Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 43. Menjadi Relawan


__ADS_3

"Baik, Abang setuju. El yang akan memimpin tim relawan dari rumah sakit Aljuzeka."


"Yes!" teriak Elfa girang.


"Nak, Mami ...?"


Papi Alfarizi mengusap lembut tangan mami Mitha sambil menggelengkan kepala, "Mami, putri kita sudah dewasa, percaya pasti dia bisa."


"Ini tempat bencana, Pi. Akan ada banyak problem dan penyakit yang akan menyertai."


"Tenang, Mami. El sudah kebal yang namanya penyakit, termasuk penyakit hati," canda Elfa sambil memeluk Mami Mitha.


"Eee malah bercanda, Mami ini khawatir."


"El sudah dewasa, Mi. Tenang aja akan ada dokter ahli yang akan bersama Elfa. Abang akan memerintahkan mereka untuk bisa menjaga El."


"Baiklah, Mami restui. Pulang dari sana El langsung memimpin rumah sakit!"


"Iya Mami, El janji."


Alfian dan Elfa berangkat ke hanggar helikopter di antar Papi Alfarizi dan Mami Mitha. Akan ke rumah sakit terlebih dahulu untuk menentukan tim yang akan berangkat ke daerah bencana. Menggunakan helikopter menuju posko bencana yang sudah didirikan oleh relawan dan pemerintah setempat.


Kesibukan di rumah sakit Aljuzeka terlihat lebih hari ini, dengan lalu-lalang dokter, suster, bidan dan relawan yang lain. Mereka bersiap-siap dengan terburu-buru karena pesawat sudah stanbye di halaman istana milik pemerintah. Hanya di sana yang bisa dipakai helikopter milik keluarga Zulkarnain mendarat sementara.


Rombongan berjumlah delapan orang termasuk Elfa. Keluar dari rumah sakit langsung dikawal oleh kepolisian setempat agar lebih cepat sampai. Ditambah sepuluh kotak kardus obat-obatan.


Bertepatan Elfa berjalan dengan tergesa-gesa menuju mobil jemputan. Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra masuk parkiran, "Mau ke mana mereka, Dwi?"


"Tidak tahu, Tuan. Kelihatannya resmi, coba lihat dikawal oleh polisi!"


"Mau ikuti mereka atau tanya dulu sama security?" tanya Asisten Dwi Saputra melihat ada dua security yang sedang mengatur parkiran.

__ADS_1


"Dua-duanya, kamu turun bertanya, sini aku yang pegang kemudi. Tanya dan cepat kembali!"


"Ok siap."


Asisten Dwi Saputra hanya sekitar kurang dari lima menit bertanya pada security. Kembali masuk mobil dengan berlari kencang dan duduk disamping Juan Mahardika. Bertepatan mobil yang dinaiki Elfa dan rombongan berangkat.


Dikawal dua mobil polisi di depan dan belakang. Membunyikan suara sirine yang memekikkan telinga. Membuka jalan agar cepat sampai tujuan.


"Mereka akan menuju ke tempat bencana, Tuan."


"Naik apa ke sana?"


"Naik helikopter miliki keluarga Nona Elfa."


Juan Mahardika tetap terus mengikuti mobil polisi dengan suara sirine yang sangat keras. Sudah tahu tujuan Elfa, tetapi tetap ingin mengikuti. Hatinya belum tenang karena tadi hanya melihat sekilas saja.


Sudah lebih dari tiga hari ini, Juan Mahardika gelisah tidak menentu. Belum mengetahui identitas pemuda yang diajak makan nasi padang kemarin. Membuatnya hari ini nekat ke rumah sakit untuk mencari Elfa.


Beda lagi dengan Asisten Dwi Saputra. Sekarang ini sering melamun dan termenung. Ada marah, kesal dan bingung dipendam dalam hati. Teringat pertemuan dengan Rena kemarin.


Setelah sekian lama memendam cinta. Bisa mengutarakan cinta kepada gadis yang disukai. Hanya sayangnya tidak sesuai dengan harapan hati.


Ternyata Rena sudah tidak memiliki hal yang berharga. Pernah menikah dua kali walau hanya nikah sirri dengan waktu yang singkat. Keterus-terangan gadis itu sangat membuat hatinya ragu.


Sudah tiga hari merenung, mempertimbangkan dan mencoba untuk ikhlas. Namun, hati seolah merasa dikhianati. Hati merasa tidak rela dan tidak bisa menerima dengan ikhlas.


Masih teringat ucapan gadis itu yang mengatakan juga mencintai. Harapan ingin saling memiliki dengan segenap jiwa raga. Berharap bisa menerima masa lalu yang kelam dan memberikan waktu untuk mempertimbangan.


Lamunan keduanya terhenti saat rombongan Elfa memasuki halaman istana. Pesawat sudah siap tinggal menunggu penumpangnya. Elfa dan rombongan berlari masuk helikopter dengan berlari.


Jua Maharika tertegun saat Elfa mengenakan baju seragam jas rumah sakit. Wajahnya terlihat lebih dewasa dan bersinar. Walau wajah itu terlihat tegang dan khawatir.

__ADS_1


"Tuan, apa yang Anda lakukan sekarang?" tanya Asisten Dwi Saputra setelah helikopter mengudara meninggalkan istana.


"Kamu cari tahu tentang bencana itu, apa saja yang dibutuhkan. Kirim sumbangan yang diperlukan di sana. Kirim orang untuk wakil perusahaan kita!"


"Maksud Anda untuk sekalian mengawasi Nona El?"


"Kamu tahu saja."


Juan Mahardika kembali ke Jakarta dengan perasaan hanya sedikit lega. Hanya bisa melihat sesaat sudah membuat perasaan lebih tenang. Namun, saat teringat dengan pemuda yang pernah bersama kemarin, hatinya kembali memanas.


Perusahaan MAHARDIKA CORP mengirim sebagian produksi sendiri. Dari pakaian jadi, makanan kaleng, sampai selimut semua baru keluar dari produksi. Hanya sembako yang tidak ada lebel perusahaan.


Menyewa pesawat kargo untuk mengangkut semua sumbangan dari perusahaan Juan Mahardika. Ditambah dengan lima orang relawan wakil dari perusahaan, tepatnya mata-mata yang harus mengawasi Elfa. Kelima wakil perusahaan yang menjadi relawan berumur diatas tiga puluh lima tahun, tidak ada yang tahu pasti alasannya kecuali bos.


Satu diantara lima orang itu yang memiliki tugas utama mengawasi Elfa. Bahkan memegang kamera canggih yang selalu terhubung jika nanti berdekatan dengan gadis itu. Harus mengawasi setiap kegiatan selama di lokasi bencana.


Sesaat pesawat kargo yang disewa lepas landas, Juan Mahardika duduk termenung. Baru menyadari yang baru saja dilakukan. Tanpa sadar melakukan semua hanya demi Elfa.


"Apa yang aku lakukan baru saja?" monolog Juan Mahardika sambil mengetuk dahi sendiri.


Pikiran masih ingin bertanya tentang yang terjadi dengan pusaka yang sampai sekarang belum ada jawaban. Masih sangat membenci dan ingin membalas dendam saat teringat pusaka selalu aneh. Hanya sayangnya, tindakan yang dilakukan bertolak belakang dengan pikiran.


Dari Bogor sampai berhasil mengumpulkan sumbangan untuk donasi bencana. Menyewa pesawet kargo dan mengutus lima orang. Hanya memerlukan waktu empat jam saja pesawat langsung berangkat menuju lokasi.


Hatinya masih tidak rela teringat pemuda yang diajak makan nasi padang. Jarang bisa konsentrasi saat bekerja dan meeting tiga hari ini. Namun, saat memerintahkan memberikan bantuan dan mengawasi Elfa bisa berpikir cepat dan lancar.


"Ada apa di hati ini sih?" monolog Juan Mahardika sambil memukul dadanya.


"Awalnya pusaka tidak pernah mau nurut, mengapa sekarang hati juga tidak sejalan dengan pikiran sendiri?" Kembali Juan Mahardika bermonolog sendiri.


Juan Mahardika membuka ponsel membuka pesan dan vedio yang sering dikirim oleh Asisten Dwi Saputra. Dari vedio memberikan sumbangan sepuluh juta di taman. Sampai vedio saat Elfa menggandeng tangan pemuda tanggung yang dibilang sang asisten selera berondong.

__ADS_1


"Siapa pemuda ini, apakah mungkin dia kekasih gadis itu?" tanya Juan Mahardika sambil melihat ponselnya.


__ADS_2