Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 180. Seperti Abah Asep


__ADS_3

Juan Mahardika melihat istri tercinta sedang termenung memandangi tukang rujak bebeg dengan heran, "Ada apa, Sayang?"


"Akak, El mau salim sama Abah Asep!"


"Siapa Abah Asep itu, Sayang?"


Elfa menunjuk pedagang rujak bebeg yang mulai sibuk dengan mempersiapkan semua keperluan untuk rujak bebek. Lesung kecil dikeluarkan dari rombong kotak kecil. Meletakkan buah yang awalnya di dalam rombong sekarang diletakkan di atas rombong di etalase kaca kecil.


"El mengenal Abah pedagang rujak bebeg itu?"


Elfa menggelengkan kepala dengan mata berkaca-kaca. Ingatan langsung pada Mami Mitha yang selalu meneteskan air mata saat memandang foto ayah kandung. Kenangan buruk masa lalu dan panjangnya perjalanan Mami Mitha dengan ayah kandung sangat membekas di hati Elfa.


"Sayang, jangan menangis, ayo Akak antar ke Abah itu untuk salim!"


Juan Mahardika menggandeng Elfa mendekati Abah pedangang rujak bebeg yang baru bersiap-siap untuk menjajakan dagangannya, "Abah, maaf. Istri saya ngidam ingin salim dengan Anda, apakah boleh?"


"Eee sini, Neng cucu cantik. Ya Allah barakallah, semoga sehat selalu dan lancar sampai lahiran," doa Abah Penjual rujak bebeg.


"Aamiin," jawab Elfa sambil meraih dan mencium punggung si Abah, tanpa terasa mata mengeluarkan air mata.


Juan Mahardika mengusap pipi Elfa yang basah. Mengusap pundak dan mengecup keningnya singkat, "El teringat seseorang?"


"Iya, Abah itu persis seperti almarhum ayah kandung Mami Mitha."


"Innalilahi wainna ilaihi rojiun, ayo kirim Al Fatiha untku beliau, Sayang!"


Sambil menunduk mengirim doa terbaik untuk almarhum ayah kandung Mami Mitha. Duduk kembali setelah terasa kaki pegal berdiri, "Akak boleh pesan sekarang?"


"Iya silahkan pesan, Akak!"


"Abah, kami pesan dua porsi ya!" teriak Juan Mahardika.


"Siap, mau pedas atau sedang?"


"Sedang saja."


Juan Mahardika memperhatikan Abah sedang meracik buah yang akan di tumbuk. Tangan tuanya terlihat lincah memasukkan satu per satu buah yang sudah dipotong. Diambah dengan bumbu pelengkap dan gula merah kemudian ditumbuk sampai terlihat agak hancur.


Mengambil daun pisang dan disematkan lidi untuk sekat daun agar tidak tumpah. Disendok dan dimasukkan di tengah daun pisang, Bau segar asam seolah langsung menyeruak masuk hidung.


"Waaah baunya sangat segar dan menggugah selera."

__ADS_1


"Ini, silahkan menikmati!" Abah membawa dua pincuk rujak bebeg diserahkan kepada Elfa dan Juan Mahardika.


"Terima kasih, Abah."


"Sama-sama, Neng."


Juan makan rujak bebeg dengan lahap, sekarang ini baru sesuai ekspektasi setelah merasakan sensasi rujak yang baru selesai diumbuk. Ada sensasi rasa yang beragam, manis, asam dan segar dan sedikit pedas. Porsi satu pincuk rujak tidak lebih dari sepuluh suapan dinikmati oleh Juan Mahardika.


"Akak mau pesan lagi ya, Sayang?"


"Sudah habis punya Akak?"


"Isinya cuma sedikit, seolah baru sampai tenggorokan sudah habis."


Elfa tergelak sambil melihat rujak bebeg yang dipegang. Baru sempat memakan beberapa suap rujag bebeg, Suami tercinta sudah mengabiskan semua satu pincuk tanpa sisa, "Akak ini lapar atau doyan, mengapa cepat sekali?"


"Asam dan segar, Sayang. Akak sangat menyukainya. Akak pesan lima lagi ya?"


"Allahu Akbar. Akak habis lima bungkus?"


Juan Mahardika tersenyum sambil mengangguk, langsung mendekati Abah penjual rujak bebeg mumpung belum ada pelanggan yang datang, "Abah pesan lima porsi lagi jadi satu saja!"


"Sama seperti tadi saja."


Banyak mitos mengatakan, orang makan rujak atau buah harus makan nasi terlebih dahulu. Namun, Juan Mahardika hari ini makan enam porsi rujak bebeg setelah makan satu porsi toge gorenag. Wajahnya sampai memerah karena baru terasa pedas setelah lima menu rujak itu ludes tanpa sisa.


"Waah, perut Akak penuh sekali."


"Enam porsi habis sendiri jelas saja penuh."


Karena kekenyangan, Juan Mahardika enggan berdiri, yang awalnya ingin langsung berangkat ke kantor setelah makan rujak bebeg. Kini memilih bersantai ria melihat para pembeli yang mulai datang menyerbu dagangan Abah.


Elfa yang banyak terdiam saat melihat Abah dengan ceria menjawab dan melayani setiap pembeli yang datang memesan. Dari logat bahasa, suara sampai gerak tubuh Abah, semua mengingatkan pada Abah Asep. Elfa mengenal Almarhum dari kecil, tetapi tidak terlalu dekat karena ayah kandung dari Mami Mitha lebih memilih jauh dari keluarga.


Sampai waktu istirahat jam kantor tiba, Juan Mahardika masih enggan diajak pulang. Masih menikmati astrinya taman kota. Menghirup aroma rujak bebeg yang ditumbuk seolah tidak ingin beranjak dari tempat duduknya.


"Akak, ayo pulang!"


"Akak masih ingin santai di sini, Sayang."


"El sudah capek duduk, pinggang El rasanya mau copot."

__ADS_1


"Maaf, ayo sudah kita pulang!" Mata Juan Mahardika masih melihat tangan Abah yang meracik rujak.


"Akak mau pesan lagi?"


"Apakah boleh?"


"Tidak ada yang melarang, pesan saja dibungkus. El tunggu di mobil, El mau rebahan di mobil sebentar!"


"Baik, Akak pesan sebentar. Setelah itu Akak antar El ke mobil!"


Juan Mahardika kembali memesan lima porsi rujak bebeg. Mengantar Elfa sampai ke mobil untuk rebahan. Dan kembali mununggu pesanan yang sudah dibayar terlebih dahulu tadi.


Sampai rumah, rujak yang dibeli langsung dimasukkan ke kulkas. Berpesan kepada siapa saja yang ada di rumah. Melarang mengambil rujak yang sangat segar dan asam, akan dinikmati setelah rujak itu dingin.


"El juga tidak boleh menikmati rujak bebeg itu?"


"Kalau El tentu saja boleh, tetapi satu porsi saja ya!"


"Terserah Akak saja, El capek mau istirahat."


Asisten Dwi saputra datang sesaat Elfa masuk kamar untuk bereistirahat. Asisten mengabarkan bahwa Kris saat ini berada di rumah sakit. Sudah mulai tanda-tanda melahirkan walau satu minggu maju dari prediksi dokter.


"Apakah El dan Rey sudah tahu tentang kabar ini?"


"Belum, saya mendapat kabar dari dokter yang menangani Kris. Kemungkinan baru prediksi awal, sehingga Kris belum memberikan kabar agar El tidak khawatir."


"Menurut kamu, apa yang sebaiknya tindakan kita?"


"Saya takut Nona El memaksa Anda untuk mengajak ke Eropa."


"Iya itu yang ditakutkan, bagaimana jika Rey saja yang ke sana?"


"Ide bagus, setidaknya Nona El akan tenang jika ada salah satu menunggu Kris."


"Baik, Persiapkan Rey berangkat ke sana, Aku akan membujuk El agar tidak ikut ke Eropa!"


Sore hari setelah Elfa besantai, Juan Mahardika bercerita tentang keadaan Kris. Kemungkinan tinggal menunggu hari saja dan selalu dipantau oleh dokter. Karena dalam minggu ini Elfa harus ke Ngawi, Juan Mahardika menyarankan Elfa tidak ikut ke Eropa.


Disamping itu, keadaan Elfa yang mudah lelah, dokter juga menyarankan tidak bebergian jauh yang menggunakan perjalanann lebih dari setengah hari. Dokter mengizinkan ke Ngawi karena waktu yang di tempuh tidak sampai lebih dari dua jam.


"Akak, El mau bertemu Kris!" kata Elfa dengan suara manja.

__ADS_1


__ADS_2