Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 144. Turun Tangan


__ADS_3

"Sudah waktunya kita minta bantuan suami, ayo kita temui mereka!" ajak Elfa dan berjalan masuk resort.


"Mengapa kita tidak selidiki dulu saja, El?" tanya Rena sambil berjalan mengikuti langkah Elfa.


Elfa tersenyum sambil menggelengkan kepala dan berpikir. Tidak mungkin suami mengizinkan ke luar resort tanpa pengawalan. Apalagi sekarang sedang berbadan dua, selalu dijaga dengan ketat dan hati-hati.


"Tidak mungkin El diizinkan ke luar sendiri, lebih baik mereka saja yang bekerja mencari informasi. Kita tinggal duduk manis dan mendengarkan laporan saja."


"Apa tidak kasihan, pasti mereka sangat capek, bekerja dan harus mengerjakan tugas kita?"


"Tenang saja, Rey. Pasti hanya anak buak Kak Juan saja yang akan mengerjakan."


"Betul juga, ya sudah terserah El saja. Syukur-syukur sekalian temukan Kris dan seret dia kehadapan kita."


Elfa tergelak mendengar kekesalan Rena tentang Kris sahabat yang menghilang, "Sabar dulu, siapa tahu ada sesuatu yang terjadi sampai Kris tidak bisa cerita."


"Iya sih."


"Akak!" teriak Elfa saat baru sampai pintu ruang tamu.


"Ada apa, Sayang?"


"El mau minta tolong?"


"Katakan, permintaan El adalah titah yang wajib Akak lakukan."


"Apakah Akak tahu jika ada Dokter Yohan Carnett di Bali sini?"


Juan Maharika menengok ke arah Asisten Dwi Sputra. Baru setengah jam yang lalu mendapatkan kabar itu. Sekarang ini baru dibicarakan dengan Asisten Dwi Saputra dan belum diceritakan pada Elfa.


"Dari mana El tahu, Akak baru saja mendapat kabar dari anak buah setengah jam yang lalu?"


"Itu nanti saja di bahas, tolong ceritakan apa saja yang Akak tahu!"


"Baik, ini lihat foto yang baru saja dikirim oleh anak buah Akak."


Foto itu berisi tentang kegiatan sosial dokter yang sedang memberikan makanan bergizi dan susu formula untuk anak kurang gizi. Sebagian besar kegiatan mereka di puskesmas yang ada di sekitar Bali. Ada banyak makanan dan susu yang dibagikan untuk masyarakat yang sangat membutuhkan.


"Akak sudah tahu kalau dokter itu sudah menikah dengan oranng Indonesia?"


"Belum sih, Sayang."


"Sekarang peritahkan anak buah Akak untuk menyelidiki istri Dokter Johan ya!"

__ADS_1


"untuk apa, Nona?" tanya Asisten Dwi Saputa.


Kemarin Rey melihat sekilas siluet Kris saat di Pasar Jimbaran, mau cerita Aa tidak jadi karena belum dipastikan itu Kris atau bukan."


"Apa hubungannya dokter dengan Kris?" tanya Juan Mahardika.


"Setiap ada Dokter Yohan pasti Kris akan menghilang tanpa jejak, dari pernikahan Rena sampai sekarang, Kris tidak memberikan kabar sama sekali. Jadi El curiga Kris ada hubungannya dengan dokter itu."


"Baiklah, Akak perintahkan anak buah sekarang. El istirahat dulu ya, belum minum susu hamil, 'kan?"


"Belum."


"Dwi, kamu hubungi mereka perintahkan untuk menyelidiki dokter itu, resort yang mereka sewa hanya berjarak tiga resort dari sini!"


"Siap, Tuan."


Juan Mahardika menggandeng Elfa masuk kamar dengan mesra. Elfa hanya mengedipkan mata kepada Rena dan memberikan acungan jempol di belakang punggung. Memberikan kode jika semua akan terungkap jika Juan Maharika yang turun tangan.


"El masuk kamar dulu, Akak buat susu hamil dulu ya!"


"Mengapa harus di kamar sih, Akak?"


Dengan tersenyum devil Juan Mahardika berbisik di telinga Elfa, "Yang butuh minum susu tidak hanya El atau bayi kita, Akak juga dong."


Juan Mahardika tergelak sambil mengedipkan mata, "Itu namanya adil, Sayang. El dan bayi kita dapat, Akak jiga harus dapat."


"Dasar modus."


Sambil kembali tergelak, Juan Mahardika mengecup bibir Elfa sekilas, "Nyicil dulu. Sana masuk, Akak buat susu sebentar!"


Kurang dari sepuluh menit, Juan Maharika masuk dengan membawa nampan berisi susu hamil rasa vanilla. Ditambah satu piring buah nanas, mentimun, mangga dan semangka yang sudah di potong dadu. Ditambah sambal rujak yang dibuat oleh bibi di dapur.


"Sayang, ini di munum dulu susunya, setelah itu gantian Akak yang minum!" Juan Mahardika berkata sambil melirik dua gundukan yang masih tertutup sempurna.


Elfa hanya mengerucutkan bibirnya sambil mengambil satu gelas susu vanilla. Sengaja disisakan sedikit dan diserahkan kembali, "Ini kalau mau adil, Akak minum juga susunya?"


Gantian Juan Mahardika yang mengerucutkan bibirnya sambil cemberut, "Akak yang buat bisa hamil, tetapi bukan yang hamil."


"Dasar Akak modus, sini buah dan sambalnya. El mau!"


"Ini Akak suapin saja, asal jangan di makan nanasnya ya?"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Nanas ini asam khusus untuk Akak, sudah tidak ada stok di dapur, tinggal ini saja."


"El juga tidak suka asam, makan aja nanasnya."


Tangan kanan mengambil rujak buah. Tangan kiri Juan Mahardika bergerilnya entah ke mana. Padahal makan buah tidak menggunakan garpu, "Tangan Akak jangan jahil nanti kalau terkena sambal rujak badan El yang panas!"


Juan Mahardika hanya nyengir kuda sambil menarik tangan dan memperhatikan dengan seksama, "Bersih tangan Akak, Sayang. Tangan kiri Akak ini sudah terkontaminasi dengan itunya El jadi maunya ke situ terus!" kembali tangan kiri Juan Mahardika menyudup di balik baju.


Elfa akhirnya membiarkan tangan suami yang mulai modus. Mulut terus saja mengunyah. Pikiran bercabang memikirkan Kris yang masih misteri. Sehingga seolah Elfa tidak merespon modus suami, padahal biasanya akan cepat terbawa suasana hati.


Juan Mahardika modus sambil melihat wajah Elfa yang terlihat banyak pikiran. Sudah bisa dipastikan istri tercinta memikirkan sahabat yang sekarang ini tidak diketahui keberadaannya. Sebenarnya mengajak ke kamar dengan tujuan pikiran istri bisa rileks dan tidak memikirkan sahabat satu perjuangan.


Rujak buah hampir habis pindah ke perut. Hanya sisa nanas yang rasanya sangat asam. Karena Elfa makan masih sambil termenung dengan sengaja Juan Mahardika menyuapkan sedikit nanas di mulut Elfa, "Wuek, Akak!" Nanas langsung di keluarkan lagi oleh Elfa.


"El melamun sih, apa yang dipikirkan?"


"Asam banget El tidak suka, Akak." Elfa membuang nanas yang masuk mulut di tisu yang ada di sebelahnya.


"Maaf." Juan Mahardika terus memperhatikan wajah Elfa yang masih terlihat bersedih.


"El sudah kenyang, cepat habiskan Akak saja!"


"Minum air putih ini!"


"Terima kasih."


"Sayang, jangan khawatir tentang Kris ya, anak buah Akak sudah menyelidiki. Akak tidak ingin El sedih atau stres dan banyak pikirinan. El harus rileks demi bayi kita."


"El tidak stres, El hanya banyak pikiran saja."


"El tidak perlu memikirkan apapun, Akak saja yang memikirkan semua. Akak mau El tersenyum dan bahagia terus."


"El bahagia kok, hanya khawatir saja tentang Kris."


Juan Mahardika langsung memeluk Elfa dengan erat, "Pasti sebelum kita pulang ke Jakarta besok, kalau memang Kris ada di sini pasti akan sudah ditemukan."


"Apakah benar itu, Akak?"


"Iya dong, Sayang. Akak tidak hanya meminta anak buah untuk mencari Kris. Ada teman dari anggota polisi juga membantu mencari teman El."


BERSAMBUNG


Mampir yok kk di novel teman author yang rekomen ini

__ADS_1



__ADS_2