Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 181.Kris Melahirkan


__ADS_3

Elfa menangis sesunggukan dalam pelukan Juan Mahardika saat mendengar keterangan dari tim dokter. Tidak diizinkan untuk melakukan perjalanan jauh karena kondisi hamil besar. Keadaan yang mudah lelah, terkadang kaki tiba-tiba membengkak dan seakan napas yang pendek selalu dipantau oleh tim dokter setiap hari.


"Sayang, ingat kesehatan twins baby kita, pasti Kris juga akan maklum jika El tidak bisa mendampingi sekaarang ini."


"El kasihan Akak, Kris tidak ada yang menemani," jawab Elfa sambil meneteskan air mata.


"Kris tidak sendiri, ada keluarga dan sebentar lagi Rey yang akan pergi ke sana."


"El juga ingin menemani Kris."


"Ingat sebentar lagi kita juga harus ke Ngawi."


Elfa mengangguk lemah sambil mengusap air mata, teringat sudah berjanji pada Pakde Sarto dan Bude Marmi jika akan mengadakan syukuran di Ngawi. Bahkan, Mereka sampai saat ini masih menunggu untuk berangkat bersama. Sekarang ini mereka berada di Bekasi dan akan berangkat ke Bogor sebelum pulang ke Ngawi.


"Sing ikhlas yo, garwoku," canda Juan Mahardika sambil mengecup keningnya dengan mesra.


Elfa tersenyum walau masih ada air mata yang menggenang di ujung mata. Bahasa jawa yang kaku yang dulu sering diucapkan sebelum menikah sangat membuatnya tersenyum. Kenangan manis saat baru mengenal indahnya dicintai selalu terpatri.


"Kapan Rey berangkat menyusul Kris, Akak?"


"Dwi belum memberikan kabar, pesawat pribadi tidak bisa mengantar Kris, karena sekarang pesawat sedang mengantar Daddy ke Amerika."


"Jadi Rey naik pesawat komersil?"


"Iya, karena itu El tidak boleh berangkat. Yang penting El bisa VC sama Kris setiap saat."


"Baik, nanti El VC Kris setelah makan."


"Iya jangan sekarang, nanti ketahuan Kris kalau El sedang mewek."


"Akak ini, El mau makan, apakah rujak bebegnya masih ada?"


"Masih sih tetapi tinggal satu porsi, sudah Akak makan tadi sebeum mandi."

__ADS_1


"Ya Allah ya Rob, perut Akak tidak mulas makan rujak bebeg sepuluh porsi dalam satu hari?"


Juan Mahardika menggeleng sambil menepuk perutnya, "Akak makan sepuluh porsi sehari tidak masalah karena porsinya hanya sedikit, apakah boleh besok Akak beli lagi?"


"Silahkan saja, kalau Akak ke Abah tolong El belikan toge goreng!"


Malam itu juga, Elfa langsung VC dengan Kris. Melakukan VC bertiga seperti biasa dari jarak jauh seolah bisa berbincang berdekatan. Ibarat kata dunia tak selebar daun kelor memang benar jika didukung dengan tegnologi.


Kris masih dalam tahap awal tanda-tanda melahirkan. Masih bisa bercanda bertiga sambil bercerita prediksi dokter. Saling mendukung dan saling berdoa untuk kelancaran kelahiran Kris dan syukuran Elfa.


Pagi hari Rena berangkat pada penerbangan pertama menuju Italia Eropa. Ditemani Asisten Dwi Saputra sekalian melakukan meeting di perusahaan yang ada di sana.


Sebelum berangkat ke bandara, Asisten Dwi Saputra sempat melaporkan tentang perkembangan dari Dokter Yohan Carnett. Tersangka yang di hukum dua tahun penjara itu sekarang sudah memecat pengacara yang selama ini mendampingi. Alasannya karena pengacara tidak berhasil menemukan Kris dan keluarga.


Sekarang tidak ada yang bisa menjebatani antara Dokter Yohan Carnett dengan pengacara yang di tunjuk oleh Juan Mahardika untuk Kris. Seolah ada jalan buntu yang tidak mungkin bisa bertemu kecuali pengacara langsung berkunjung di hotel prodeo dokter urologi itu.


Asisten Dwi Saputra juga menjelaskan kemungkinan besar selain pengacara gagal mendapatkan informasi tentang Kris. Dokter urologi itu kehabisan tabungan karena membayar sangat mahal pengacara setiap bulannya. Di grop dokter yang bekerja sosial Dokter Yohan Carnett dipecat karena terbukti melakukan KDRT dan mengkonsumsi obat terlarang.


"Berarti kita anggap selesai kasus Kris dengan dokter brengsek itu selama dia di penjara," kata Juan Mahardika.


"Bagus, paling tidak tunggu sampai tiga bulan ke depan. Perintahkan pengacara kita untuk tetap waspada!"


"Siap, Tuan."


Tiga hari setelah Rena dan Asisten Dwi Saputra menemani Kris. Sahabat sejati pejuang gadis itu melahirkan secara normal. Bayi laki-laki yang sehat dengan berat dua setengah kilogram dan panjang lima puluh satu centimeter.


Bayi sehat dengan rambut sedikit pirang seperti ayahnya dan mata belok seperti ibunya. Kulit bersih dan sangat menggemaskan bagi siapa saja yang melihatnya. Kebahagiaan tiga sahabat tidak bisa dilukiskan dan melupakan kenangan buruk masa lalu.


Elfa terus saja tersenyum melihat vedio bayi Kris saat tertidur di box bayi. Terlihat menggemaskan walau bayi itu tidak bergerak karena terlelap. Membayangkan twins baby lahir nanti pasti akan lebih menggemaskan lagi karena kembar sepasang.


Juan Mahardika datang dari kantor saat istirahat siang. Membawa rujak bebeg dan toge goreng. Selama tiga hari ini Juan Mahardika masih rutin membeli rujak bebeg lima porsi sehari. Elfa sudah tidak pesan toge goreng, tetapi masih tetap dibelikan karena kasihan sama pedagangnya.


"Sayang, mengapa senyum-senyum sendiri begitu, siapa yang El senyumin?"

__ADS_1


"Ini El lagi lihat putra Kris yang menggemaskan."


Juan Mahardika melihat bayi yang tertidur pulas, "Bayi tidur dibilang menggemaskan sih, yang menggemaskan itu kalau Akak sedang polos membuat El merem melek keenakan."


"Waduh, otaknya mulai ngeres. Sini Akak bawa Apa, El lapar?"


Juan Mahardika tergelak sambil meletakkan bungkusan rujak bebeg dan toge goreng. Mentoel pipi Elfa sambil mengedipkan mata. Kode ingin beraksi walau sekarang masih siang.


"Tidak usah macam-macam, twins baby lagi demo dari tadi nendang terus dari dalam."


"Benarkah, apa yang dimintanya?" Juan Mahardika berjongkok dan mendekatkan telinga seta mengusap perut dengan lembut.


Ada gerakan kecil dari dalam berkali-kali. Dengan tangan mengusap perut Elfa bisa merasakan tendangan dari dalam. Seolah keduanya sedang berkomunikasi dengan ayahnya.


"Mau apa, Nak. Apakah mau di tengok Deddy sekarang?"


"Eee kagak, twins baby pingin makan kapal selam sekarang!"


Suami Elfa kaget bukan kepalang mendengar permintaan twins baby. Tidak mengerti jika ada makanan yang bernama kapal selam. Yang tahu hanya kapal selam pasti sangat besar dan terbuat dari besi baja, tidak mungkin bisa dimakan.


"Jangan makan besi dan baja, Sayang, Nanti gigi El rontok."


"Kapal selam makanan, Akak. Bukan kapal selam betulan."


"Oooo Akak kira twins baby mau makan kapal selam betulan."


"Itu nama makanan khas berasal dari daerah Palembang Sumatra sana, Akak."


"Sebetar Akak siap-siap dulu deh."


Juan Mahardika mengira Elfa meminta membeli makanan langsung dari daerah asalnya. Langsung menghubungi pilot helikopter untuk siap-siap berangkat ke Palembang. Akan berangkat langsung sekarang juga bersama pilot dan copilot helikopter.


"Akak berangkat ke Palembang dulu ya!"

__ADS_1


"Eeee mau ngapain?"


"Katanya El mau makan kapal selam yang berasal dari Palembang, bagaimana sih?"


__ADS_2