Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 46. Penyakit Malaria


__ADS_3

Sudah dua minggu berlalu tanpa terasa Elfa bertugas menjadi relawan. Keadaan tanah yang becek, lingkungan yang masih kumuh belum teratasi. Mulai bermunculan penyakit penyerta paska bencana.


Mulai dari kulit gatal, batuk, pilek dan flu banyak menyerang para korban yang mengungsi. Kurangnya fasilitas MCK juga menyebabkan semakin menambah penyakit itu berkembang cepat. Perbandingan pengungsi dan fasilitas umum juga sangat mempengaruhi penanganan paska bencana.


Lokasi bencana dekat laut, dan dekat pula hutan mangrove. Nyamuk aedes aigypti, nyamuk anopheles mulai menyerang. Banyak relawan dan korban bencana satu persatu tumbang terjangkit penyakit demam berdarah atau malaria.


Dalam rombongan Elfa yang terkena pertama kali adalah Dokter Sintya. Awalnya hanya demam dan sekit kepala yang dirasakan. Namun, lama-kelamaan badan menggigil dan keluar banyak keringat. Semua itu adalah ciri-ciri gejala penyakit malaria.


Penyakit malaria disebabkan oleh infeksi parasit. Penularannya terjadi melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Penyakit ini dapat menimbulkan gangguan yang fatal jika tidak segera diatasi.


Penyakit malaria disebabkan oleh parasit bernama plasmodium. Saat gigitan nyamuk membuat parasit tersebut masuk ke tubuh. Akan menyerang organ hati lalu menginfeksi sel darah merah.


Hanya nyamuk Anopheles betina yang dapat menyebabkan malaria. Maka dari tidak semua orang tahu cara mengenali dan menghindari gigitan nyamuk ini. Setelah terkena penyakit ini baru ketahuan, bahkan terkadang sampai terlambat penanganannya.


Untungnya Dokter Sintya bisa mengenali gejala yang dirasakan. Sehingga cepat ditangani dengan berangkat ke rumah sakit yang ada di kota. Dengan menggunakan helikopter milih angkatan darat.


Elfa mulai terasa gejala yang sama dengan Dokter Sintya setelah tiga hari dokter itu dirawat di kota. Terus menekan kelapa karena merasa pusing. Elfa duduk bersandar di kursi yang ada di tenda posko bencana.


Pak Jamal yang awalnya berada di luar tenda bergegas mendekati Elfa, "Ada apa, Neng?"


"Kepala El sangat pusing sekali, Pak Jamal."


"Apakah gejalanya seperti Dokter Sintya kemarin, Neng?"


"Iya kayaknya, Pak."


"Cepat periksa, Neng. Jangan sampai terlambat!"


"Semua dokter masih sibuk nanti saja, Pak."


"Eee jangan begitu, di sini saja jangan ke mana-mana. Pak Jamal yang akan memanggil dokter!"


"Tidak usah repot-repot, Pak."


"Tidak, ini sudah menjadi kewajiban Bapak." Pak Jamal langsung meninggalkan Elfa sendirian.


"Apa maksud kewajiban Pak Jamal?" Sayangnya Pak Jamal sudah tidak mendengar pertanyaan Elfa.

__ADS_1


Elfa terus menekan kepala karena pusing semakin terasa. Hanya bisa menyenderkan badan dan kepalanya di kursi yang diduduki. Badan terasa pegal dan ngilu semua seperti selesai bekerja keras tanpa berhenti.


Sudah lebih dari dua jam Elfa menunggu Pak Jamal, tetapi tidak kunjung datang. Dokter juga tidak ada yang datang karena semua sedang bertugas di lapangan. Akhirnya Elfa beristirahat di tenda khusus miliknya.


Pak Jamal datang dan memanggil Elfa dari luar tenda. Panggilan dengan suara keras berkali-kali. Pintu yang tidak bisa diketuk karena terbuat dari parasut, "Neng! Neng El ada di dalam?"


Pintu tenda ditutup rapat dari dalam, Pak Jamal hanya mengandalkan suara untuk memanggil Elfa. Suara Pak Jamal terdengar ngos-ngosan seperti selesai lari maraton.


"Ada apa, Pak?"


"Belum ada yang datang ke sini?"


Elfa tidak menjawab pertanyaan Pak Jamal, lebih memperhatikan wajah laki-laki yang ada di depannya. Keringat mengalir deras, wajah terlihat memerah karena kecapean. Ditambah napas yang memburu terlihat sangat capek.


"Pak Jamal dari mana?"


"Dari pantai."


"Ngapain ke pantai jam segini?"


"Mencari informasi, sudah jangan memperdulikan Pak Jamal. Bagaimana keadaan Neng El sekarang?"


"Jangan di tutup dari dalam ya, Neng. Pak Jamal akan memanggil Dokter Ratna!"


"Baik, Pak."


Dokter Ratna adalah dokter pengganti Dokter Sintya. Awalnya Dokter Ratna bertugas mengobati anak-anak. Karena dokter yang belum menikah itu adalah dokter anak.


Hanya dalam sepuluh menit, Pak Jamal datang bersama Dokter Ratna. Dengan sedikit dipaksa dokter itu datang dengan terus di tarik tangannya oleh Pak Jamal. Padahal dokter sedang memeriksa pasien di rumah sakit tenda.


"Neng El!" teriak Pak Jamal.


"Ya, Pak!" teriak Elfa dari dalam.


"Pak Jamal menunggu di luar, tetapi Dokter Ratna izin masuk ya!"


"ya silakan masuk!"

__ADS_1


Dokter Ratna memeriksa dengan teliti hampir seperempat jam lamanya. Dokter memastikan Elfa juga mengalami gejala malaria seperti Dokter Sintya. Walau baru mengalami gejala awal dan diberikan obat mencegahan sebelum diantar ke rumah sakit yang ada di kota.


Pak Jamal mendatangi posko transportasi dengan berlari sekencang mungkin. Meminta helikopter untuk mengevakuasi pasien dengan gejala malaria. Hanya sayangnya helikopter sedang mendistribusikan bantuan ke daerah terpencil yang tidak bisa dijangkau jalan darat.


Berita sakitnya Elfa sampai di telinga Dokter Charnnet. Laki-laki itu kebingungan karena tidak bisa membantu mencarikan transportasi. Kendala komunikasi yang mati total membuat dia emosi dan frustasi.


Berlari mendekati tenda Elfa ingin memeriksa keadaan gadis pujaan hati. Hanya sayangnya dijaga ketat oleh teman Pak Jamal. Pesan Pak Jamal tidak seorang laki-laki pun yang masuk dalam tenda Elfa termasuk Pak Jamal sendiri.


Akan ada relawan wanita yang akan menjadi perantara saat ingin bertemu atau perlu bicara dengan putri pengusaha keturunan Arab itu. Menambah Dokter Yohan Charnett semakin Frustasi dan emosi.


Menjelang senja, Pak Jamal datang dengan berlari sekencang mungkin dari kejauhan. Laki-laki yang sudah tidak muda lagi itu datang dengan bermandikan keringat. Napasnya terengah-engah seperti selesai melakukan lari maraton sepuluh kilo meter jauhnya.


"Semua aman?" tanya Pak Jamal kepada temannya.


"Aman terkendali, Pak."


"Bagaimana dengan keadaan Nona di dalam."


"Nona sedang beristirahat setelah diberikan obat oleh Dokter Ratna."


"Sebenarnya kalian ini siapa?" tanya Dokter Yohan Charnett kesal.


"Anda tidak perlu tahu, sebaiknya Anda tidak usah ikut campur dengan Nona Kami!" kata Pak Jamal dengan suara tegas.


"Aku ingin mengetahui keadaan Elfa di dalam sana, aku ini juga seorang dokter!" teriak Dokter Yohan Charnett dengan kesal.


"Tidak perlu, saya tahu betul Anda. Silakan pergi dari sini!"


Sampai pagi hari, helikopter tidak bisa mengevakuasi Elfa. Ada terkendala cuaca buruk dengan hujan deras disertai angin topan. Tidak ada tempat untuk helikopter mendarat, semua kembali porak-poranda tempat yang biasa untuk mendaratklan helikopter.


Sampai pagi hari Dokter Yohan Charnnet tidak beranjak dari depan pintu tenda Elfa. Tetap tidak diizinkan masuk oleh Pak Jamal. Pintu dijaga oleh empat orang teman Pak Jamal dengan ketat.


Menjelang pagi, keadaan Elfa mulai menggigil kedinginan. Relawan wanita yang menjaga Elfa terus melaporkan kondisi Elfa setiap setengah jam sekali. Dokter Ratna juga menjaga Elfa bersama relawan wanita di dalam tenda.


Pak Jamal kembali berlari entah ke mana dalam keadaan pagi buta. Satu jam kemudian datang dengan keadaan yang sama bermandikan keringat dan napas yang memburu. Karena semakin khawatir Dokter Yohan Charnett memaksa untuk masuk, "Minggir aku yang akan membawa Elfa ke kota!" tertiaknya.


"Dengan apa Anda membawa Nona?"

__ADS_1


"Dengan jalan kaki pun akan aku lakukan."


Tiba-tiba ada suara derap langkah datang dan terdengar suara bariton yang menggema, "Jangan sekali-kali sentuh gadis itu, dia hanya milikku!"


__ADS_2