
Elfa dan Rena yang duduk di sebelah kiri dan kanan Kris kompak memukul punyanya perlahan, "Jangan asal ngomong, awas ada malaikat lewat, kasian dikbay-nya!" Elfa kesal.
"Kalau ngomong dipikir dulu!" Rena juga memukul pundak Kris.
"Maaf." Kris sarapan dengan lahap tanpa kata.
Elfa sarapan sambil memandang Kris yang sarapan dengan lahap. Dahinya sesekali dikerutkan seolah dia sedang memikirkan sesuatu. Karena ada keluarga Juan Mahardika sarapan berjalan dengan lancar tanpa ada masalah. Semua terlihat bahagia apalagi sebentar lagi mereka akan mendapatkan cucu.
Semua perhatian Mommy Vera dan Daddy Hans untuk Elfa. Banyak wejangan dan nasehat demi kesehatan ibu dan bayi. Tidak lupa berpesan juga kepada Juan Mahardika sebagai suami siaga.
Orang tua dan adik berkeliling untuk mengenal rumah baru ditemani Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra. Bercerita juga tentang klinik yang di buat demi istri tercinta. Berencana akan tinggal sementara dan belum tahu kapan akan kembali ke Indonesiia.
Kris masih menikmati buah yang disiapkan oleh koki saat para suami dan keluarga Juan Mahardika berkeliling rumah. Elfa dan Rena masih menemani sambil sesekali berbincang ringan. Untuk kali ini sengaja Elfa dan Rena tidak akan mensidang kasus yang masih menggantung.
"Ayo istirahat kalau sudah kenyang, Kris!" ajak Elfa sambil berdiri diikuti oleh Rena.
"Tunggu, El ... Rey!"
"Ada apa?" tanya Elfa dan Rena bersamaan.
"Kris ingin meianjutkan cerita kemarin."
"Kris yakin, Rey tidak ingin Kris seperti kemarin lagi?"
"Iya, sangat yakin asal tidak melihat vedio itu, sekarang duduk lagi!"
__ADS_1
"Ok, silakan mulai, El akan mendengarkan!"
Cerita berawal saat Kris kerja shift malam di rumah sakit tanpa diduga Dokter Yohan Carnett mengajak makan saat sedang beristirahat. Awalnya bicara manis dan ramah seperti layaknya teman. Meminta bertukar nomor ponsel dan ingin menjadi teman dekat.
Dua minggu berlalu Kris sama sekali tidak mencurigai dan tidak pernah berpikir ada niat lain saat mengajak berteman. Menganggap dokter yang menjadi idola teman kerja itu hanya teman biasa seperti yang lain. Sampai mengetahui ternyata laki-laki itu terobsesi dengan Elfa saat menghadiri acara pernikahan itu.
Tiba-tiba menghilang tanpa pesan dan lost contact lebih dari satu bulan lamanya. Mendengar jika laki-laki itu di deportasi secara paksa oleh suami Elfa dan Abang Alfian Alfarizi. Kembali datang setelah dokter itu menjadi anggota dokter yang menangani masalah kemanusiaan.
Bertemu kembali di puskesmas saat ada kegiatan pembagian makanan untuk balita yang mengalami gizi buruk. Kris tetap bersikap biasa dan hanya menganggap sebagai teman. Tidak pernah berbincang atau kembali berhubungan ponsel setelah pertemuan kedua pada kegiatan sosial.
Tiba-tiba saat pulang kerja shift sore pukul sepuluh malan, Dokter Yohan Carnett menemui Kris di parkiran rumah sakit. Mengajak berbincang dan menanyakan nomor ponsel yang dulu pernah diminta. Setelah dipastikan nomor masih sama, ada pesan WA masuk dari dokter yang berisi Vedio itu.
Dokter urologi itu berpesan silakan dibuka di rumah saja karena sangat rahasia, Dilarang ditunjukkan pada siapapun terutama ibu atau adiknya yang nomor dua yaitu Trias. Hanya boleh ditanyakan pada yang bersangkutan yang ada dalam vedio itu.
Malam itu juga setelah sampai rumah, Kris langsung membuka vedio. Bukan hanya emosi yang dirasakan, Kris sangat marah dan langsung menemui Rama di kamarnya. Kris tidak menunjukkan semua vedio itu pada adiknya, hanya menunjukkan adegan awal saja.
Vedio itu dirahasiakan pada siapapun baik ibu atau Trias yang sekarang ada di Jakarta. Hanya Kris dan Rama saja yang mengetahui. Setiap hari Kris selalu menyelidiki dan mengikuti Rama saat belajar menghapal di rumah tahfisz.
Satu minggu setelah kiriman vedio itu, Rama mengaku diberikan minum bersoda oleh seorang wanita dewasa saat pulang dari rumah tahfisz pukul delapan malam. Rama sadar setelah pagi hari tertidur di pos kampling dengan pakaian lengkap. Tidak teringat sama sekali apa yang dilakukan malam hari.
Setelah satu minggu berlalu, Dokter Yohan Carnett kembali menemui Kris setelah pulang kerja. Dia mengancam akan menyebarkan vedio itu jika Kris tidak mengikuti semua permintannya. Kris berjanji rela melakukan apa saja agar vedio itu tidak disebarkan di media sosial.
Yang pertama di minta dokter gila itu mengajak Kris menikah resmi di pengadilan agama. Dengan terpaksa Kris menyetujui pernikahan itu dengan syarat harus satu keyakinan. Dan meminta berpura-pura melamar pada Ibu Prayuda dengan alasan sangat mencintai Kris, bahkan rela mengikuti keyakinan agar bisa menikah resmi.
Dengan kesepakatan Ibu Prayuda tidak mengetahui vedio itu. Akhirnya mereka menikah dengan diam-diam di kantor resmi. Hanya Rama sebagai wali dan Ibu Prayuda serta Trias sebagai saksi. Tidak satu orang pun tetangga yang tahu karena pernikahan sengaja dirahasiakan.
__ADS_1
Pernikahan rahasia itu berjalan lancar selama satu bulan. Masih tinggal terpisah, Kris tinggal di rumahnya sedangkan dokter urologi itu bersama rombongan. Kris masih belum mengetahui tujuan dari suami rahasianya.
Sampai suatu ketika Kris mendengar percakapan suami rahasia itu sedang berbincang dengan seseorang menggunakan ponsel. Dalam percakapan itu sang suami rahasia bercerita telah menikah dengan seorang wanita secara resmi di Indonesia. Menceritakan dengan gamblang tujuan menikah bukan karena cinta tetapi karena ingin balas dendam.
Kris bercerita tanpa jeda, Elfa dan Rena mendengarkan cerita Kris dengan tegang. Hampir satu jam cerita itu tanpa terasa. Tiba-tiba Kris buang angin dengan suara kencang.
"Kris ... jorok!" teriak Elfa sambil menutup hidungnya.
"Kebiasaan itu tidak pernah hilang sih, coba menjauh sana kalau mau buang angin!" Rena juga ikut menutup hidungnya.
Kris tergelak ikut menutup hidungnya, "Maaf, dia tiba-tiba keluar sendiri."
Kebiasaan Kris dari dulu adalah sering buang angin di sembarang tempat. Tidak kenal waktu dan tidak perduli ada atau tidak ada orang sekali pun. Bahkan, saat Kris buang angin pasti akan berbau tidak sedap dan yang mencium baunya akan marah-marah.
"Dari tadi mendengar cerita dengan tegang tiba-tiba buyar semua gara-gara kebiasaan itu datang, Kris gelo siak!" gerutu Rena dengan kesal.
Kris terus tergelak sambil mengusap perutnya, "Sepertinya yang di dalam juga ikut tertawa, dia menendang dari dalam."
"Betulkah?" Elfa ikut mengusap perut Kris dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan masih menutup hidung.
Rena juga ikut mengusap perut Kris yang membuncit, "Ee iya apa yang dilakukan di dalam?"
Tiba-tiba terdengar suara langkah datang dan ikut bertanya, "Apakah baby yang di dalam sedang bermain sepak bola?"
BERSAMBUNG
__ADS_1
Ayo mampir di novel teman yang rekomen ini