
Satu jam, satu hari, sampai satu minggu berlalu. Elfa masih menyendiri di villa. Tidak menghubungi teman kelompok pejuang gadis. Bahkan tidak juga menghubungi keluarga di Jakarta.
Setiap saat dan setiap waktu hanya berharap yang dilakukan sebelum meninggalkan villa Juan Mahardika berhasil. Laki-laki yang dengan paksa merenggut harta berharga satu-satunya akan berhenti setelah kejadian itu. Tidak akan lagi mencari gadis desa hanya untuk memuaskan hasratnya.
Merenung dan memikirkan dengan pertimbangan yang matang. Elfa baru memutuskan setelah melihat pengumuman penerimaan mahasiswa baru kuliah S2 yang di daftar satu minggu yang lalu. Yang lebih parah lagi Elfa di terima di universitas di Autralia.
Elfa kembali termenung dan berpikir. Teringat kata-kata yang pernah dibaca di buku kata-kata mutiara. Tempat yang paling aman untuk bersembunyi adalah di rumah musuh.
"Ini ide cemerlang, El. Lebih baik ambil saja bea siswa ini," monolog Elfa sendiri sambil tersenyum devil.
Tidak ingin terus larut dalam kesedihan karena semua sudah terjadi. Akan disesali pun tetap tidak bisa kembali seperti dulu. Hanya bisa menerima takdir yang sebenarnya tidak diharapkan.
"Semangat El, sekarang ayo songsong masa depan. Jangan menyerah!" monolog Elfa kembali sambil menepuk dadanya.
Pagi ini Elfa menuju markas kelompok pejuang gadis. Berencana berpamitan dan mengundurkan diri dari kelompok untuk sementara waktu. Dengan alasan akan melanjutkan kuliah S2 di Asutralia.
Elfa bertekat tidak ingin menceritakan kejadian malam itu kepada siapapun. Termasuk dua sahabat teman seperjuangan kelompok pejuang gadis. Tidak juga bercerita kepada kedua orang tua dan saudara kandung, semua akan dirahasiakan sendiri dan ditanggung sendiri.
Baru turun dari mobilnya, Elfa langsung di sambut oleh Rena dan Krisnawati dengan berlari memeluknya dengan erat, "Ke mana saja, El. Gue sangat khawatir tidak ada kabar?" tanya Rena.
"Gue kira Elo ditelan bumi," kata Krisnawati.
Elfa membalas pelukan mereka sambil tersenyum. Menyembunyikan luka dan duka hanya dalam hati. Tidak ingin menambah khawatir dua sahabat yang baru ditemui.
"Sorry ... gue lagi konsentrasi ikut tes bea siswa S2."
"Ya Allah, El. uang bokap elo yang segunung itu buat apa sih, mengapa harus susah-susah ikut tes bea siswa?" tanya Krisnawati.
"Elo tahu sendiri, gue tidak suka menonjolkan sultani gue. El akan selalu menjadi gadis desa yang berasal dari Ngawi Jawa Timur."
"Eleh-eleh ... gadis desa yang cantik dan tajir, Gue sangat bangga dengan prinsip sederhana elo." Rena memeluk Elfa lebih erat.
"Ayo masuk gue mau ngongong penting!" Elfa menarik dua tangan kanan dan kiri Rena dan Krisnawati.
Elfa mengajak duduk di kamar yang biasa Elfa tempati. Sambil mengemasi barang yang penting untuk dibawa ke Australia. Berencana hari ini juga akan pulang ke Jakarta untuk mempersiapkan diri.
"Gue sudah di terima di universitas yang ada di Australia, minggu depan gue harus datang untuk daftar ulang."
__ADS_1
"Apa ... secepat itu!" teriak Rena karena kaget.
"Tega banget sih, El. Elo mau ninggalin gue dan kelompok pejuang gadis begitu saja," rengek Krisnawati dengan suara manja.
"Bukan gue tega, ini demi masa depan."
"Elo kuliah lewat online saja, jadi kita masih bisa berjuang bersama," ajak Rena degan wajah yang bersedih.
"Sorry ya guys, gue harus mengundurkan diri dari kelompok pejuang gadis. Gue percaya elo berdua mampu berjuang bersama para korban gadis yang pernah kita selamatkan."
"Yaaah ... El, tidak akan seru kelompok pejuang gadis tanpa ada elo." Krisnawati seolah tidak rela sahabatnya akan meninggalkan kelompok.
Elfa tersenyum sambil memeluk keduanya. Dalam hati rasanya juga sangat berat keluar dari kelompok pejuang gadis. Hanya hatinya tidak akan kuat jika tetap tinggal. Pasti akan terasa sakit selalu teringat kejadian malam itu.
"Tenang saja, walaupun gue tidak ada, gue akan tetap memberikan dukungan dari belakang." Elfa melepas pelukan mereka dan kembali berkemas,
"Maksud elo dana tetap akan elo suport di kelompok kita?" tanya Krisnawati.
"Iya ... setiap bulan gue akan tetap mengirip dana oprasional kegiatan ini."
"Baiklah ...." Rena dan Krisnawati menjawab bersamaan dan pasrah.
Elfa selesai berkemas, hanya satu koper kecil yang dibawa dari markas. Sebagian besar hanya dokumeen dan barang pribadi kesayangan milik Elfa. Tidak membawa pakaian ataupun peralatan umum lainnya.
Baru keluar dan memasukkan koper ke dalam mobil. Memeluk Rena dan Krisnawati untuk berpamitan Ada seorang gadis yang memakai baju kebaya pengantin berlari menuju markas sambil berteriak, "Kak El ... tolong!"
Elfa baru membuka pintu mobil saat melihat Atin berlari mendekat. Gadis lugu yang belum genap berumur delapan belas tahun itu berlari dengan tanpa alas kaki. Berlari dengan napas yang memburu dan sesekali melihat belakang.
"Ada apa, Atin?"
"Tolong Atin, Kak!"
Krisnawati berlari masuk rumah menyambar air mineral dan kembali keluar mendekati Atin, "Ini ... kamu minum dulu!"
"Terima kasih, Kak Kris."
Atin menenggak satu botol air mineral dalam satu teguk tanpa sisa. Menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan. Mencoba tenang dengan mengusap dadanya perlahan.
__ADS_1
"Sudah bisa bercerita sekarang?" tanya Rena.
"Sudah bisa, Kak."
"Silahkan bercerita!"
Atin bercerita ayahnya menemukan persembunyian selama beberapa hari ini. Dipaksa untuk pulang dan akan kembali dinikahkan sirri dengan pengusaha kaya raya dari luar negeri. Sebelum ayahnya datang Atin kabur lewat pintu belakang tanpa membawa satupun barang berharga miliknya.
Tidak bisa menghubungi pejuang gadis karena ponsel sudah disita oleh orang tua. Yang bisa dilakukan hanya mencoba kabur dengan segala cara. Untungnya dengan pengalaman bersama Elfa meloloskan diri bisa dilakukan sendiri.
"Kamu di sini untuk sementara, nanti identitas dan keperluan kamu Rey dan Kris yang akan mengurusnya!" perintah Elfa.
"Baik Kak El, terima kasih."
"Baiklah gue pamit dulu."
"Kak El mau ke mana?" tanya Atin.
"Nanti mereka berdua yang akan bercerita, Kak El hanya berpesan kamu jangan menyerah, bantu perjuangan kelompok pejuang gadis, dengar Atin?"
"Iya ... Kak El. Atin akan melanjutkan perjuangan pejuang gadis."
"Bagus, selamat tinggal semua. Assalamualaikum."
"El tunggu!" teriak Rena sambil merentangkan tangan.
Elfa tersenyum menyambut Rena yang berlari mendekatinya. Memeluk sahabat seperjuangan dengan erat, "Elo jaga diri ya, Rey!"
"Gue harap setelah selesai pendidikan elo kembali ke sini lagi."
"Gue tidak janji, insyaallah."
Krisnawati ikut memeluk dua sahabat yang sedang berpelukan, "Gue pasti sangat merindukan aksi elo saat lompat pagar," canda Krisnawati.
"Ha ha ha!"
"Assalamualaikum."
__ADS_1
"Walaikum salam ... Bye."