Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 54. Tidak Mudah


__ADS_3

Baru kali ini Juan Mahardika tanpa daya diusir dari kamarnya sendiri. Dengan pasrah berjalan gontai keluar kamar dengan wajah yang ditekuk. Ikut bergabung dengan Asisten Dwi Saputra yang sedang tersenyum sendiri sambil melihat ponsel.


"Mengapa wajah Anda di tekuk begitu, Tuan?"


"Aku diusir lagi dari kamarku sendiri."


Asisten Dwi Saputra tergelak tanpa merasa bersalah, "Saya sudah bilang, Tuan. Tidak akan mudah menahlukkan Nona El."


"Pasti aku bisa, tidak ada yang menolak pesona Juan Mahardika."


"Jangan percaya diri dulu, Anda harus sangat bekerja keras untuk itu."


Juan Mahardika mengerutkan keningnya teringat dengan ucapan terakhir Elfa. Meminta untuk kembali ke tunangan Sherly Crash yang ada di Australia. Karena sibuk dan konsentrasi dengan Elfa sampai lupa meluruskan masalah perselingukan dengan model Indonesia.


"Setelah ini kamu ke Australia, urus model parno itu terlebih dahulu saja!"


"Maksud Anda, Tuan?"


"Tadi Elfa meminta aku kembali ke model itu, katanya aku tidak masuk kreteria dia sama sekali."


"Sudah Saya bilang, Nona El tidak akan mudah Anda tahlukkan, Tuan. Tidak akan mempan jika hanya Anda hujani dengan harta dan kekayaan."


"Kamu benar sekali, berkali-kali aku tawarkan apapun akan aku penuhi permintaan, tetapi dia sama sekali tidak tertarik."


"Dari kecil Nona El selalu mendapatkan yang diinginkan, setelah dewasa lebih memilih menyembunyikan identitas agar mendapatkan teman yang tulus dan tidak melihat dari harta dan kekayaan."


"Maka itulah, langkah pertama, atasi model itu, cari informasi sebanyak-banyaknya yang dilakukan model itu di belakang saya, kalau perlu jatuhkan namanya. Jadi semakin mudah aku akan memutuskan hubungan pertunangan!"


"Jika Anda ingin berhasil mendekati Nona El, seharusnya Anda jujur dari sekarang, Tuan. Tidak perlu dengan cara yang negatif!"


"Maksud kamu aku yang harus memperbaiki diri terlebih dahulu?"


"Itu salah satunya."


Pesawat sampai di pulau Indonesia yang terkena bencana hampir tengah hari. Koki menyarankan untuk makan siang dan minum obat terlebih dahulu sebelum turun dan kembali ke lokasi bencana. Menu makan siang sudah dipersiapkan dengan diantar di kamar.

__ADS_1


"El, Akak masuk ya!" izin Juan Mahardika mengetuk pintu dan langsung membuka walau tidak ada jawaban dari dalam.


"Makan dulu sebelum kita lanjutkan pindah pesawat ke helikopter!"


"El tidak lapar."


"Tetap saja El harus makan karena harus minum obat, Akak tidak akan mengizinkan El turun kalau tidak mau makan dan minum obat dulu."


"Idih, apa hak Anda melarang?"


"Ada banyak hak Akak. El tidak akan bisa menghindar dari Akak JM mulai dari sekarang."


Elfa hanya tersenyum devil sambil menggelengkan kepala. Selama ini tidak ada yang bisa membuat hatinya bergetar termasuk laki-laki yang ada di depan. Sudah lebih dari dua tahun membenci dan tidak pernah masuk dalam daftar dalam hati walau hanya dalam mimpi sekalipun.


"Mengapa tersenyum begitu, apakah El meragukan kemampuan Akak?"


"Pikir aja sendiri, permisi El mau makan!"


Elfa mengambil piring, hanya ada satu steak daging yang tersaji langsung dipindah ke piringnya sendiri. Sengaja setelah beberapa hari memperhatikan Juan Mahardika selalu saja makan menu yang sama. Ingin mengetahui reaksi apa jika menu makan diambil.


Juan Mahardika mengambil roti sebagai pengganti nasi, ditambah rendang daging dan dipadu dengan cah kangkung. Melirik Elfa yang menikmati steak daging dengan lahap. Menikmati makan siang dengan diam tanpa kata, hanya suara dentingan sesekali sendok garpu yang beradu.


Satu piring steak sudah ludes tanpa sisa, sedangkan Juan Mahardika baru menghabiskan setengah menu makan yang ada di piring. Juan Mahardika langsung meletakkan sendok dan garpu saat Elfa akan meraih obat yang berada di samping piring.


"Tunggu! Akak yang akan mengambilnya, El duduk saja!"


Kali ini Elfa hanya di minta untuk membuka mulut saja. Air putih di gelas Juan Mahardika yang memegang. Obat yang berupa pil juga sudah dibuka dari bungkusnya.


"Terima kasih Akak JM, gitu dong!" pinta Juan Mahardika sambil tersenyum.


"Tidak usah ngarep, El tidak minta dibantu," jawab Elfa dengan jutek.


Juan Mahardika kembali tersenyum dan melanjutkan makan menu rendang yang masih dipiring. Baru kali ini bertemu dengan tipe gadis seperti Elfa. Biasanya selalu dipuja dan menjadi idola, sekarang ini selalu kalah dan harus mengalah.


Baru saja suapan terakhir masuk mulut Juan Mahardika. Elfa langsung berdiri dan meninggalkan kamar, "Ayo cepat berangkat!"

__ADS_1


"Eee tunggu, Akak minum sebentar!"


Karena minum terburu-buru, Juan Mahardika tersedak dan terbatuk. Air yang seharusnya masuk dan ditelan, tersembur keluar membasahi pungung Elfa.


"Aaaah Akak!!" teriak Elfa spontan.


Yang awalnya Juan Mahardika terbatuk langsung berhenti mendengar teriakan Elfa. Baru pertama kali memanggil dengan sebutan akak. Hati Juan Mahardika seolah banyak sekali bertabur bunga.


"Bikin kesel aja, El mau ganti baju dulu basah nich!" Elfa berbalik badan berjalan mendekati lemari.


Juan Mahardika duduk dan terus tersenyum memandang Elfa. Sampai lebih dari lima menit Elfa memilih baju, Mata Juan Mahardika tetap tidak berpaling.


"Apa lihat-lihat?" tanya Elfa saat membalikkan badan melihat Juan Mahardika yang terus tersenyum.


"Akak sangat bahagia."


"Cepat ke luar, El mau ganti baju!"


"Baik, Akak tunggu di depan pintu ya!"


Elfa memukul bibir sendiri setelah pintu tertutup dan Juan Mahardika ke luar kamar, "Mengapa jadi begini, mulut El memang tidak bisa diajak kompromi?" monolog Elfa dengan cepat.


Sambil berganti baju, Elfa terus saja berbicara sendiri, "Pasti gede kepala dan berpikir macam-macam laki-laki brengsek itu, mengapa bisa keceplosan sih, El. Gawat ini gawat!"


Keluar kamar, Elfa melihat Juan Mahardika yang berdiri dan tersenyum manis. Elfa memilih memalingkan wajah dan tidak melihat wajah Juan Mahardika. Pura-pura cuek dan tidak terjadi apa-apa dan lebih memilih mengambil langkah panjang untuk ke luar pintu pesawat.


"El tunggu Akak dong!"


Dalam bandara, pindah ke helikopter. Elfa duduk di kursi paling depan sedangkan Juan Mahardika berada di samping Elfa, "Akak pasang sabuk pengaman dulu!" Tangan Juan Mahardika memasang sabuk pengaman, tetapi matanya terus menatap wajah Elfa.


Elfa terdiam tanpa kata saat terus dipandang. Memilih mengalihkan perhatian pada arah depan. Saat Juan Mahardika selesai memasang sabuk pengaman, melirik sesaat wajah laki-laki yang terus tersenyum.


"Apa sih senyum-senyum sendiri, dasar gila?" tanya Elfa dengan kesal.


"Iya Akak tergila-gila sama Elfa." Sayangnya jawaban Juan Mahardika tidak didengar oleh Elfa karena bersamaan suara mesin dan baling-baling helikopter yang terdengar memekikkan telinga.

__ADS_1


__ADS_2