
"Akak, bacanya dari atas, jangan baca yang itu saja!"
"Ooo baiklah."
Setelah membaca artikel dari awal, Juan Mahardika mulai faham dan mengerti. Bukan dilarang beraksi, tetapi hanya berhati-hati dan dikurangi. Demi ibu hamil tidak kelelahan dan bayi juga sehat.
"Akak bisa dan sanggup, 'kan?"
"Insyaallah, demi El dan demi bayi kita, tetapi tidak tahu prakteknya nanti."
"Alhamdulillah, Akak masih mengantuk?"
"Tidak."
"Kalau begitu sekarang El yang tidur ya?"
"Tidurlah, sini Akak peluk biar lebih nyenyak tidurnya!"
Elfa terlelap dalam pelukan Juan Mahardika hampir satu jam lamanya. Sampai depan hotel pun mata Elfa belum terbuka. Tidak ingin membangunkan sang istri yang tertidur pulas, Juan Maharika langsung menmggendong bridal Elfa sampai kamar.
Yang tertidur pulas juga tidak sadar sekarang sudah ada di atas tempat tidur di kamar hotel. Sampai jam lima mata baru terbuka dan berada di kamar sendirian, "Kok sudah ada di kamar hotel, ke mana Akak?" tanya Elfa sendiri.
Elfa melihat jam sudah sore, bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan menunaikan ibadah sore. Semua sudah selesai pun sang suami tidak muncul dan entah ke mana, "Ke mana sih Akak ini?" monolog Elfa sendiri.
Menghubungi menggunakan ponsel ternyata ponsel tidak dibawa dan berada di samping bantal. Elfa membuka pesan WA di ponsel suami dan membaca pesan suami yang ditujukan pada Dokter Emy, "Coba jelaskan tentang kehamilan trimester pertama?"
"Oooo berarti Akak penasaran tentang artikel tadi," kata Elfa sambil membaca jawaban pesan WA dari dokter kandungan itu yang mengatakan untuk mengajak meeting dadakan dengan tim dokter dan menjelaskan lebih detail tentang timeseter pertama.
"Mereka meeting di kafe yang ada di samping lobi, biarkan saja deh. Lebih baik El cari kuliner yang enak di Balikpapan mumpung masih ada di sini."
Ada banyak kuliner khas Balikpapan yang terlihat sangat familier dan sangat menggoyang lidah. Mulai dari oleh-oleh peyek kepiting, abon kepiting, dan pepes kepiting. Ternyata ada juga sambal gami cumi, amplang dan ikan asin kipas.
"Mengapa sebagian besar dari bahan kepiting, tetepi terlihat enak. Nanti beli untuk oleh-oleh deh, siapa yang mau ya oleh-oleh dari Balikpapan?" monolognya sendiri.
Yang membuat Elfa sampai hampir meneteskan air liurnya, saat melihat menu kepiting soka bumbu saos padang yang dihampar di meja. Dengan beralaskan alumunium foil dan jumlah kepiting yang cukup untuk makan sekitar empat atau lima orang. Ditambah jagung rebus sebagai karbohidrat.
"El mau makan kepiting ini sekarang," kata Elfa sendiri sambil mengusap ponselnya
__ADS_1
Tanpa diduga pintu terbuka, Juan Mahardika masuk dan mendengar ucapan istri tercinta, "Pingin apa, Sayang?"
"Ini lo, Akak. El mau sekarang ya!" Elfa memberikan ponsel miliknya kepada suami.
Setelah melihat dan membaca restoran yang tertera di ponsel. Juan Mahardika menghubungi karyawan yang stanbye di kamar hotel. Memerintahkan untuk mengantar dan memandu menuju ke restoran.
"Ayo berangkat, Sayang!"
"Tim dokter dan kru tidak diajak, Kak?"
"Mereka baru saja ke luar sendiri, ada yang ke mall ada juga yang sedang mencari oleh-oleh."
"El juga mau mencari oleh-oleh, Akak."
"Tentu, setelah makan kepiting hampar kita cari."
Sore yang sangat cerah, Elfa dan Juan Mahardika menyusuri jalan utama kota Balikpapan. Kota yang sebagian besar pegunungan dengan nama yang sangat unik. Elfa selalu membaca nama setiap sudut daerah dengan diawali nama gunung.
Elfa membaca dari keluar hotel ada kota yang bernama Gunung Bahagia. Gunung Samarinda, Gunung Belah, Bunung Bugis, Gunung Malang. Sambil tersenyum Elfa terus membaca nama kota yang di lewati. Karena penasaran Elfa bertanya kepada karyawan yang sedang mengantar ke restoran.
"Benar sekali, Nyonya. Kota Balikpapan sebagian besar daerah pegunungan, ada juga rawa yang berada dipinggiran kota. Yang lebih unik lagi jalan raya di sini banyak tanjakan yang curam, tidak ada jalan yang lurus seperti di Jawa."
"Namanya apa lagi selain yang dilewati tadi, Pak?"
"Masih ada banyak sekali, Gunung Menangis, Gunung Guntur, Gunung Tembak."
Elfa semakin tergelak, mendengar cerita karyawan yang sedang menyetir menuju restoran. Jika daerah pegunungan biasanya yang susah didapat adalah air bersih. Apalagi saat musim kemarau tiba, di daerah pulau jawa biasanya sumur akan mengering.
"Bagaimana dengan air minum di sini, Pak?"
"Di sini mengandalkan air dari perusahaan yang dikelola pemerintah daerah, bagi yang tinggal di atas pegunungan air jarang bisa mengalir, hanya malam hari saja bisa mendapatkan air, jadi sebagian besar mengandalkan air hujan yang ditampung di bak besar."
"Apakah tidak ada sumur?" tanya Elfa lagi.
"Di sini tidak ada sumur seperti di Jawa, Nyonya. Ada sumur bor tetapi airnya banyak mengandung minyak."
Tanpa terasa mobil masuk di parkiran restoran yang sangat luas, "Di sini apa nama kotanya, Pak?"
__ADS_1
"Namanya Gunung Samarinda Baru, sinilah kotanya author Muda Anna, kota pusat kuliner. Akan sangat ramai saat malam hari."
"Ayo masuk, Sayang!" Juan Mahardika menggandeng masuk restoran yang sangat ramai.
"Akak bau kepitingnya sangat harum sekali, cepat pesan!"
Di restoran, tidak hanya ada menu kepiting saja. Ada banyak menu ikan bakar dari ikan yang beragam. Ada juga menu ayam bakar dan ayam geprek dengan sambal yang sangat pedas.
"Pak, mau pesan apa?" tanya Juan Mahardika kepada karyawannya.
"Saya ikan bawal bakar saja, Tuan."
Elfa duduk dengan tidak sabar menunggu pesanan datang. Karyawan sudah mulai menikmati ikan bawal bakar. Pesanan Elfa belum juga datang karena menu kepiting hampar porsi besar.
Chef nya langsung yang membawa pesanan Elfa setelah matang, " Permisi, ini pesanan Anda." Chef langsung menuangkan menu kepiting di atas meja langsung dengan beralaskan alumunilum foil.
"Terima kasih, Chef," ucap Juan Mahardika.
"Sama-sama, Selamat menikmati."
Senyum Elfa langsung mengembang tidak sabar lagi menikmati hidangan yang di pesan. Ini sangat cocok dengan lidah Juan Mahardika karena tidak terbiasa makan nasi. Hanya jagung rebus yang dicampur dengan kepiting saos padang sebagai karbohidratnya.
"Akak, enak sekali rasanya."
"El mau tambah?"
"Tidak, ini saja masih banyak. Kalau Akak merasa kurang sana pesan yang lain!"
"Tidak, Akak kenyang juga."
Sensasi makan kepiting paling asyik saat menyeruput capit yang sudah dipecahkan dengan tang khusus pemecah cangkangnya. Rasa pedas, manis dan sedikit asam dengan perpaduan gurihnya daging kepiting membuat lidah tidak berhenti mengunyah. Apalagi makan langsung menggunakan tangan, nikmat mana lagi yang engkau dustakan.
Tanpa diduga sedang asyik menikmati kepting hampar datang wanita berumur sekitar empat puluh tahun mendekati mereka, "Apakah Saya tidak mimpi, Anda Tuan Juan Mahardika, 'kan?"
Elfa langsung berbisik di telinga suaminya, "Akak, apakah wanita itu termasuk mantan masa lalu?"
"Eeee ...!"
__ADS_1