Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 171. Masih Mengawasi


__ADS_3

Juan Mahardika tidak menengok ke belakang saat Elfa memberikan kode jika si mantan mendekati. Lebih memilih membuka mulut untuk disuapi lagi martabak maryam dari tangan Elfa. Sengaja menunjukkan kemesraan dengan istri tercinta.


"Hai, Juan. Apa kabar?" tanya Sherly Crash dengan sok akrab.


"Alhamdulillah," jawab Juan Mahardika bergeser mendekati Elfa.


"Mengapa dulu tega sekali pada Sherly?"


"Apa maksud kamu?" tanya Juan Mahardika jutek.


"Mengapa dulu tega mengirim Sherly ke penjara?"


"Bukan kami yang mengirim, tetapi semua akibat perbuatan kamu sendiri."


Sherly Crash menatap tajam ke arah Elfa dan Rena. Setelah menengok ke arah Asisten Dwi Saputra, dia memundurkan badannya beberapa langkah. Tatapan mata sang asisten itu seolah mengingatkan dulu saat dalam persidangan dan berusaha ingin bertemu selalu mendapatkan ketegasan dan penolakan dari suami Rena itu.


"Maaf, sebaiknya Anda pergi dari sini, dilarang mengganggu orang sedang makan!" perintah Asisten Dwi Saputra dengan tegas.


"Sherly masih ingin bertanya kepada istri Juan yang hamil itu, apakah yakin itu bayi Juan?"


Emosi Elfa langsung memuncak pendengar pertanyaan dari Sherly Crash. Dari pertanyaan dia seolah meragukan dan menilai Elfa wanita yang gampangan, "Apa maksud kamu, ha?" tanya Elfa sambil berdiri dan bertolak pinggang.


"Dulu Juan banyak berpetualang dan ...?" Sherly Crash tidak melanjutkan ucapannya karena tidak hanya Elfa yang berdiri. Rena juga ikut berdiri dan mendekati wanita model majalah dewasa itu.


"Jaga kalau bicara ya!" teriak Rena.


Juan Mahardika memeluk Elfa agar tidak emosi. Mengusap pipi dan perut buncitnya perlahan, "Jangan terpancing, Sayang. Cukup Akak dan Dwi saja yang menghadapi wanita gila itu!"


"Rey, duduklah!" perintah Asisten Dwi Saputra.


"Iya, Aa."

__ADS_1


Rena mundur dan duduk di samping Elfa. Asisten Dwi Saputra yang berdiri mendekati Sharly Crash diikuti oleh Juan Mahardika, "Jangan asal bicara kalau tidak ingin kembali ke penjara!" ancam Juan Mahardika.


Sherly Crash langsung angkat tangan dan tersenyum kecut. Tujuannya hanya ingin menjatuhkan mantan tunangan dimata Elfa. Namun, langsung diserang tuan dan asistennya sekaligus.


"Tidak, Sherly permisi," jawabnya bergegas meninggalkan meja makan Juan Mahardika.


Sherly Crash berlalu bertepatan pesanan kari kambing pesanan Juan Mahardika datang. Tanpa menunggu disuapi, Juan Mahardika menikmati kare kambing dengan lahap. Emosinya karena sang mantan dilampiaskan dengan makan kare kambing satu porsi tanpa sisa kurang dari sepuluh menit.


"Ya Allah, Akak. Itu makan atau sulap, cepat banget?"


"Akak lagi kesal, daripada makan orang lebih baik makan kare kambing."


"Aneh, ayo pulang!"


Selama satu minggu ini Elfa, Rena dan Kris selalu melakukan vedio call saat senggang. Bercerita pengalaman Kris di Italia dan tinggal di negara orang. Menghabiskan waktu untuk berwisata bersama keluarga dengan dikawal oleh Henry Alexander.


Kris mulai ceria seperti dulu lagi tanpa beban, melakukan kegiatan dengan orang baru. Terutama dengan wanita yang sedang hamil di kelompok ibu-ibu senam hamil. Tentu saja selalu didampingi oleh Henry Alexander.


Mami Mitha meminta untuk Elfa pulang ke Indonesia. Pakde Sarto juga menghubungi dan meminta untuk melahirkan di Ngawi saja. Ada juga abang tercinta meminta untuk melahirkan di rumah sakit Ajuzeka.


"El mau pilih melahirkan di mana?" tanya Juan Mahardika saat di kamar setelah makan malam untuk yang kedua kalinya.


"El terserah Akak saja, yang penting ditunggu Akak di mana saja El ikut."


Juan Mahardika mengerutkan keningnya, jika dipikir dengan logika memilih untuk kembali ke Jakarta. Pekerjaan selama ini selalu dikerjakan hanya lewat online saja. Harus sesekali didatangi untuk memeriksa dan dikontrol demi kemajuan perusahaan.


"Kita pulang ke Jakarta saja, apakah El mau?"


"Boleh juga, Akak. El sangat merindukan Mami dan Papi."


"Besok saja kita pulang, Akak akan mencari informasi tentang mantan suami Kris yang durjana itu terlebih dahulu."

__ADS_1


"Ok terserah Akak saja."


Malam ini Juan Mahardika mendapat laporan dari anak buah yang ada di desa Mami Mitha. Pengacara dari Dokter Yohan Carnett sedang gencar mencari keberadaan keluarga Kris. Selalu mengawasi rumah Kris yang dipakai sebagai markas anak buah Asisten Dwi Saputra.


Di bekas kontrakan milik Trias adik Kris nomor dua, setiap hari ada yang mengawasi setiap saat. Di sekolah Rama juga sedang diawasi oleh anak buah pengacara dari dokter urologi itu.


Setelah Kris pindah ke Italia Eropa Selatan, pengacara Dokter Yohan Charnett mengetahui jika saat ini Kris tinggal di rumah saudara yang ada di Bandung. Alamat fiktif Kris sampai sekarang ini masih aman. Pengacara itu belum pernah sekali pun mendatangi alamat Kris.


Pengacara yang bertugas sebagai pengacara Kris, selalu memberikan keterangan tentang bayi yang di kandung oleh Kris. Namun, pengacara itu sampai sekarang tidak pernah memberikan keterangan tentrang idenitas bayi klien nya.


Pengacara wajib melaporkan kondisi Kris minimal satu minggu sekali. Terkadang pengacara hanya memberikan keterangan sama persis seperti minggu lalu. Yang terpenting ada laporan.


Ada laporan kedua yang sedang dibaca oleh Elfa. Laporan tentang ada beberapa orang laki-laki yang sedang mengawasil villa milik Juan Mahardika dan keluarga Papi Alfarizi. Markas tiga pejuang gadis juga diawasi oleh mereka.


"Bagaimana kalau pengacara itu ke Bandung, Akak?" tanya Elfa setelah selesai membaca laporan.


"Untuk sementara ini pasti aman, tenang saja."


"Dari mana Akak tahu aman untuk saat ini?"


"Dari gerak-gerik mereka, mereka masih beronsentrasi mencari keluarga Kris."


"Bagaimana dengan dokter durjana itu sekarang, Akak?"


"Dia masih berada di tahanan bagian rehabilitasi, di jaga kekat dan harus bekerja seperti penghuni yang lain."


Juan Mahardika kembali bercerita tentang dokter yang sekarang ini ada di rehabilitasi tahanan anti narkoba. Di tambah dengan kerja wajib untuk mengalihkan pikiran tentang narkoba. Hanya sayangnya, lagi-lagi dokter itu tidak wajib ikut kerja wajib.


Oleh kepala tahanan, Dokter Yohan Carnett diperintahkan membatu dokter umum yang bertugas memeriksa para tahanan. Baik dari segi kesehatan umum ataupun tentang narkoba. Terkadang sampai kasus narkoba di lapas wanita yang kekurangan tenaga ahli.


Banyak napi yang iri karena hanya Dokter Yohan Carnett yang berprofesi dokter itu yang sering ke luar lapas. Banyak juga yang memesan sesuatu di luar sana dengan membayar sejumlah uang. Menjadi peluang bisnis tersendiri bagi dokter asli Australia itu.

__ADS_1


Elfa heran dengan cerita tentang dokter yang rela menjadi kurir demi mendapatkan penghasilan, "Mengapa dokter itu rela mencari rupiah hanya menjadi kurir, Akak?"


__ADS_2