Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 28. Kerja Sama


__ADS_3

"Innalilahi wa inna ilaihi rojiun."


Umi Anna berpulang ke Rahmatullah dalam usia delapan puluh satu tahun. Umur manusia tidak ada yang bisa mengetahui. Karena sejatinya setiap makhluk Allah yang bernyawa pasti akan mengalami kematian.


Setiap insan akan berbeda waktu, tempat umur dan takdir. Umi Anna harus lebih dulu di panggil yang maha kuasa. Takdir yang tidak bisa dihindari dan harus diikhlaskan.


Suasana berkabung sangat terasa di rumah duka. Semua hanya bisa ikhlas dan bersabar menerima takdir Ilahi Robbi. Saat itu juga Almarhumah Umi Anna di makamkan di pemakaman umum.


Dengan linangan air mata, seluruh keluarga mengantar Almarhumah Umi Anna di peristirahatan terakhir. Setelah semua prosesi selesai dilakukan dari memandikan, mengkafani dan mensholatkan. Langsung di berangkatkan di pemakaman yang jauh dari rumah, tetapi Alhamdulillah tidak melawatkan waktu sholat satupun.


Yang sangat terpukul karena kehilangan Umi Anna adalah Elfa. Mengingat Umi Anna meninggal dunia saat berada dalam pelukan. Tidak menyangka meninggal tanpa terlihat sakit atau tersiksa.


Elfa terus melamun setelah pemakaman Almarhumah Umi Anna selesai dilaksanakan. Masih terngiang pesan Almarhumah satu tahun yang lalu saat terakhir bertemu. Selalu menginginkan bisa melihat Elfa mendapatkan jodoh setelah kuliah S2.


Sayangnya keinginan itu belum terlaksana, tetapi sudah dipanggil yang maha kuasa. Elfa masih duduk di pinggir makam tanpa ekspresi. Enggan beranjak dan tidak rela meninggalkan jasad yang sudah terbujur kaku dalam pembaringan terakhirnya.


"Ayo pulang, Nak!" ajak Mami Mitha.


"El masih ingin di sini, Mami. Mami pulang saja duluan," jawab Elfa lirih.


Alfian memeluk dan mengusap pundak Mami Mitha perlahan, "Mami pulang duluan sama Papi dan Opa Ali. El biar Abang Al yang menemani."


"Baiklah, Abang Al jangan tinggalkan El sendiri ya!"


"Iya baik, Mi."

__ADS_1


Elfa terus terisak duduk bersimpuh di pusara omanya yang baru saja di makamkan. Perasaannya saat ini campur aduk. Kehilangan, kecewa yang terjadi pada dirinya. Saat ini rasanya seolah hanya hidup sendiri tanpa ada yang menemani.


Rahasia yang disimpan selama dua tahun terakhir tanpa ada yang tahu. ini semakin terasa menghimpit pikiran. Beban hati yang tak pernah dibagi seolah semakin hari semakin berat saja.


Tangan Alfian melingkar di pundak Elfa, "El harus ikhlas, ini semua takdir dari Allah. Jangan membuat Almarhumah Oma bersedih melihat El seperti ini," nasehat Alfian.


Elfa semakin tergugu mendengar nasihat abangnya. Tidak bisa menjawab karena menganggap ini karena kehilangan oma terkasih. Padahal pikiran dan hati sekarang ini terasa sesak banyak sekali persoalan yang tidak bisa diungkapkan.


"Ayo kita pulang, Dik. Kita bisa menolong Almarhumah Oma dengan mengirim dan berbuat kebajikan dengan diatas namakan beliau," kembali Alfian menasihati.


"Tunggu sebentar ya, Bang. El masih ingin bersama Oma."


"Baiklah, Abang tunggu di mobil ya!"


"Iya, sepuluh menit lagi ya, Bang?"


Selepas Alfian meninggalkan makam, Elfa semakin tergugu, "Oma maafkan El karena tidak bisa menjaga hal yang sangat berharga seperti nasihat Oma dulu."


Perasaan Elfa semakin tidak menentu saat teringat nasihat Umi Anna saat masih duduk di bangku SMA. Harta yang paling berharga bagi setiap gadis adalah kehormatan. Hanya suami yang berhak mendapatkan kohormatan seorang wanita.


"El sekarang sudah kotor, Oma. Laki-laki brengsek itu telah mengambil satu-satunya yang berharga milik El, apakah boleh El tidak menikah, Oma?"


Elfa berbicara sambil memegang batu nisan kecil yang ada di makam Almarhum Umi Anna, "El tidak bisa jatuh cinta dengan siapapun. El tidak mau orang tahu jika El sudah kotor, Oma."


Elfa terus berbicara sendiri di depan makam Umi Anna sampai lupa waktu. Sudah seperempat jam berlalu tanpa disadari. Akhirnya Alfian kembali menyusul Elfa dengan langkah panjang.

__ADS_1


Masih berjarak lebih dari lima meter Alfian berteriak memanggil adiknya, "El ...!"


Elfa bergegas mengusap air mata, sambil menengok ke arah  Alfian berjalan, "El ke situ, Bang. Abang Al tidak usah ke sini, El sudah selesai kok!" teriaknya.


"Maaf ya, Oma. Besok El datang lagi, tetapi jangan marah sama El ya," pamit Elfa sambil kembali mengusap batu nisan.


Berjalan mendekati Alfian sambil mencoba tersenyum walau hati masih terasa sesak. Setidaknya ada sedikit lega karena bisa mengeluarkan isi hati yang selama ini dipendam. Hanya dengan itu yang bisa dilakukan untuk mengurangi penat di hati.


Sehari, satu minggu sampai empat puluh hari, Elfa tidak pernah absen mengunjungi makam Almarhumah Umi Anna. Semakin hari hati Elfa semakin terasa lega walau hanya bercerita di atas makam. Seolah memiliki teman yang baik untuk curhat.


Keluarga besar sudah pulang setelah tujuh hari Umi Anna meninggal dunia. Elfa memilih menghabiskan waktu untuk menemani Abi Ali sampai empat puluh hari. Sampai menunggu waktu wisuda yang akan dilaksanakan dua minggu lagi.


Nanti malam rencana Elfa akan dijemput menggunakan pesawat pribadi. Abi Ali juga akan ikut ke Indonesia karena akan mengadakan doa bersama di rumah Papi Alfarizi yang ada di Bekasi. Seluruh keluarga juga akan berkumpul di sana tanpa terkecuali.


Sudah hampir dua bulan ini Asisten Dwi Saputra melaksanakan rencana mendekati dan bertemu dengan mahasiswi Australia yang berasal dari Indinesia. Hanya sayangnya tidak satupun dari mereka adalah gadis yang dicari. Sampai hari ini pun tanpa menyerah dan tidak putus asa, mencari dan mencari lagi.


Semakin hari Asisten Dwi Saputra hanya mengambil nama mahasiswi tanpa menyelidiki labih teliti. Seolah hanya mengambil dengan acak saja dan langsung didatangi dan mengajak untuk bekerja sama. Tanpa melihat pengusaha besar atau hanya pengusaha kelas menengah saja.


Ada perusahaan besar yang memiliki putri yang kuliah S2 di jurusan psikologi, Asisten Dwi Saputra langsung membuat janji dengan sang asisten. Dan tanpa diduga Juan Mahardika langsung ingin bertemu bertemu dengan pemilik dan CEO nya langsung.


Besok adalah jadwal Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra mengajak kerja sama dengan perusahaan Papi Alfarizi. Sudah membuat janji meeting dengan Asisten Surya besok jam sepuluh pagi. Juan Mahardika memilih untuk mengunjungi perusahaan dan menolak untuk bertemu di luar kantor.


Tepat pukul sepuluh pagi, Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra di sambut oleh Asisten Surya di depan pintu utama perusahaan, "Selamat datang Tuan Juan dan Asisten Dwi, Suatu kehormatan Anda mau berkunjung di perusahaan ini."


"Terima kasih," jawab Asisten Dwi Saputra.

__ADS_1


"Mari, Anda sudah di tunggu Tuan Al di ruang meeting!"


Berempat duduk saling berhadapan, melakukan penawaran tentang kerja sama. Baru berjalan setengah jam meeting, pintu tiba-tiba terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu,  "Papi ...!" teriaknya


__ADS_2