Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 102. Isu Tentang Sherly Crash


__ADS_3

"Maksud Akak minta rapel dua puluh delapan kali melakukan itu malam ini?"


Juan Mahardika tergelak sambil mengangguk. Dipeluk Elfa dengan erat ditambah berkali-kali mengecup keningnya. Rasa cinta semakin besar mendengar pertanyaan Elfa yang lugas dan tanpa malu.


"Yang ada nanti El gempor tidak bisa berjalan, ini saja masih terasa perih."


"Istirahatlah."


"Hhmm."


Juan Maharika memeluk Elfa sampai sang istri tertidur pulas. Sebenarnya ingin mengulangi lagi aksi yang sangat dinginkan hampir satu bulan yang lalu. Bahkan kini pusaka bumerang sudah kembali terbangun ingin menemui sarangnya.


Demi kenyamanan pujaan hati semua dilakukan. Baru bisa menikmati sekali saja sudah merasa sangat bahagia. Ingin memberikan waktu agar perih yang dirasakan sembuh terlabih dahulu.


Pagi hari ini, Papi Alfarizi dan keluarga berpamitan pulang terlebih dahulu. Akan mempersiapkan dan mengadakan pesta penikahan di Bekasi. Pesta pernikahan diadakan di mall milik Papi Alfarizi. Dengan konsep in door satu lantai penuh di kosongkan untuk acara pesta.


Mommy Vera, Daddy Hans dan keluarga termasuk pengantin baru berangkat ke Jakarta H min satu. Elfa ikut ke rumah Juan Mahardika yng ada di Jakarta. Rumah mewah yang jarang ditempati karena hanya sendiri ditemani pembantu. Saat masih sendiri lebih memilih tinggal di apartemen mewah miliknya.


"Malam ini kita menginap di sini, besok pagi kita berangkat ke Bekasi."


"Iya, El ikut aja."


"El mau makan di ruang makan atau di kamar saja?"


"Enak makan bareng keluarga aja."


"Mereka sedang keluar semua, Mom, Dad para orang tua ke rumah Auntie Fira. Jasmine dan para gadis sedang ke mall."


"Jadi tinggal kita berdua di rumah?"


"Iya, jadi mau makan di mana?"


"Dikamar saja deh."


Kamar Juan Mahardika sangat luas, di disain dengan sangat lengkap. Ada mini bar berada di pojok dekat ruang teater mini. Tinggal meminta menu makan malam pada koki semua dalam sekejap tersedia sesuai pesanan.


Dua koki mempersiapkan menu makan malam di mini bar. Ada menu steak daging dan mashed potato kesukaan Juan Mahardika. Ada nasi briyani daging ayam untuk Elfa.


"Sudah siap, Tuan. selamat menikmati!" Salah satu Koki melaporkan.


"Terima kasih."


"Kami permisi." Dua koki keluar kamar setelah meja bar siap.

__ADS_1


Juan duduk di kursi tinggi khas kursi bar. Elfa masih duduk bersandar di tempat tidur sedang chat bersama dua sahabat pejuang gadis. Mereka saat ini berada di rumah Mami Mitha yang ada di Bekasi.


"Sayang ayo makan!"


"Tunggu sebentar, Akak. El masih chating sama teman."


"Teman El yang mana?"


"Si Rey dan Kris."


"Kalau mendengar namanya kok rasanya Akak ingin cemburu ya?"


"Mereka itu perempuan, Akak. Memang terong makan terong." jawab Elfa sekenanya.


Juan Mahardika mulai berpikir apa yang dimaksud terong makan terong. Tidak banyak memahami bahasa gaul anak muda yang sering diucapkan Elfa. Namun, tetap tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan kata-kata terong makan terong.


Juan Mahardika mengambil menu steak daging, mashed potato dan nasi briyani dalam satu piring lebar. Duduk di samping Elfa, "Ayo buka mulutnya!"


"Eee kok dibawa ke sini?"


"Tidak apa-apa ayo makan!"


Satu suapan masuk mulut bergantian dengan Elfa yang tidak memperhatikan sekeliling. Masih asyik chating bersama dua sahabat. Tanpa terasa satu piring habis tanpa sisa, tidak menyadari sudah ludes hidangan itu dinikmati.


Hanya di minta melayani pusaka bumerang beraksi saja. Malam ini Juan Mahardika bisa mengajak Elfa dua kali beraksi. Sebelum tidur dan setelah bangun tidur sebelum sholat subuh.


Setelah selesai tumbang di samping Elfa pada aksi kedua pagi ini, Juan Mahardika kembali memanjakan istri, "Apakah masih perih setelah tiga kali pusaka bumerang beraksi?"


Elfa menggelengkan kepala sambil tersenyum. Rasa itu semakin bermakna dan berkesan di dada. Yang dulunya takut, kini menjadi terpaut.


"Mau mandi sekarang atau istirahat dulu?"


"El tidak capek, tetapi masih malas mau ke kamar mandi."


"Mau Akak gendong ke kamar mandi?"


"Tidak, sana Akak mandi dulu!"


"Bagaimana kalau mandi bareng?"


"Nanti aja, El masih canggung."


"Baiklah, jangan ke mana-mana. Kalau menginginkan sesuatu tunggu Akak saja, El tidak boleh melakukan apapun!"

__ADS_1


"El jadi mau ngapain kalau tidak boleh melakukan apapun?'


"El hanya akan melayani Akak saja, selain itu El akan Akak layani apapun yang El inginkan."


"Idih, aneh banget sih."


"Akak mandi dulu, beristirahat saja."


Elfa membaringkan lagi badannya di tempat tidur. Tangan diulurkan di atas kepala ingin mengambil ponsel, "Eee, El mau ngapain?" tanya Juan Mahardika tidak melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.


"El mau ambil ponsel."


"Sudah Akak bilang, Semua Akak yang akan melakukan. El tinggal bilang saja, ini ponselnya!"


"Terima kasih, sana mandi!"


Beberapa saat kemudian, mendengar pintu kamar mandi terbuka, Elfa bergegas berlari mendekat di depan pintu. Hanya melilitkan selimut tebal di badan. Juan Mahardika keluar dan Elfa masuk, "Akak ini selimutnya tolong bawa!" perintah Elfa menyembunyikan tubuhnya di balik pintu kamar mandi.


"Coba berdiri di pintu sini, mengapa badan disembunyikan di balik pintu?"


"Malu atuh, Akak. Sana cepat ganti baju koko!"


"Baik, lain kali jangan malu ya?"


Elfa tidak menjawab permintaan Juan Mahardika, hanya tersenyum simpul saja. Bergegas menutup pintu kamar mandi agar tidak terlihat gugup. Semua bertahap dan sedikit demi sedikit tahapan dilalui dengan perlahan.


Setelah selesai sholat subuh, Elfa sedang berdandan sederhana seperti biasa. Juan Mahardika sedang membaca berita digital di ponsel. Dari bisnis, olahraga sampai isu yang beredar di masyarakat.


Ada sebuah berita yang sangat aneh dan tidak masuk akal sedang tranding di media sosial. Saat ini Sherly Crash sedang berada di rumah sakit. Dia mengalami pendarahan setelah diusir oleh security hotel dan Asisten Dwi Saputra dari acara pernikahan Juan Mahaardika.


"Astagfirullah, apa-apaan ini?" teriak Juan Mahardika.


"Ada apa, Akak?"


"Coba El buka ponsel dan cari berita tentang model gila yang selalu membuat sensasi murahan itu, Akak menghubungi Asisten Dwi!"


"Iya baik, Akak jangan emosi ya!"


Sambil tersenyum dan mengangguk Juan Mahardika menghubungi Asisten Dwi Saputra yang sekarang ini masih ada di apartemen. Memerintahkan langsung menyelelidi dan mengambil tindakan dengan tegas. Memanggil pengacara terkenal untuk mengatasi masalah ini.


Memberikan perintah untuk mengambil bukti CCTV yang berada di hotel saat dia datang sampai ke luar dari hotel. Mengumpulkan saksi saat itu khususnya para tamu yang tidak punya hubungan keluarga. Semua bergerak cepat dan tidak boleh ditunda lagi.


Elfa yang mendengar perintah Juan Maharidka karena menghubungi Asisten Dwi Saputra dengan cedio call, langsung bertanya, "Akak membawa kasus ini ke ranah hukum?"

__ADS_1


__ADS_2