
Juan Mahardika tidak menjawab pertanyaan Asisten Dwi Saputra. Lebih memilih menikmati kopi pahit yang baru saja dipesan. Terdiam dan termenung memikirkan cara mendapatkan undangan agar bisa hadir di wisuda universitas Elfa.
Ada keraguan di hati Juan Mahardika untuk pulang ke Australia saat ini. Enggan bertemu dengan tunangan Sherly Crash. Sudah beberapa kali model majalah dewasa itu menghubungi dan mengatakan jika sangat merindukan serta ingin bertemu.
Bahkan Sherly Crash ingin menyusul ke Jakarta weekend besok. Menginginkan bisa menghabiskan waktu berdua dan bisa berwisata di Jakarta. Hanya saja berkali-kali ditolak dengan alasan Juan Mahardika sering dan bolak-balik ke luar kota mengurus bisnis.
"Tuan, mengapa Anda malah melamun?"
"Kamu sudah tahu sekarang ini pesawat pribadi milik keluarga Mahardika ada di mana?" tanya Juan Mahardika mengalihkan perhatian agar tidak ditanya tentang Elfa.
"Belum, sebentar saya menghubungi asisten Tuan Hans."
Asisten Dwi Saputra langsung menghubungi sang asisten dari orang tua Juan Mahardka. Mendapatkan kabar langsung jika saat ini pesawat sedang bersiap-siap akan terbang ke Jakarta. Mengantar Sherly Crash untuk bertemu Juan Mahardika.
Sherly Crash tidak sabar menunggu hari libur pekan ini. Dengan segala rayuan berhasil mendekati calon ibu mertua. Akhirnya Mommy Vera mengizinkan calon menantu datang ke Jakarta.
"Pesawat sedang menuju ke sini mengantar tunangan Anda, Tuan?"
"Waduh gawat ini!" teriaknya.
"Ada apa, Tuan?"
"Aku tidak mau bertemu dengan dia, kemarin model parno itu mengajak menghabiskan waktu bersama selama weekend di sini."
"Wajar dong, Tuan. Namanya juga tunangan."
"Wajar dari mana? aku tidak mau dia tahu pusaka aku masih belum berfungsi, hanya bangun tidur lagi dan bangun tidur lagi"
Asisten Dwi Saputra tergelak teringat waktu kecil pernah ada lagu itu yang dinyanyikan oleh Mbah Surip, "Kayak lagu aja sih, bangun tidur terus tidur lagi. Jadi bagaimana sekarang?"
"Aku mau pulang ke Australia saja, tolong kamu urus sekarang, Kalau perlu kamu sewa pesawat pribadi saja sekarang!"
"Baik saya kerjakan sekarang."
"Oya satu lagi, kamu urus dulu Sherly. Penuhi kebutuhan selama dua hari di sini. Antar saja ke apartemen aku satu lagi yang kosong, jangan antar di apartemen aku."
"Ada lagi selain itu, Tuan?"
__ADS_1
"Berikan saja dia fasilitas yan diminta, mobil atau yang lain. Setelah itu kamu harus menyusul ke Australia."
"Saya harus menyusul Anda kapan?"
"Setelah kamu selesai memberikan fasilitas pada Sherly."
"Kamu jangan bilang kalau aku berada di Australia, aku tidak akan pulang ke rumah!"
"Mengapa tidak pulang ke rumah, Tuan?"
"Aku malas berurusan sama Mommy."
"Oooo."
"Kamu naik pesawat kelas bisnis saja kalau mau berangkat nanti!"
"Baik."
Juan Mahardika langsung berangkat ke Australia hari itu juga. Langsung di jemput dari rumah sakit milik keluarga Zulkarnain. Harga memang tidak akan menghianati fasilitas, semua sudah diatur sampai tujuan.
Sampai bandara, Juan Mahardika menuju apartemen miliknya yang dirahasiakan dari keluarga. Apartemen yang baru jadi dua bulan yang lalu. Hanya Asisten Dwi Saputra yang mengetahui apartemen itu.
Termenung di kamar sambil memikirkan hal yang masih samar. Pusaka yang sudah bisa terbangun, tetapi belum bisa dipakai untuk beraksi. Kebencian kepada Elfa sampai sekarang masih dirasakan dalam Hati.
Kembali berpikir semua nasihat Asisten Dwi Saputra. Matanya menatap langit-langit kamar, bayangan wajah Elfa melintas di pelupuk mata. Seketika pusaka menggeliat dan terbangun dengan sendirinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada pusaka ini?" tanya Juan Mahardika sambil mengusap berkali-kali pusaka kebesaran.
Sampai pagi hari, Juan Mahardika belum juga mendapatkan cara untuk bisa memiliki undangan acara wisuda. Ingin menghubungi dekan, tetapi gengsi dan enggan. Ingin mem-posting di media sosial pasti akan ketahuan keluarga dan tunangan.
Sarapan memilih membeli melalui online saja. Masih enggan untuk beraktifitas apapun. Sekarang ini adalah titik terendah seorang Juan Mahardika.
Dulu saat pusaka tidak bisa terbangun, tidak merasa pusing karena memang tidak ada keinginan untuk beraksi dari pusaka itu sendiri. Sekarang ini sudah bisa terbangun dan ingin beraksi. Hanya sayangnya tetap tidak bisa beraksi dan pusingnya bukan kepalang.
Sekarang ini hanya tumbuh rasa benci semakin besar. Karena pikiran semakin kalut, ingin beraksi tidak tersalurkan. Enggan untuk mencoba lagi takut akan gagal lagi.
Bisnis semakin besar dan semakin terkenal. Hanya sayangnya seperti dua sisi mata uang dengan nasib pusakanya kini. Berbanding terbalik karena selalu gagal dan gagal lagi.
__ADS_1
Tepat pukul sembilan pagi, Asisten Dwi Saputra datang dan langsung bisa masuk apartemen. Kode pintu hanya berdua saja yang tahu. Hanya tinggal mengetuk pintu kamar utama untuk memberitahukan jika sudah tiba.
"Bagaimana reaksi Sherly tahu kalau aku tidak ada di Jakarta?"
"Awalnya dia ngamuk dan marah, setelah dia menghubungi Nyonya Vera, dia bersedia menempati apartemen Anda yang kosong dan bersedia menunggu Anda datang."
"Apa yang dikatakan oleh Mom pada Sherly?"
"Saya tidak tahu, Tuan. Tunangan Anda saat ini sedang menikmati liburan dengan teman model yang ada di ibu kota."
"Ooo syukurlah, biarkan saja dia bersenang-senang."
"Teman tunangan Anda laki-laki bukan wanita, Tuan."
"Biarkan saja, kalau perlu suruh orang untuk mengawasi mereka, sebar luaskan saja jika mereka ada afair!"
"Maksud Anda?"
"Buat kabar seolah aku yang menjadi korban, aku yang setia dan Sherly yang berselingkuh."
"Waaah ide bagus itu, sebentar saya menghubungi teman yang pekerjaannya seorang wartawan."
Hanya dengan sentuhan satu jari saja, Asisten Dwi Saputra bisa memberikan pekerjaan teman wartawan. Tanpa harus membayar wartawan temannya. Jika dia berhasil pasti akan mendapatkan bonus karena beritanya pasti menjadi tranding.
"Sudah selesai, tinggal tunggu tanggal mainnya."
"Bagus, kamu memang bisa di andalkan, sekarang kamu fokus bagaimana cara bisa menghadiri wisuda itu?"
"Mengapa Anda tidak menghubungi salah satu dekan atau dosen di sana?"
"Aku tidak mau ketahuan kalau sekarang ada di sini, terutama Mommy Vera."
Tidak ada cara lain jika tidak ingin bisa menghadiri acara wisuda tanpa diketahui oleh orang lain. Hanya dengan cara menyamar dengan berdandan menjadi orang lain. Akan aman dari kejaran para mahasiswi, juga aman dari amarah orang tua.
"Anda harus menyamar agar tidak ketahuan, Tuan!"
Juan Mahardika teringat saat dulu masih duduk di bangku SMA. Pernah menyamar berdandan menjadi seorang gadis agar bisa masuk asrama putri. Mengira maksud Asisten Dwi Saputra harus berdandan menjadi seorang wanita.
__ADS_1
"Apakah tidak ada cara lain, aku malas kalau harus menyamar berpakaian wanita."
"Eeee ...."