
Elfa hanya nyengir kuda saat diminta suami untuk mengatakan kata keramat cinta untuknya. Lebih memilih pura-pura tidak mendengar apa yang diminta, "Apa coba ulang sekali lagi?"
"Katakan I love you!"
"Me too." jawab Elfa singkat.
"Eee bukan jawaban tetapi, El mengucapkan I love you!"
"Me too."
Sampai lima kali Juan Mahardika mengulangi permintaan kepada istri, tetapi Elfa selalu menjawab dengan jawaban yang sama," Aaa El curang, Akak marah," kata Juan Mahardika pura-pura meraju.
Sampai di halaman rumah Abi Ali, Juan Mahardika berjalan mengikuti Elfa tanpa kata. Elfa santai dan tidak menanggapi Juan Mahardika yang pura-pura meraju. Langsung masuk kamar untuk beristirahat dengan membaringkan badan di tempat tidur kamar Elfa.
Juaan Maharika cemberut dan mengerucutkan bibirnya seperti yang sering dilakukan Elfa. Langsung menutup wajahnya dengan guling saat Elfa memandang dengan tersenyum devil. Elfa mendekatkan wajahnya sendiri dekat guling dan berbisik, "Akak."
"Hhmm, Akak marah."
"Akak." Sekali lagi Elfa berbisik.
Awalnya Juan Mahardika hanya mengintip lewat bawah guling. Mengetahui ternyata wajahnya sangat dekat dengan guling. Juan Mahardika dengan cepat melempar guling ke samping sambil menarik Elfa dalam dekapan.
"Kena ya, ini akibatnya kalau menjawab tidak sesuai!" Juan Mahardika mulai menjelajahi bibir dan rongga mulut yang ada di dalamnya
Bergerilya mengabsen seluruh isi satu persatu tanpa ada yang tertinggal. Melu*mat bibir mungil Elfa dengan lembut atas dan bawah. Elfa hanya bisa menikmati dan belum bisa membalas apa yang dilakukan sang suami.
Elfa mendorong aksi Juan Mahardika saat pasokan oksigen hampir habis. Napas terpacu seolah selesai lari maraton berpuluh kilo jauhnya. Bergegas Juan Mahardika melepas tautan, memberikan ruang Elfa untuk menghirup udara.
"Akak, El susah bernapas," kata Elfa dengan suara manja.
Juan Mahardika tersenyum sambil mengusap bibir Elfa yang masih basah. Sudah dua kali Elfa protes karena susah bernapas, saatnya ada peningkatan lagi hari ini. Ada tempat lain yang tidak kalah favorit untuk melakukan aksi untuk menambah sensasi.
"Maaf, apa boleh Akak berpindah saja tidak di sini?" tanya Juan Mahardika menunjuk dan mengusap bibir mungil Elfa.
"Pindah ke mana?"
"Ke sini." Tangan Juan Mahardika menunjuk leher Elfa yang jenjang dan tertutup rambut yang dibiarkan terurai.
"Apa enaknya di leher El?"
"Coba dulu dong baru dirasakan!"
__ADS_1
Elfa termenung dan bingung, jarang sekali melihat adegan romantis. Tidak pernah melihat film atau sinetron keluarga. Yang digemari Elfa adalah film laga terutama film Cina ataupun hollywood.
"Sayang, malah melamun. Akak boleh mencobanya?"
"Entahah, El masih bingung. Nanti saja deh karena El haus mau buat jus jeruk dulu."
Bergegas Elfa ke luar kamar untuk mengurangi kegugupan yang dialami. Bukan masalah tidak tahu tentang permintaan suami, tetapi masih ada rasa canggung dan malu. Setelah berkali-kali menikmati aksi suami di bibir tidak dipungkiri mulai menyukai.
Setelah pintu tertutup, Juan Mahardika melakukan selebrasi tentang kemajuan yang telah di lakukan, "Yes, Kamu bisa, Juan. Ayo semangat!"
Juan Mahardika merasakan kemajuan tentang perkembangan trauma Elfa lebih cepat setelah berkunjung ke makam Almarhumah Umi Anna. Setiap hari setelah berkunjung perkembangan untuk modus juga semakin mudah.
Hari ini adalah hari ke tiga pulang dari makam Almarhumah Umi Anna. Setelah pulang dan istirahat di kamar, Juan Mahardika bisa memberikan kiss mark tidak cuma satu seperti kemarin. Sekarang ini ada tanda merah keabu-abuan itu lebih dari lima tempat.
Setelah mandi sore dan berdandan, Elfa baru menyadari ada banyak tanda yang terlihat jelas, "Akak!" teriaknya.
Juan Mahardika yang sedang santai sambil menghadap laptop sedang bekerja online langsung tersentak kaget, "Ada apa sih, Garwoku Sayang?"
"Mengapa ada tanda banyak di leher El, bikin malu saja!"
"Benarkah? Akak malah tidak menyadarinya."
"Iiiih Akak ini, bagaimana cara menghilangkan tanda ini?"
"Kagak, nanti El kaya drakula leher merah semua."
"Apakah Drakula lehernya merah?" tanya Juan Mahardika.
"Bukan drakula, tetapi zombi."
"Kalau ada zombi secantik El, yang ada semua mengejar El dong."
Elfa bergegas membuka lemari untuk mencari scraf atau syal yang biasa dipakai saat musim dingin. Mencari yang model tipis saja agar terlihat seperti sedang mengikuti mode. Padahal untuk menutupi kiss mark yang bertebaran di leher.
"Lain kali jangan di sini El malu, Akak."
Juan mahardika mengangguk patuh sambil tersenyum devil. Awalnya tidak sengaja karena terlalu asyik menikmati aksi selain di bibir. Sekarang ini memiliki ide untuk melakukan langkah selanjutnya.
"Baiklah, apapun yang El inginkan akan Akak lakukan, kemarilah!"
Tangan Juan Mahardika terbuka lebar menyambut Elfa masuk dalam pelukan. Diciumnya berkali-kali dari dahi, pipi dan bibir bergantian, "Berarti Akak boleh pindah agak ke bawah agar tidak terlihat?"
__ADS_1
"Eee, di mana maksud Akak?"
"Di situ!" Juan Mahardika hanya menggerakkan kepala dan mata ke arah dada terutama di dua gundukan kembar.
Dengan spontan Elfa menyilangkan tangan di dada, "Akak apa enaknya di sini?"
"Lebih enak lagi dari di sini." Tangan Juan Mahardika menunjuk leher sambil mengedipkan mata.
"Tidak percaya ah, awas El mau ke dapur!"
Elfa melepas tangan Juan Mahardika yang melingkar sempurna di pinggang. Sengaja membiarkan Elfa meninggalkan kamar. Tidak ingin semua terburu-buru yang terpenting ada kemajuan.
Keesokan harinya pukul delapan waktu Riyadh, Juan Mahardika berkunjung ke perusahaan milik Papi Alfarizi bersama Abi Ali. Elfa tidak berkunjung ke makam Almarhumah Umi Anna. Bahkan, sampai sore Juan Mahardika belum pulang dari perusahaan.
Sudah dua hari ini Juan Mahardika belum berhasil mewujudkan aksi ke bawah sedikit seperti yang diinginkan. Elfa memilih menikmati beraksi di leher yang tidak terlihat. Hanya bisa menyenggol sedikit saat sedang beraksi dengan alasan tidak sengaja.
Sore hari hampir senja, Abi Ali dan Juan Mahardika pulang. Langsung disambut Elfa dengan mencium punggung tangan mereka berdua secara bergantian, "Kok sampai sore, apakah ada meeting penting?"
"Papi dan Abang Al mengajak meeting mendadak dan memerintahkan Akak untuk memimpin meeting."
"Terus bagaimana hasilnya?"
"Sudah beres dong, Akak ini menantu dan Adik ipar yang sangat handal dan bisa dibanggakan."
"Tidak usah sombong, tidak bagus tahu!"
"Sombngnya sama istri sendiri boleh dong?"
"Apa tujuan sombong sama istri sendiri?"
Setiap situasi dan peristiwa bisa dijadikan alasan untuk mengatasi trauma. Sambil berjalan masuk kamar, Juan Mahardika berbisik di telinga, "Hadiah dari istri tercinta."
Elfa berjalan mengikuti langkah Juan Mahardika sambil memikirkan hadiah yang diminta sang suami. Hadiah yang tepat untuk keberhasilan melakukan meeting. Hanya sayangnya, tidak menemukan hadiah yang tepat untuk acara seperti itu.
"Apa hadiah yang Akak inginkan?"
"Akak tidak minta yang macam-macam, hanya satu macam saja."
"Apa itu, Kak?"
"Itu!" Juan Mahardika melirik gundukan kembar yang tertutup baju dengan sempurna.
__ADS_1
"Eee ...?"