Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Babak 86. Sengaja Kesandung


__ADS_3

"Jangan khawatir, Akak hanya akan memeluk El saja kok, kemarilah!"


Elfa ragu-ragu berdiri dan berjalan mendekati tempat tidur. Keringat dingin mulai keluar dari badan tanpa disadari. Mulai dari telapak tangan, lengan sampai pipi mulai dingin. Lagi-lagi rasa takut itu datang dengan sendirinya, walau sudah meyakinkan hati tidak akan terjadi lagi.


"Baru menggenggam tangan Elfa, Juan Mahardika langsung duduk dan meletakkan ponselnya ke sembarang tempat, "Ya Allah ya Rob, Garwoku. Apakah masih takut sama pusaka bumerang Akak?"


Elfa menganggukkan kepala dan berdiri di samping tempat tidur. Tidak menyangka hati dan pikiran susah sekali diajak sejalan. Padahal dulu dan sekarang situasinya sangat berbeda.


"Kok keringat dingin lagi, apakah El masih takut? Sebesar ini akibat yang Akak lakukan dulu. Ampuni Juan ya Allah."


Juan Mahardika mengusap pipi Elfa berkali-kali. Menggosok telapak tangan agar hangat, "Kemarilah Akak peluk!"


Elfa hanya membenamkan wajahnya di dada Juan Mahardika. Tidak berani memandang wajahnya sedetikpun. Hanya ingin terus meyakinkan hati, ingin menetapkan hati tidak mungkin peristiwa itu terjadi lagi.


"Kak, El mau berbaring."


"Sini, di sebelah Akak." Juan Maharika menepuk bantal yang ada di sebelahnya. Meletakkan tangan sendiri untuk tumpuan kepala Elfa.


Dibelai rambut dan pipi Elfa dengan lembut, "Akak sangat mencintai El, seluruh jiwa dan raga ini semua tercipta hanya untuk El. Jangan takut lagi ya?"


Elfa mengangguk sambil memejamkan mata. Ingin merasakan belaian lembut tangan Juan Mahardika. Mungkin jika dengan memejamkan mata lambat laun akan bisa menerima kehadiran suami yang selalu memuja.


"Maafkan El ya, Akak. Jangan marah karena ini!"


"Tidak, Sayang. Ini terjadi juga karena kesalahan Akak."


Juan Mahardika terus memandang wajah Elfa yang yang terpejam. Ada rasa penyesalan yang sangat dalam kini di hati. Sama seperti menyakiti diri sendiri tanpa disadari.


"Kalau El ngantuk tidurlah, Akak hanya akan memeluk El saja."


"El tidur dulu ya, Akak. sekali lagi maafkan El."

__ADS_1


"Tidurlah, El tidak ada salah. Tidak perlu minta maaf."


Elfa tidak berani membuka mata karena tahu dari tadi Juan Mahardika terus saja memandang tanpa berkedip. Jantung rasanya terus berdegup kencang tanpa henti. Masih ada rasa takut jika membuka mata apalagi melihat wajah suami yang selalu mendamba.


Satu menit, lima menit, setengah jam sampai satu jam Elfa terus terpejam tanpa berani bergerak. Sebenarnya belum bisa tidur karena ada tangan yang melingkar di pinggang. Ada suara degup jantung yang terus berdetak dengan kencang


Sampai merasakan suara napas Juan Mahardika yang terasa berhembus mengenai pipi. Sesekali bergerak, mengelus pipi, terkadang juga mengelus bibir dengan lembut.


Kaki Juan Mahardika terkadang juga bergerak seolah menggesekkan sesuatu. Perut ke bawah juga menempel sempurna di badan sampai Elfa, sampai tidak berani menggerakkan apapun termasuk tangan. Membuat hati Elfa semakin bingung dan berkeringat dingin.


"Akak, jangan bergerak terus, El mau tidur," bisik Elfa perlahan tetap memejamkan mata.


"Iya, maaf." Juan Mahardika tersenyum kecut mengecup dahi Elfa dengan lembut.


Dari satu jam yang lalu, pusaka bumerang sudah terbangun sempurna. Menggerakkan kaki berkali-kali agar tertidur lagi. Tidak mungkin malam pertama ini bisa beraksi.


Dulu bingung karena senjata tidak mau terbangun. Setelah kini terbangun bingung karena belum bisa menikmati indahnya beraksi. Tidak bisa terselurkan karena selain masih kedatangan tamu bulanan tidak tega pujaan hati masih mengalami trauma.


Setelah empat jam berlalu, napas Elfa terdengar teratur. Bisa terlelap dalam pelukan Juan Mahardika. Ada rasa nyaman bisa terlelap dalam dekapan sang suami.


Merendam badan di buth-up yang mulai panas dingin meredakan hasrat hati yang menggebu. Kepala terasa pusing bukan karena penyakit, tetapi karena tidak tersalurkan keinginan hati. Hanya bermain sendiri adalah jalan yang terbaik saat ini.


Biasanya diperintahkan untuk tidur, pusaka bumerang langsung tertidur pulas dan menurut saja. Tidak ada drama yang bisa dijadikan alasan untuk memberontak. Namun, kini seolah senjata bumerang terus menuntut lebih dan ingin segera bertemu pemillik asli.


Hampir satu jam Juan Mahardika berendam sambil bersandar di buth-up. Air hangat beraroma terapi bisa meredamkan hasrat hati yang menggebu. Bisa menina bobo kan pusaka setelah bermain sendiri.


Akhirnya bisa ikut terlelap di samping Elfa sampai pagi. Tidur degan memeluk pujaan hati. Bangun tidur menjelang subuh seperti biasa. Mata terbuka sudah tidak ada Elfa di sampingnya.


Elfa keluar kamar mandi sudah dalam keadaan bersih dan rapi. Mandi dan berganti baju di dalam kamar mandi, "Sayang, sudah mandi?"


"Sudah, sana Akak mandi, sebentar lagi sholat subuh lo!"

__ADS_1


"Iya, jangan keluar kamar sendiri ya, tunggu Akak!"


"Baik, El tunggu."


Sambil menunggu suami mandi, Elfa merapikan tempat tidur. Berdandan dengan polesan sederhana, tetapi terlihat cantik dan elegan, "Apa lagi ya yang akan El lakukan, Akak JM lama betul sih?"


Elfa menyiapkan baju untuk Juan Mahardika. Ini yang pertama Elfa lakukan sebagai seorang istri. Baju diletakkan atas tempat tidur samping bantal. Mengikuti kebiasaan Mami Mitha selalu menyiapkan baju saat Papi Alfarizi sedang mandi.


Juan Mahardika ke luar dari kamar mandi seperti kemarin. Hanya melilitkan handuk di pinggang dan panjangnya sampai lutut saja. Dada terlihat serta air yang membasahi rambut dibiarkan menetes di pundak.


"Akak, bajunya sudah El siapkan di atas tempat tidur samping bantal," kata Elfa sambil pura-pura mengelihat kaca.


"Iya, Sayang. Teryata enak banget ya menikah, diperhatikan sampai baju disiapkan. Mengapa tidak sekalian dipakaikan baju?"


Elfa tidak menjawab pertanyaan itu, masih pura-pura berdandan, "El belum selesai, pakai sendiri dong kayak anak kecil saja!"


Juan Mahardika melirik Elfa, mulai bertekat ingin menyembuhkan luka hati. Berjalan mendekati tempat tidur, tetapi pura-pura tidak melihat dan kaki sengaja ditendangkan dipinggir tempat tidur, "Aduuh!" teriaknya.


"Ada apa, Akak?"


Elfa berlari mendekati Juan Mahardika yang berjongkok memegangi jempolnya. Ikut berjongkok melihat jempol yang terlihat memerah, "Akak kesandung tempat tidur."


"Kok bisa sih, sini coba El lihat!"


"Gara-gara melihat bidadari yang sedang berdandan, padahal tidak berdandan saja sudah cantik sekarang berdandan jadi semakin cantik."


"Tidak usah gombal, jempolnya merah nich. Ayo duduk di pinggir tempat tidur, El ambil kotak obat dulu."


Juan Mahardika tersenyum sambil mengangguk tidak menjawab sepatah katapun. Masih berjongkok mengusap jempolnya yang terasa sakit. Menendang tidak tanggung-tangung ternyata sakit juga.


Sampai Elfa kembali membawa kotak obat, Juan Mahardika sengaja belum berdiri dari tempatnya. Masih berjongkok sambil mengusap jempol kaki yang sakit.

__ADS_1


"Akak, ayo duduk di situ!"


Dengan sengaja tangan Juan Mahardika menarik handuk dari samping, sehingga saat berdiri handuk terjatuh kebawah. Ada Elfa yang berdiri tepat di depannya, "Akak, awas kandangnya lepas!"


__ADS_2