Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 15. Dirahasiakan


__ADS_3

Lebih dari dua minggu Juan Mahardika tidak berkunjung ke kafe Jonny Evans. Pemilik kafe esek-esek itu hanya menghubungi Juan Mahardika menggunakan vedio call saat sedang berkabung kemarin. Tidak bisa datang langsung ke Autralia hanya bisa mendoakan dari jauh saja.


Saat Juan Mahardika memasuki pintu kafe. Kebetulan Jonny Evans sedang berbincang dengan pelanggan dari timur tengah. Tersenyum simpul melihat sumber pundi-pundi rupiah mulai datang berkunjung.


"Apa kabar, Bro? Masuk aja dulu kantor gue, nanti gue nyusul!" teriaknya.


Juan Mahardika berjalan sambil mengacungkan jempolnya. Berjalan menuju kantor milik Jonny Evans tanpa kata. Hati dan pikiran masih bingung dan galau memikirkan pusaka yang tidak mau terbangun.


Hati masih belum percaya apa yang terjadi dengan pusakanya. Masih ingin merahasiakan  sendiri tidak ingin dibagi pada siapapun. Termasuk pada Jonny Evans atau dengan keluarga yang ada di Australia.


Juan Mahardika akan merasa malu jika ada orang yang mengetahui tentang pusaka miliknya. Akan turun drastis reputasi dan citra keluarga Mahardika. Lebih memilih diam dan mencari tahu sendiri cara mengatasi masalah pribadi.


"Sudah siap berpetualang, Bro?" tanya Jonny Evans yang baru masuk kantor.


"Apakah elo ada yang istimewa hari ini?"


"Yang istimewa seperti apa maksud elo?"


"Gue mau yang agresif, kalau perlu yang nakal dan pintar beraksi."


"Beres ... elo butuh berapa lama?"


"Gue tidak mau lagi nikah sirri, gue hanya butuh hari ini saja karena sore harus sudah balik ke Jakarta."


Juan Mahardika mengajak gadis yang direkomen dari Jonny Evans ke hotel. Hanya reservasi untuk satu hari saja tanpa menginap. Berharap gadis yang dibawa kali ini bisa membuat pusaka terbangun dari tidurnya.


Baru masuk beberapa langkah di kamar hotel. Gadis itu langsung beraksi dengan mendorong Juan Mahardika diatas tempat tidur. Dengan posisi Juan Mahardika terlentang, gadis itu beraksi dengan posisi diatas sambil bertumpu pada tangan dan lutut.


Juan Mahardika hanya terdiam sambil melihat aksi gadis itu dengan penuh semangat. Mulai dai beraksi di bibir dan pindah ke leher. Sampai gadis itu berpindah di area perut bagian bawah.


Juan Mahardika terus memandang gadis yang seperti cacing kepanasan. Aksinya sangat lihai dan profesional. Tanpa malu dan tanpa sungkan terus beraksi walau tanpa dibalas aksinya oleh Juan Mahardika.

__ADS_1


"Apakah boleh aku buka ini, Bos?" tanya Gadis itu sambil memegang resleting celana miliknya.


"Jangan, elo harus beraksi dan buktikan dulu kemampuan sampai di mana bisa beraksi memuaskan gue."


"Baiklah ...." 


Sepuluh menit, setengah jam dan bahkan satu jam sudah berlalu. Gadis itu mulai mengurangi aksinya karena kelelahan. Juga karena sudah mencapai pelepasan sendiri karena aksinya.


Juan Mahardika sama sekali tidak terpancing atas aksi gadis itu. Walau pikirannya mulai merasakan sentuhan di beberapa tempat. Sayangnya pusaka tetap tertidur pulas tanpa terusik sedikitpun.


Gadis itu langsung merebahkan tubuhnya di samping Juan Mahardika. Napasnya terengah-engah sambil memejamkan mata. Aksi yang dilakukan sama sekali tidak membuat Juan Mahardika merespon.


Juan Mahardika awalnya terdiam melihat gadis itu sudah kehabisan tenaga. Tidak merespon atau marah walaupun kepala rasanya mau pecah. Memikirkan pusaka yang tak kunjung terbangun juga.


"Aaarh ... Elo tidak bisa membuat gue puas, sono pegi!" teriak Juan Mahardika.


"Tapi saya sudah ...?" Gadis itu tidak melanjutkan ucapannya karena Juan Mahardika langsung duduk menjauh.


"Saya sudah berusaha satu jam lebih, Bos. Tetapi Anda ...?"


"Dasar bodoh, sudah gue bilang pada bos elo yang profesional, dikasih amatiran!"


"Bagaimana dengan bayaran saya, Bos?"


"Ini gue tambah jadi dua kali lipat, jangan elo cuap-cuap di luar sana, nanti gue sebarkan di kalangan pelanggan Jonny Evans kalau elo tidak mampu memberikan servis yang memuaskan pada pelanggan, mengerti?"


"Iya iya ... Bos, jangan halangi saya mencari nafkah dong."


"Baik gue tidak akan menuntut elo dengan syarat elo diam saja tidak perlu bercerita kepada siapapun."


"Ok siap, Bos."

__ADS_1


Gadis itu ke luar kamar hotel milik Juan Mahardika setelah mengenakan bajunya kembali dengan rapi.  Mengambil uang yang telah disodorkan dengan jumlah dua kali lipat. Seolah hari ini mendapatkan rezeki nomplok.


Juan Mahardika tersenyum devil melihat gadis itu keluar kamar hotel. Bersyukur gadis itu tidak mencurigai apa yang terjadi pada pusakanya. Hanya sedikit bersilat lidah Juan bisa menutupi dan menjaga nama baik sebagai si casanova.


Kemampuan untuk membalikkan fakta seolah menjadi korban, dengan mudah bisa Juan Mahardika lakukan. Tidak akan ada yang curiga yang baru saja dialami. Tetap bertekad tidak ingin seorangpun mengetahui.


Juan Mahardika membuka dan melihat pusaka miliknya yang tetap teretidur. Tidak pernah mengalami kesulitan beraksi selama ini. Bahkan sehari tiga sampai empat kali melakukan dengan wanita yang berbeda pernah dilakukan.


"Apa sebenarnya yang terjadi sih?" monolog Juan Mahardika mengajak pusaka berbincang.


Sambil menutup dan mengusap pusaka dengan lembut kembali Juan Mahardika bermonolog, "Biasanya elo gagah perkasa menerjang wanita manapun yang sudah masuk perangkap. Mengapa sekarang elo tidak mau beraksi?"


Melamun dan termenung di kamar hotel sampai lupa waktu. Yang rencananya sesaat setelah bisa beraksi akan segera meninggalkan hotel. Sekarang sudah hampir senja belum juga ke luar kamar.   


Enggan melakukan apapun juga. Bahkan sudah melewatkan meeting penting di kantor. Hanya mengandalkan Asisten Dwi Saputra melakukan tugas sebagai tangan kanan.


Seolah pekerjaan tidak penting lagi bagi Juan Mahardika. Padahal dulu selalu disiplin waktu. Selalu bertanggung jawab dengan pekerjaan yang menjadi tugasnya.


Sekarang ini semangat dan motivasi kerja menurun seiring tidak di temukan jawaban pusaka yang masih tertidur pulas dan mati suri. Pekerjaan sering terbengkalai tanpa sebab. Tetap menjadi rahasia yang ditutup rapat tak seorang pun yang tahu.


Untuk menutupi kelemahan yang sekarang ini terjadi, Juan Mahardika sering ke luar malam ke diskotik ataupun klub malam. Merayu wanita hanya sekedar merayu dan tidak pernah berakhir sampai di atas ranjang.


Sudah berlalu selama tiga bulan, pusaka milik Juan Mahardika tetap tertidur pulas. Tetap tidak menemukan sebab pusaka enggan terbangun. Padahal sudah berpuluh kali mencoba untuk di bangunkan.


Pekerjaan juga banyak yang tidak tertangani dengan baik. Untung Asisten Dwi Saputra masih bisa mengatasi walaupun keteteran. Bahkan sang asisten pun tidak mengetahui apa permasalahan yang dialami tuannya.


Juan Mahardika mulai kurang tidur, terlalu banyak melakukan dan termenung. Jarang bisa konsentrasi tentang pekerjaan atau tugas yang ada. Seolah tidak ada tenaga lagi selama pusaka terdiam lemah tak berdaya.


"Dwi, kamu handle semua pekerjaan. Aku akan kembali ke Australia untuk berobat!" spontan Juan Mahardika mengatakan.


"Sebenarnya Anda sakit apa sih, Tuan?"

__ADS_1


__ADS_2