak pernah bangun dan ingin beraksi pada siapapun hanya dengan Elfa saja.


Sedangkan Elfa langsung melajukan mobil barunya menuju Bogor. Dua hari lagi ulang tahun putri Alfian Alfarizi yaitu Arshiya Intan Zulkarnain. Membawa kado pesanan Ar dari Riyadh yang sudah lama diinginkan.


Elfa ke Bogor sendirian, sedangkan Papi Alfarizi dan Mami Mitha kembali ke Bekasi. Elfa harus menjemput putra Bibi Asih yaitu Raffa Ramadhan. Pemuda tanggung itu seumuran dengan Alashraf yang kini duduk di bangku akhir SMA. Sedangkan Ar baru duduk di pertengahan SMP.


"Ada lah, tidak mungkin Kak El melupakan pesanan Raffa, itu ada di dalam tas coba kamu ambil sendiri!"


Elfa membelikan Raffa jam tangan bermerk seperti yang diinginkan. Dengan riang Raffa langsung memakai jam tangan itu pergelangan tangan, "Terima kasih, Kak."


"Sama-sama."


Sampai di rumah makan padang yang ada di pinggir jalan, Elfa langsung belok dan parkir. Dengan mata berbinar Raffa kembali berjingkrak kegirangan. Pemuda sederhana itu sangat memfavoritkan nasi padang dari kecil.


"Kita mau makan di sini, Kak?"


"Iya, Kak El lapar banget."

__ADS_1


Elfa turun dari mobil dan berjalan menggandeng Raffa. Jika dilihat sekilas keduanya seperti pacaran karena terlihat mesra. Tanpa diduga ada Asisten Dwi Saputra sedang meeting dengan Klien tanpa Juan Mahardika.


Dengan cepat Asisten Dwi Saputra langsung mengambil Vedio Elfa menggandeng Raffa. Hanya sekitar beberapa menit saja mengambil vedio. Setelah sampai depan etalase Elfa melepaskan tautan tangan dan memilih menu pesanan.


Vedio langsung dikirim ke Juan Mahardika dengan ditambah tulisan pesan WA, "Ternyata selera Nona Elfa berondong, Tuan."


Sambil bercanda dan menikmati nikmatnya nasi padang. Elfa dan Raffa terlihat akrab dan dekat. Asisten Dwi Saputra hanya bisa mengambil  foto mereka secara diam-diam. Tidak bisa mengambil vedio lagi karena jarak dan takut ketahuan.


Hampir satu jam Elfa dan Raffa duduk, menikmati menu nasi padang. Mereka juga membahas rencana Raffa meneruskan kuliah. Elfa menunjukkan referensi beberapa fakultas baik di dalam negeri atau di luar negeri.


Mencari informasi di laptop milik Elfa. Sehingga jika dilihat sekilas keduanya memang seperti sepasang kekasih. Tertawa, bercanda dan saling memperhatikan di antara keduanya.


Lebih dari dua puluh kali Asisten Dwi Saputra mengambil foto secara diam-diam. Langsung dikirim ke ponsel Juan Mahardika tanpa ditunda. Seolah seorang mata-mata yang sedang mengawasi sang kekasih berselingkuh.


Ada puluhan pertanyaan dari Juan Mahardika saat itu juga. Belum sempat Asisten Dwi Saputra menjawab ada lagi pertanyaan yang dikirim. Pesan yang dikirim oleh Juan Mahardika seolah seorang kekasih yang cemburu karena sang kekasih sedang selingkuh.


Juan Mahardika bertanya melalui pesana WA dari identitas pemuda yang bersama Elfa. Padahal Juan Mahardika tahu Asisten Dwi Saputra sedang meeting. Namun kembali bertanya hanya gara-gara ada Elfa bersama seorang pemuda.


Bertanya juga tentang pembicaraan Elfa dan pemuda itu. Hanya sayangnya suara percakapan tidak terdengar jelas karena ada suara musik yang menghentak. Disamping itu Elfa dan Raffa berbincang dengan suara pelan agar tidak mengganggu pengunjung yang lain.


Banyak pertanyaan yang belum bisa dijawab oleh sang asisten. Ada tullisan Juan Mahardika yang berniat ingin menghubungi langsung melalui ponsel. Namun, Asisten Dwi Saputra melarang dengan alasan takut ketahuan.


Berkali-kali Asisten Dwi Saputra menjawab dengan jawaban sabar dulu dan jangan terburu-buru. Terus saja pertanyaan dikirm lagi dan lagi tanpa berhenti. Karena Asisten Dwi Saputra menjawab dengan jawaban yang sama berkali-kali, dengan tidak sabar Juan Mahardika mengirim pesan WA lagi, "Aku ke sana sekarang!"


Dengan spontan dan tanpa sadar Asisten Dwi Saputra dengan menjawab, "Tuan, tunggu dulu!" teriaknya. 

__ADS_1


__ADS_2