
Juan Mahardika saat ini sedang melihat daftar nama mahasiswa jurusan ekonomi dan bisnis saja. Padahal bagian staf menunjukkan semua daftar mahasiswa yang jumlahnya sangat banyak. Mungkin jika diperiksa satu persatu akan memakan waktu seharian.
sayangnya tidak ada Asisten Dwi Saputra yang bisa memberikan usulan dan masukan seperti biasa. Juan Mahardika menghentikan pencarian setelah melihat nama mahasiswi dengan awalan El tidak ada yang berasal dari Indonesia yang lahir di Ngawi. Akhir-akhir ini Juan Mahardika lebih mudah menyerah karena putus asa.
"Bagaimana, Tuan. Apakah Anda sudah siap mengisi mata kuliah hari ini?"
"Siap, mari kita ke sana!"
"Mari, saya antar, Tuan."
Dengan sorak penuh kekaguman para mahasiswi terutama, Pesona Juan Mahardika masih tetap besar. Bahkan banyak yang histeris melihat Juan Mahardika masuk ke aula yang dijadikan kelas. Hanya dengan senyuman tipis saja sudah banyak mahasiswi yang terpesona.
Mengisi mata kuliah sambil bercerita tentang pengalaman menjadi pengusaha. Suaranya yang lantang, wajahnya yang rupawan. Seolah menghipnotis seluruh mahasiswi yang hadir.
Hampir semua mahasiswi sangat memuja dan pengidolakan sang dosen tamu. Kabar miring tentang seorang pengusaha casanova seolah tidak menjadi masalah.Tetap menjadi idola utama dan menjadi rebutan para wanita khususnya.
Setelah mengisi mata kuliah selama satu setengah jam. Materi kuliah sudah disampaikan semua. Penjagaan mulai dikurangi setelah dosen tamu ditemani oleh rektor dan dekan keluar kelas.
Kembali Juan Mahardika menjadi idola dan dielu-elu para mahasiswi. Wajahnya yang kini dibiarkan tumbuh cambang, kini semakin terlihat macho. Tinggi dan kekar tubuhnya seolah membuat semua yang melihat menjadi semakin tegila-gila.
"Aku padamu, Tuan Juan!"
"Aku rela dijadikan yang kedua!"
"Apapun akan aku lakukan asal bisa menjadi kekasihmu!"
"betapa tampan Anda pangeranku!"
"Aku mau dijadikan apapun asal bisa menjadi kekasihmu!"
Teriakkan dan jeritan terdengar menggema di sana. Juan Mahardika hanya tersenyum sambil berlalu. Tdak menanggapi salah satu diantara sekian mahasiswi yang memuja.
Jika ini terjadi dua tahun yang lalu, mungkin akan ditanggaapi semua. Dan diberikan jadwal agar bisa mengajak mereka secara bergantian. Hanya sayangnya kini tidak bisa berbuat apa-apa tanpa senjata yang enggan menyapa.
__ADS_1
Mata Juan Mahardika memilih mencari suara tawa yang tadi terdengar samar. Mulai dari tadi akan masuk kelas, saat mengisi mata kuliah. Sampai keluar kelas dan menyusuri koridor menuju kantor dekan kembali, masih tetap mencari.
Hanya sayangnya seolah suara itu lewat sesaat seperti pusaka yang menggeliat sesaat. Tidak ada lagi suara itu terdengar diantara tawa dan pujian para mahasiswi. Seperti hanya ilusi yang menari-nari di hati saja.
Pulang dengan hati yang kecewa dan tanpa hasil. Sampai di rumah langsung masuk kamar tanpa menyapa siapapaun. Membanting tubuh ke tempat tidur dengan perasaan gundah gulana.
Elfa tersenyum simpul saat melihat vedio yang beredar di media sosial milik teman satu kampusnya. Wajah Juan Mahardika yang terlihat tampan, tetapi pandangan mata yang datar. Seolah matanya sedang mencari sesuatu yang tidak ada, sangat mudah Elfa bisa menebak dan bisa membaca tentang yang terjadi.
Dilihat dari wajah Juan Mahardika terlihat frustasi dan putus asa. Tidak ada kepuasan batin yang terlihat nyata. Pandangan mata yang terlihat kosong menandakan hati yang tidak bahagia.
"Semoga sugesti El saat itu masih berlaku sampai sekarang, semoga dia tersiksa dan putus asa," doa Elfa sambil melihat berita yang dilihat.
Sedang asyik melihat semua kabar dari kampus, ada suara dering ponsel yang bergetar di kantong saku. Panggilan dari Sheilla Jannes, "Ada apa shei?" tanya Elfa setelah menggeser tombol hijau di ponsel.
" ...?"
"Ok, El ke sana sekarang!"
Elfa berlari menuju parkiran lantai dasar apartemen. Hanya berteriak kepada Bibi Suti jika ada tugas di rumah sakit. Sheilla Jannes mengatakan ada seorang pasien yang membutuhkan sugesti Elfa karena tertekan sampai mengamuk di rumah sakit.
Ternyata dalam ruangan itu kosong tidak ada satupun orang saat Elfa masuk. Mata Elfa menyapu ke seluruh ruang, tetapi terlihat sangat sepi. Elfa bergegas berbalik badan ingin berteriak memanggil Sheilla Jannes.
"Aaaduuuh!" teriak Elfa menabrak seorang laki-laki yang sudah berdiri di belakangnya.
Laki-laki itu langsung memeluk pinggang Elfa sambil menatap dengan penuh cinta, "El ...?"
"Dokter Yohan, maaf tolong lepaskan El!"
"Tidak, aku ... aku ...?"
Dengan sekuat tenaga Elfa mendorong tubuh Dokter Yohan Charnett. Hatinya seolah terbakar seketika karena berani memaksa dan membohongi. Berusaha memanggil dengan bantuan sahabat dan pekerjaan.
"Sekali lagi lepaskan El, Dok!" teriak Elfa dengan penuh emosi.
__ADS_1
Dengan mendorong sekuat tenaga dokter tampan dan mapan itu terlepas, "Aku sangat menyukai kamu El, tolong mengertilah!"
Elfa mengusap lengan dan pinggangnya, rasanya teringat Juan Mahardika yang telah merenggut hal yang berharga darinya. Emosinya semakin memuncak dan hampir tidak terkendali.
"Apakah hanya El yang harus mengerti, Apakah Anda tidak bisa memahami jika cinta tidak bisa dipaksakan?" tanya Elfa dengan wajah yang memerah karena marah.
Dokter Yohan Charnett maju beberapa langkah dengan tangan melipat di dada, "El, aku mohon bukalah sedikit saja hati kamu untuk aku masuk!"
"Maaf ya, Dok. El sudah sering menghindar, El hanya ingin menghormati Anda sebagai senior dan tidak lebih dari itu."
"Aku sangat mencintai kamu, El."
"Maaf, Dok. El tidak bisa menerima cinta Anda."
Sambil menarik napas panjang Dokter Yohan Charnett mencoba bersabar. Gadis yang ada di depannya sangatlah berharga. Ingin meminta kesempatan agar bisa hanya sekedar dekat dan menyukai.
"Apa kekurangan aku, El. Semua bisa El dapatkan?"
"El tidak mencari kekayaan, tidak mencari tampan, Dok. Cinta itu datang dari hati, tidak bisa dipaksa."
"Tetapi El ...?"
"Cukup permisi!"
Dokter Yohan Charnett terpaku dan berdiri mematung. Tidak lagi berani memanggil dan berucap sepatah katapun. Hanya memandang punggung Elfa yang berjalan menjauh keluar dari ruangan.
Elfa ke luar dari ruang counseling dengan hati marah dan kesal. Berjalan dengan langkah panjang mencari Sheilla Jannes ke ruang kerja mereka. Tanpa menjawab setiap orang yang menyapa dalam setiap langkah.
Pintu langsung di dorong tanpa diketuk terlebih dahulu, "Di mana Sheilla?" tanya Elfa dengan suara keras tanpa melihat orang yang ada di depannya.
"Dia ada di sana," jawab salah satu Perawat yang berdiri di samping pintu.
Elfa meletakkan kedua tangan di pinggang, "Shei, sebenarnya teman atau musuh dalam selimut, tega sekali Shei menjebak El!"
__ADS_1