
Juan Maharika hanya mengerutkan keningnya melihat wajah wanita hamil yang tertidur pulas di kamar tamu. Wajahnya yang dulu bersih dan mulus kini terlihat kusam karena banyak jerawat dan tidak terawat. Wajahnya yang dulu berseri dan selalu ceria kini pucat pasi.
"Apa yang terjadi jika El tahu tentang ini?" tanya Juan Mahardika masih memandangnya.
"Benar sekali, Tuan. Pasti Rey juga akan marah besar."
Yang terakhir datang ke resort Juan Mahardika adalah polisi. Berlari masuk kamar berdiri antara Juan Mahadrika dan Asisten Dwi Saputra, "Bro, ini kamera CCTV yang baru aku pasang di resort yang disewa itu. Jika mereka nanti terbangun langsung bisa di pantau dari sini." Polisi itu memberikan alat dan kode agar bisa tersambung dengan CCTV yang baru dipasang.
"Ide cemerlang, Bli. Terima kasih banyak." Asisten Dwi Saputra yang menerima alat dan kodenya.
"Sama-sama, saya harus pulang dulu, pasti besok pagi laporan pertama kepada saya karena TKP dekat rumah."
"Terima kasih banyak, nanti bonus langsung masuk rekening, ingat ini demi untuk ibu hamil yang mendapat KDRT, jika mereka memperkarakan penculikan itu, tolong Bli bisa menangani dengan baik!" perintah Juan Mahardika sambil bertos ria.
"Siap."
Juan Maharika mengantar Polisi sampai depan gerbang sambil membayangkan aksi polisi yang dipanggil Bli itu. Dia yang menculik dia juga tang menyelidi kasusnya. Tidak mungkin bisa terungkap sampai kapan pun juga.
"Jangan lupa melihat CCTV itu besok pagi, saya pamit!"
"Tentu, Bli. Kami akan nobar besok pagi."
Asisten Dwi Saputra termenung berdiri membelakangi depan pintu kamar tamu yang masih terbuka. Ada bibi yang bersia-siap akan menemani tidur tamu yang masih terlelap. Pikiran dan tatapan mata asisten itu terlihat kosong dan entah berkelana di mana, ada banyak pertanyaan yang memenuhi pikirannya.
Juan datang mendekati, Asisten Dwi Saputra masih terpaku dan tidak menyadari ada yang datang, "Dwi ...!"
"Astagfirullah, bikin kaget saja, Tuan!"
"Apa yang kamu pikirkan?"
"Tentang dia, Tuan. Saya tidak mungkin tega mengatakan itu pada istri," jawab Asisten Dwi Saputra menunjuk arah kamar tamu.
"Sama, saya juga tidak akan mungkin tega bercerita kepada El."
Juan Mahardika melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangan kanan. Waktu menunjukkan pukul tiga pagi lebih, biasanya Elfa akan bangun untuk bersujud di sepertiga malam. Namun, masih ada tiga anak buah Asisten Dwi Saputra yang menunggu di ruang tamu akan memberikan laporan tentang aksi mereka tadi.
"Kamu temui mereka dulu, aku melihat istriku bangun atau tidak!"
__ADS_1
"Siap."
Juan Mahardika berjalan dengan langkah panjang ke kamar utama. Membuka pintu perlahan, jika sedang bersujud tidak akan menggangu. Dan jika sedang terlelap agar tidak membangunkan istri yang sedang bermimpi indah.
Tidak disangka Elfa sedang tertidur lelap tanpa memakai selimut. Hanya memeluk guling sambil tidur miring membelakangi pintu kamar. Kemungkinan istri tercinta baru saja bisa terlelap karena lampu kamar masih menyala terang belum berganti lampu tidur.
Menyelimuti dengan selimut tebal sampai dada. Mematikan lampu kamar yang terang dan menyalakan lampu tidur. Mengecup keningnya sekilas sambil bermonolog dengan lirih, "Maaf, Sayang. Selamat mimpi indah, Akak keluar dulu. I love you."
Kembali keluar kamar perlahan agar sang istri tidak terbangun. Langsung bergabung dengan Asisten Dwi Saputra dan tiga anak buah yang sudah menunggu dari tadi.
"Silahkan laporkan terutama tentang penggunakan obat tidur yang digunakan tadi!" perintah Juan Mahardika kepada tiga anak buah Asisten Dwi Saputra.
"Siap, Tuan. Ini botol dan kain yang di gunakan untuk aksi tadi."
"Silakan letakkan di meja!"
Mereka bercerita, hanya memberikan cairan obat tidur itu dalam jumlah sangat sedikit. Sehingga akan terlelap kurang lebih lima jam saja. Diberikan kepada laki-laki yang ada di kamar utama dan dua security.
Penghuni yang ada di dalam empat kamar tidak sama sekali disemprotkan obat tidur. Mereka semua tertidur dengan nyenyak. Ketika ada orang mengendap masuk tidak juga tebangun.
Yang paling banyak diberikan obat tidur adalah wanita yang sedang hamil dan banyak luka. Namun, tidak melebihi batas bahaya khususnya untuk ibu hamil. Diberikan lebih agar bisa beristirahat lebih lama karena melihat situasi yang ada.
"Benar sekali, Tuan. Paling lambat pukul enam pagi."
Asisten Dwi Saputra melihat jam tangan yang melingkar di lengannya. Sekarang ini hampir pukul empat pagi, sudah harus bersiap-siap untuk mengawasi CCTV yang dipasang oleh polisi tadi malam. Mengambil alat dan kode yang tadi dimasukkan di kantong saku celana.
"Itu kode dari Bli Polisi tadi, Dwi?" tanya Juan Mahardika.
"Benar, Tuan."
"Kalian hubungkan dan pasang di layar televisi ruang keluaraga saja, kita nobar!"
Dengan tergelak Asisten Dwi Sapura mengangguk. Ide gila yang diperintahkan Juan Mahardika boleh juga. Bisa memberikan alasan kepada istri jika nanti bertanya.
"Ide bagus, Tuan. Lebih baik kita mengajak Nona El dan Rena nobar dulu sebelum bercerita."
"Iya itu maksudnya, cepat kalian kerjakan sekarang!"
__ADS_1
Sampai azan subuh berkumandang, semua sudah siap. Sudah langsung terhubung dengan CCTV resort tempat dokter menginap. Masih terlihat sepi dan belum ada yang terbangun.
"Kita solat dulu, setelah itu baru kita berkumpul lagi!" perintah Juan Mahardika.
Juan Mahardika masuk kamar, Elfa sudah rapi dan mengenakan mukena untuk solat, "Tunggu Akak dulu, Sayang!"
"Akak dari mana?"
"Nanti ceritanya, kita solat dulu, ok!"
"Baiklah."
Setelah setengah jam berlalu ruang keluarga sudah berkumpul tiga anak buah Asisten Dwi Saputra. Pasangan Rena dan suami juga sudah duduk berdampingan. Ditambah ada makanan kecil, roti bakar, kopi dan susu coklat.
"Ada apa sih ini, Akak. Dari tadi El tanya tidak dijawab. Bagaimana perintah El untuk menyelidiki wanita hamil itu?"
"Sayang, duduk dulu di sini dan nikmati sarapan dengan tenang, kita nobar dulu setelah itu akan Akak ceritakan semua!"
"Nobar apa?"
"Nobar ini ada hubungannya dengan perintah El."
"Ok, El duduk. Rey tahu ada apa ini?"
"Rey juga belum tahu, tadi Aa juga berkata begitu."
Dengan jelas ada jeritan dan teriakan dua wanita yang baru keluar kamar. Elfa dan yang lainnya langsung tertuju pada televisi yang berukuran empat puluh dua inci.
"Aaa, ada apa ini?" Dua wanita yang ada di layar televisi melihat sekeliling ruang tamu yang berntakan.
Pintu empat kamar yang berjajar terbuka bersamaan. Mereka ke luar kamar sama bingungnya dengan dua wanita tadi, "Ada apa ini?"
"Apakah tadi malam ada perampokan?"
Masih banyak lagi pertanyaan dari mereka. Yang membuat Elfa tercengang ada pintu yang terbuka terakhir dan ada Dokter Yohan Carnett keluar dengan sempoyongan, "Ada apa ini, di mana istriku?"
BERSAMBUNG
__ADS_1
Jangan lupa mampir di novel teman yang rekomen ini ya