Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 95. Nano-nano


__ADS_3

Sambil berpelukan dan tangan bertautan Elfa dan Juan Mahardika mengikuti langkah musik dengan lagu romantis. Wajah Elfa menempel di pundak Juan Mahardika. Mengayun sendu mengikuti irama lagu yang syahdu.


Hampir satu lagu berlalu, suasana semakin romantis. Juan Mahardika semakin mengeratkan tangan melingkar di pinggang Elfa. Semakin malam semakin romantis suasana hati.


"Ayo duduk lagi!" Juan Mahardika menggandeng Elfa dan duduk di kursi setelah satu lagu selesai diputar.


Elfa mengangguk dan tersenyum mengikuti langkah suami untuk duduk. Suasana romantis yang diciptakan membuat suasana hati Elfa semakin tenang. Kali ini tidak merasa dingin di badan, hanya merasa dingin dari AC.


"Istirahat dulu nanti kakinya capek!"


Elfa duduk di kursi, tetapi Juan Mahardika berjongkok dibawah. Tangan ditautkan sempurna sambil mengecup punggung tangan berkali-kali. Wajah mendongak sambil tersenyum sambil menatap dengan penuh cinta.


"Akak sangat mencintai, El."


"El tahu."


"Akak ingin kita kubur masa lalu, dan kita sambut masa depan berdua."


"Hhmm."


"Tolong bimbing Akak menjadi imam yang baik untuk El!"


"Insyaallah."


"Tolong jika ada masa lalu yang ingin datang mengganggu, jangan langsung marah, dengarkan dulu penjelasan Akak. Ikuti kata Daddy kita harus saling terbuka!"


"Insyaallah kalau El tidak emosi"


Juan Mahardika berdiri dan mengusap lembut pipi dan bibir Elfa. Tatapan mata seolah tidak pernah lepas dari pandangan cinta yang membara. Kembali berjongkok bergerilya di leher di bagian bawah mendekati dada.


Kerah sanghai yang cenderung menutupi leher, tidak menyurutkan Juan Mahardika beraksi. Sambil beraksi tangan melingkar ke belakang menurunkan kancing tarik yang ada di punggung. Perlahan turun bersamaan aksi Juan Mahardika semakin beraksi dalam.


Elfa juga semakin menikmati aksi suaminya. Bahkan, saat kancing tarik itu sudah terbuka sempurna Elfa tidak menyadari. Masih menikmati aksi suami yang semakin lama semakin memabukkan.

__ADS_1


Awalnya Juan Mahardika sudah melayang di tengah awan, bukan di atas awan. Usahanya sangat diyakini akan berhasil sesuai harapan.


Saat wajah Juan Mahardika dibenamkan di tengah gundukan kembar, Elfa masih bisa menikmati itu dengan santai. Mengecup tengah-tengah dua gundukan kembar juga sangat dinikmati. Namun, saat tangan menyendal kaitan bra yang tersambung sempurna dan terlapas sempurna, Elfa langsung tersentak kaget, "Akak!"


Juan Mahardika langsung mendongak memandang wajah Elfa yang terlihat juga menahan rasa, "Ada apa, Sayang?"


"El ...?" Elfa terus menatap mata Juan Mahardika yang terlihat kecewa, tetapi terus mencoba tersenyum.


"Kalau El masih takut, Akak akan berhenti."


Elfa menjawab dengan menggeleng, dengan senyum menawan Juan Mahardika seolah mendapatkan oase di gurun pasir yang gersang. Rasa yang mulai memuncak seolah sudah tidak bisa dibendung lagi.


Dengan lembut tangan Juan Mahardika memutari gundukan, naik turun dan berhanti di puncaknya. Bermain dan memegang sambil dipermainkan.


Setelah melihat Elfa semakin menikmati sentuhan tangannya. Juan Mahardika menikmati puncak gundukan dengan menggunakan bibir dan mulut bergantian kanan dan kiri. Jika bibir di kanan, tangan bermain disebelah kiri.


Tanpa disadari, Elfa mengeluarkan suara yang sangat didambakan Juan Mahardika. Suara yang sangat menambah semangatnya untuk beraksi. Sambil memanggil nama dengan lirih, Elfa semakin bisa menikmati rasa itu tanpa disadari.


Juan Mahardika yang sudah lama tidak menikmati indahnya beraksi. Seolah rasa puas berkali-kali dirasakan. Tidak pernah merasakan seindah ini ketika dulu dengan banyak wanita.


Sontak Elfa kaget dan seolah baru tersadar dari khayalan, "Akak!" teriaknya.


"Ya, Sayang."


"Maaf, El masih takut."


Dengan lembut Juan Mahardika membetulkan bra dan gaun yang setengah terbuka. Sambil menatap wajah Elfa yang tiba-tiba terlihat pucat. Tidak ingin memaksa dan menyakiti.


"Tidak apa-apa, Sayang. Sudah sampai sejauh ini, Akak sudah sangat bahagia."


Elfa terus memandang Juan Mahardika yang membetulkan gaun dan manaikkan kancing tarik pada tempatnya semula. Terlihat dai sorot mata yang kecewa, tetapi senyum terus mengembang.


"Maafkan El ya, Kak!"

__ADS_1


"Tidak perlu minta maaf terus, Akak sangat mengerti. Akak akan menunggu sampai El siap."


Elfa memajukan badannya dan mengecup bibir Juan Mahardika sekilas. Baru pertama kali ini Elfa memiliki inisiatif mencium Juan Mahardika terlabih dahulu. Hati sebenarnya merasa kasihan, tetapi tidak bisa dipungkiri hati masih merasa takut.


"Alhamdulillah, Akak mendapat ciuman dari El."


"Di sini dong sekali lagi!" Juan Mahardika mendongak menunjukkan lehernya.


Elfa tergelak sambil mengecup leher Juan Mahardika sekilas. Hati yang merasa lega melihat sang suami yang ikhlas dan tidak memaksa. Sangat bahagia tidak memaksakan harus melanjutkjan aksi yang belum berani dilakukan.


"El ganti baju tidur dulu, Akak mau ke kamar mandi sebentar, ok!"


"Ya, terima kasih, Akak."


Juan Mahardika berjalan dengan setengah berlari menuju kamar mandi. Di dalam hati dan pikiran terasa nano-nano saat ini. Ada bahagia dan kecewa secara bersamaan.


Bahagia bisa melakukan hal sampai sejauh ini tanpa ada rasa dingin di badan Elfa. Kecewa karena belum bisa melewati malam pertama padahal tinggal sedikit lagi. Dengan terpaksa harus kembali dilanjutkan sendiri seperti biasa.


Sebenarnya sudah selesai dari tadi, tetapi Juan Mahardika memilih untuk bersandar di tembok kamar mandi sambil menatap langit-langit. Bukan kecewa yang kini dirasakan dalam dada. Namun, penyesalan akibat yang dilakukan di masa lalu sangat berakibat buruk pada diri sendiri.


Seolah sekarang ini sedang mendapatkan dan merasakan karma dari perbuatan masa lalu. Semua yang dilakukan berbalik arah. Merasakan sakit dan pedih seluruh jiwa dan raga.


"Aaah semangat Juan, ayo semangat. Ingat ada gadis yang kamu cintai menunggu," monolog Juan Mahardika sendiri sambil memukul dada.


Juan Mahardika ke luar kamar mandi dengan mempersiapkan senyum terindah. Harus menunjukkan hal yang positif dan baik-baik saja. Tidak boleh Elfa tahu jika ada sedikit kecewa dalam hati dan pikiran.


Sayangnya, Juan Maharika tidak menemukan Elfa di kamar lagi. Hanya melihat gaun hitam yang tadi dikenakan berada di boks baju kotor. Melihat ponsel tergeletak di meja rias begitu saja.


"Sayang, El di mana?"


Tidak ada jawaban dari pemilik nama walau dipanggil berkali-kali. Juan Mahardika bergegas ke luar kamar. Waktu sudah hampir pukul sepuluh malam, tidak ada seorang pun berada di ruang tamu, ruang keluarga atau dapur.


Ingin bertanya bingung dengan siapa karena tidak ada seorang pun. Abi Ali sedang ke Madinah dan dua bibi tinggal di pavilun bersama keluarga mereka. Ada security, tetapi berada di pintu gerbang depan.

__ADS_1


Juan Mahardika berlari menuju pintu belakang rumah. Ada taman kecil dan kolam ikan kecil yang sudah tidak terawat lagi. Hanya ada lampu temaram yang terlihat menyeramkan.


Saat ingin masuk kembali ke dalam rumah dan memasuki dapur, ada suara sesuatu yang jatuh dan terdengar menggema, "Astagfirullah apa itu!"


__ADS_2