Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 212. Gagal Karena Berduka


__ADS_3

"Tidak, lebih baik Henry menahan sakit saja dari pada memegang bulu itu!" terik Henry Alexander dari pintu.


"Kamu itu aneh, mengapa pobia ayam, tetapi kamu bisa makan ayam goreng?"


Henry Alexander tergelak tetapi meringis, lebih tepatnya bukan pobia ayam tetapi pobia bulu ayam. Dulu waktu kecil pernah berkunjung di peternakan saat tinggal di Singapura bersama orang tua. Peternakan itu milik sahabat almarhum ayah kandung yang berada di pinggir kota.


Tanpa sengaja Henry kecil terjatuh ditumpukan bulu ayam yang akan dijadikan kerajinan tangan saat bermain petak umpet. Henry kecil seolah berada ditengah lautan bulu ayam sampai badan tidak terlihat. Menangis sejadi-jadinya saat itu hanya terdengar suaranya saja.


Papa Alexander mencari Henry kecil dengan ikut masuk ditumpukan bulu ayam sambil meraba. Ditarik keatas sudah dalam keadaan lemas dan keringat dingin. Sejak saat itu tidak pernah mau lagi diajak datang ke peternakan.


"Asal melihat ayam itu sudah tidak ada bulunya tidak apa-apa," jawab Henry Alexsander masih berdiri di samping pintu.


Juan Mahardika membuang bulu ayam itu di tempat sampah. Memberikan tips kedua saja untuk mengatasi saat senjata menegang. Yaitu dengan menggelitiki telapak kaki kanan dan kiri bergantian.

__ADS_1


"Jadi kamu tetap doyan makan ayam?"


"Doyanlah, ayam itu proteinnya tinggi. Apalagi kalau dimasak stik ayam, rasanya sangat lezat."


Sehari, dua hari, twins baby mulai beraktifitas normal. Tidak begadang lagi seperti saat umur sebelum sebulan. Sampai hampir satu minggu berlalu dua bayi bule semakin banyak terjaga dan bermain pada siang hari. Jam tidur mulai berkurang saat siang hari dan banyak terlelap saat malam hari.


Selama satu minggu juga Asisten Dwi Saputra bolak-balik Jakarta Bogor untuk menemani Rena sedang merawat ibu yang sedang sakit. Kabar terakhir hari Jum'at sore ini ibu mengalami koma dan tidak sadarkan diri. Sehingga dengan terpaksa Asisten Dwi Saputra langsung meninggalkan pekerjaan di Jakarta.


Semua perawatan bertepatan dengan berakhirnya nifas Elfa. Dengan sengaja Juan Mahardika memberikan pelayanan khusus untuk istri tercinta. Bahkan Nany Sofia dan Bibi Suti juga dibebaskan untuk memilih perawatan yang diinginkan.Ditambah semua bibi yang bekerja di rumah, semua mendapatkan perawatan khusus sesuai reques.


Juan Mahadika pulang dengan semangat empat lima sore ini bertepatan Elfa selesai melakukan perawatan. Khusus untuk Elfa hampir seharian melakukan perawatan karena sering break sebentar untuk memberikan ASI pada twins baby.


Baru saja melangkah di pintu utama dan disambut oleh Elfa yang baru turun dari tangga. Ponsel Juan Mahardika berdering dengan kencang. Panggilan pribadi dari Asisten Dwi Saputra yang ada di rumah sakit Aljuzeka.

__ADS_1


Asisten Dwi Saputra mengabarkan jika ibu mertuanya baru saja meninggal dunia lima menit yang lalu. Insan manusia hanya bisa berencana dan berusaha. Namun, yang menentukan takdir hanya Allah Azzawazalla. Juan Mahardika hanya berganti baju, mencium pipi twins baby dan mencium sekilas bibir Elfa kemudian berangkat ke Bogor.


Buka puasa yang sudah dipersiapkan seharian ini gagal total. Dengan terpaksa Elfa dan twins baby hanya mendoakan dari rumah dan tidak ikut ke Bogor. Juan Mahardika hanya ditemani Henry Alexander yang ikut ke Bogor untuk mengucapkan bela sungkawa.


"Titip salam untuk Rey, mintakan maaf karena El tidak bisa ikut kesana."


"Seharusnya El juga minta maaf kepada pusaka bumerang, dia juga berduka hari ini!"


"Eee ...?"


BERSAMBUNG


__ADS_1


__ADS_2