Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 150. Membeli Rumah Seperti Membeli Kacang Goreng


__ADS_3

Juan Mahardika berlari mendekati Elfa yang berdiri di depan pintu kamar tamu. hampir tidak percaya mengaja istri tercinta mengajak ke Australia sekarang. Padahal jadwalnya hari ini akan pulang ke Jakarta.


"Mengapa harus ke Australia, Sayang, pesawat sudah dijadwalkan ke Jakarta hari ini?"


Elfa menarik napas panjang dan menghembuskan dengan kasar karena kesal, "Tidak perlu bertanya, Akak. Lakukan saja!"


"Tetapi, Sayang ...?" Juan Mahardika tidak melanjutkan ucapannya melihat Elfa yang kembali mengeluarkan air mata.


"Eee jangan menangis lagi, ok Akak jadwal ulang pesawat kita."


Elfa langsunmg memeluk suaminya dengan erat, "El maunya sekarang, Akak. Jangan di tunda lagi, please!"


"Baik, akan Akak usahakan. El masuk lagi ya, Akak akan mengkoordinasi dengan Dwi!"


"Terima kasih."


"Sini air matanya Akak usap dulu, jangan menangis lagi karena Akak tidak akan sanggup melihat El bersedih!"


"I love you, Akak."


"Me too, Sayang." Juan Mahardika mengusap pipi Elfa yang basah karena air mata.


Berlari memnaggil Asisten Dwi Saputra dan bergegas mengatur jadwal ulang pesawat pribadi. Pesawat yang awalnya ke Jakarta sekarang harus berpindah pulang kampung menuju Australia. Dan ujung-ujungnya Asisten Dwi Saputra yang sangat sibuk dan bekerja keras agar keinginan istri tuannya terlaksana.


Satu jam berlalu jadwal bisa dipindah sesuai keinginan Elfa. Mulai dari izin terbang, pilot dan kopilot juga sudah siap membawa tuannya ke kampung halaman. Dengan bekerja keras tanpa lelah akhirnya semua bisa berjalan sesuai jadwal.


Rena dan Asisten Dwi Saputra selesai packing untuk ikut ke Australia. Kris masih tetap terlelap belum juga membuka mata. Tim dokter diwajibkan ikut ke Australia atas permintaan Elfa.


Juan Mahardika yang masih bingung dan termenung. Di Australia belum sempat membeli rumah pribadi untuk Elfa. Hanya memiliki apartemen yang di rahasiakan dan keluarga pun belum tahu. Sudah terbiasa langsung pulang ke rumah utama jika pulang kampung.


Semua sudah siap dan menunggu mobil jemputan dari bandara. Elfa yang tidak sibuk dan tidak melakukan pecking seperti yang lain, ke luar melenggang setelah Kris ditandu dimasukkan ke dalam mobil oleh anak buah Asisten Dwi Saputra, "Akak, mengapa melamun?"


"Akak masih bingung, Sayang."

__ADS_1


"Bingung kenapa?"


"Kita tidak mungkin tinggal di rumah Mommy Vera, apartemen tidak mungkin cukup untuk orang sebanyak itu, El mau tinggal di hotel?"


"Akak ini kayak orang susah saja, suruh Asisten Dwi beli real estate yang siap huni plus isinya pasti kurang dari satu jam saja dapat."


Juan Mahardika langsung mencari informasi pengembang properti yang sering bekerja sama dengan perusahaan Papa Hans Mahardika. Menggunakan koneksi dan infomasi itu akan lebih cepat mendapat apa yang diperlukan sekarang ini. Harus bertidak cepat jika perlu setelah sampai di Australia langsung bisa ditempati.


"Tunggu dulu, Sayang. Akak akan usahakan."


"Kalau bisa kita langsung menempati rumah setelah sampai di sana!"


"Ok, akan Akak usahakan."


Juan Mahardika tidak hanya mengandalkan Asisten Dwi Saputra untuk mencari rumah huni yang sesuai standarnya. Orang kepercayaan yang ada di Australia juga sibuk mencari rumah yang sesuai dengan permintaan. Tidak hanya rumah yang harganya selangit, isi perabot rumah tangga juga harus diminta dengan merk tertentu.


Mulai dari perjalanan resort menuju bandara Ngurah Rai, Bali, Juan Mahardika masih menyeleksi beberapa usulan rumah mewah yang ditunjukkan oleh Asisten Dwi Saputra. Saat pesawat sudah take-off dan mengudara, Juan belum juga mendapatkan yang cocok.


Ada tiga rumah super mewah yang terakhir, Juan Mahardika memilih salah satu yang posisinya tidak jauh dari rumah orang tua. Ingin meminta saran Elfa tidak mungkin lagi karena sudah setengah perjalanan pulang. Langsung memutuskan yang dibeli adalah rumah satu komplek dengan orang tua.


Rumah yang itu dijual beserta isi perabotnya. Ditambah pegawai yang bekerja menjadi karyawan masih tetap bekerja. Sengaja tidak dirumahkan agar pembeli berikutnya tidak mencari lagi karyawan.


"Langsung dibayar sekarang, Dwi. Diusahakan samapi sana kita langsung masuk!"


"Ini membutuhkan dana yang besar, Tuan. Karena mendadak akan banyak biaya tambahan lebih dari sepuluh persen harga rumah?"


"Tidak masalah kerjakan cepat, tidak sampai satu jam lagi kita akan mendarat!"


"Baik, Tuan."


"Aku tinggal dulu."


Juan Mahardika meninggalkan Asisten Dwi Saputra bekerja sendiri. Rena yang keluar dari kamar kabin milik Jasmine Mahardika yang dipakai untuk Kris langsung mendekati suami. Hanya yang didekati tidak menyadari karena berkonsentrasi penuh mengerjakan tugas.

__ADS_1


"Aa, serius banget sih, apa tugas yang harus dikerjakan cepat?"


"Ini lihatlah! Tuan Juan beli rumah beserta isinya seperti sedang beli kacang goreng saja, harus selesai kurang dari satu jam."


"Berapa harganya, Aa?"


"Angkanya berjajar lima belas digit."


"Itu uang semua?"


"Iya dong, Rey. Kalau seandainya dibelikan es cendol pasti Indonesia banjir es cendol."


Rena tertawa lepas membayangkan mandi es cendol, "Bukannya bersih pasti kita dikerumuni semut, Aa."Rena menjawab dengan asal.


"Benar juga, sini duduk samping Aa, biar Aa semangat kerjanya!"


Juan Mahardika masuk kamar kabin pribadinya mencari istri tercinta, "Sayang!" teriaknya.


Yang ada hanya ponsel milik Elfa yang tergeletak di atas meja rias. Pemilik ponsel tidak terlihat di mana pun termasuk kamar mandi juga kosong, "Pasti di kamar Jamine ini orangnya," monolog Juan Mahardika sendiri bergegas ke luar kamar.


Pintu kamar kabin milik Jasmine sengaja tidak ditutup oleh Elfa. Jika sewaktu-waktu Kris terbangun akan mudah memanggil tim dokter. Jika memerlukan sesuatu, Elfa tinggal teriak dari pintu tanpa harus ke luar kamar.


Sudah lebih dari tengah hari Kris belum juga terbangun. Jika dilihat sekilas seolah Kris tidak ingin terbangun lagi dari mimpi indahnya. Elfa hanya bisa terdiam memandangi tubuh Kris yang masih tidak bergerak.


Elfa jadi teringat masa sulit dulu sendirian menanggung derita tanpa dibagikan pada siapa pun. Seperti itulah sikap Kris saat ini, semua dipendam dan disembunyikan dari dunia. Hanya bisa menebak persoalan yang dialami lebih dari persoalan sendiri.


Elfa terus saja melamun, matanya tertuju pada Kris yang masih terlelap. Namun pikirannya melayang pada masa lalu yang tidak mudah bagi dua sahabat pejuang gadis. Terutama Kris, dari kecil selalu saja mengalami peristiwa yang sangat menyakitkan.


Mulai dari mengenal Jonny Evans dan mengenal cinta, Kris belum merasakan indahnya cinta sejati. Kini harus mengalami masalah yang lebih besar dari peristiwa Jonny Evans. Yang lebih parah lagi tidak seorang pun yang membantunya termasuk dua sahabat.


Juan Mahardika masuk kamar Jasmine, Elfa tidak menyadari sama sekali. Kris mulai menggerakkan kakinya, tetapi Elfa tidak melihatnya, "Sayang lihatlah, kaki Kris mulai bergerak!"


BERSAMBUNG

__ADS_1


Yok mampir di novel teman yang rekomen ini



__ADS_2