Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 125. Melihat Arak-arakan Pengantin Sunat


__ADS_3

Dengan wajah cemberut, Juan Mahardika ke luar rumah menuju teras. Tidak bisa menikmatisawo yang sangat diinginkan. Yang terjatuh kotor dan tidak bisa dinikmati lagi.


Elfa mengajak suami untuk keluar rumah. Ada pohon sawo milik tetangga depan rumah. Buahnya sangat lebat dan sebagian besar belum tua.


Hanya sayangnya pemilik rumah sedang tidak ada di rumah. Dengan terpaksa Juan Mahardika harus menunggu pemiliknya pulang. Hanya sayangnya air liur terus ingin menetes tanpa henti.


"Apakah Akak boleh memetik satu saja tanpa izin terlebih dahulu?"


"Eee, tidak boleh dong, Akak. Dosa dong itu namanya mencuri."


"Akak ingin makan satu saja, Sayang!'


"Tidak boleh, jangan ajari twins baby kita hal yang buruk!"


"Jadi bagaimana dong, Akak sudah tidak tahan lagi?"


"Yang dipohon itu belum ada yang matang, Akak. Kita pergi ke pasar saja yok, pasti ada sawo di sana!"


"Akak saja yang mencari di pasar, El di rumah saja nanti capek."


"Akak yakin akan berangkat sendiri ke pasar?"


"Yakin lah, El tidak usah ikut?"


Dengan percaya diri, Juan Mahardika berangkat ke pasar sendirian. Masuk pasar dengan memakai masker dan topi agar tidak terlihat wajah bulenya. Memutari area pasar yang menjual buah.


Hanya ada satu pedagang yang menjual buah sawo. Hanya ada beberapa kilo saja yang tersedia. Juan Mahardika bertanya kepada pedangangnya, "Piro sekilo. Mas?'


"Gratis khusus untuk si Mas asal mau cium pipiku!" kata Pedagang dengan suara lemah gemulai.


"Astagfirullah."


Juan Mahardika memundurkan kakinya karena kaget. Pedagang itu wajahnya seperti laki-laki pada umumnya saat diam. Namun, saat bicara terlihat kemayu seperti wanita.


Untung ada ibu paruh baya yang memukul pundak pedagang buah itu sambil bercanda, "Setan yang menempel minggat sana!" teriaknya.


"Ibu tega banget sih, ini asli manusia," jawabnya sambil menepuk dada.


"Kalau selalu menggoda pelanggan laki-laki itu namanya setan!"

__ADS_1


Juan Mahardika memilih sawo yang akan dibeli. Dimasukkan plastik dan di letakkan di atas timbangan, "Itu berapa harganya?"


"Eee tidak mau diberikan gratis Mas?"


"Tidak, saya tidak doyan setan," jawab Juan Mahardika dengan suara ketus.


"Waaah gagal merayu mas ganteng, ini lima puluh ribu."


"Terima kasih."


Bergegas Juan Mahardika meninggalkan pasar. Terkadang geli sendiri saat berhadapan dengan satu jenis tetapi beda alam. Tingkahnya yang membuat ilfil jika bertemu dengan yang tipe seperti itu.


Keluar dari pasar ada arak-arakan kuda yang dinaiki oleh anak laki-laki dengan pakaian muslim. Baju koko lengkap dengan sarung dan songkoknya. Ada juga joki yang memegang kendali kuda untuk bisa berjalan perlahan.


"Acara apa itu, Pak?" tanya Juan Mahardika kepada tukang parkir.


"Pengantin sunat," jawabnya


Juan Mahardika mengerutkan keningnya mendengar jawaban tukang parkir. Penasaran apa yang dimaksud dengan pengantin sunat. Yang diketahui pengantin yaitu satu pasang insan yang menikah.


"Cari saja informasi di internet, nanti kalau tanya El pasti di bilang kudet," monolog Juan Mahardika sendiri sambil membuka ponsel.


Satu hari sebelum hari H pelaksanaan sunat biasanya si anak yang disebut juga pengantin sunat akan dihibur terlebih dahulu. Si anak akan dirias  dengan pakaian penganten sunat. Pakaian adat daerah yang ada di Indonesia berbeda-beda.


Tahap pertama mengarak pengantin sunat dengan mengelilingi kampung. Pengantin sunat akan mengendarai kuda atau juga tandu yang diiringi oleh barisan rebana terkadang ada juga pertunjukan pencak silat. Tujuannya untuk memberi hiburan atau memberi kegembiraan serta semangat kepada si anak bahwa besok dia akan dapat pengalaman baru, yaitu pengalaman sunat.


Juan Mahardika tersenyum membaca adat yang unik di Indonesia yang beragam. Teringat dulu Mommy Vera hanya membawanya ke rumah sakit saat di sunat. Setelah itu hanya beristirahat selama tiga hari untuk pemulihan.


Mommy Vera tidak mengadakan acara apapun di rumah. Mengingat berbeda keyakinan dengan Daddy Hans Mahardika dan tidak ada adat untuk masyarakat Australia seperti Indonesia. Yang terpenting sudah menjalankan syariat juga demi kesehatan.


Juan Mahardika hanya berdiri melihat arak-arakan pengantin sunat yang mengular di pinggir jalan. Menunggu sampai selesai melewati jalan raya. Terkadang hanya tersenyum sendiri bisa melewati hal yang unik setelah menikah dengan Elfa.


Dulu selalu berkutat dengan pekerjaan, wanita dan foya-foya. Sekarang hidup lebih berwarna dan lebih bersemangat. Bisa merasakan hidup sederhana tetapi syarat dengan makna kehidupan.


Sampai di rumah, Juan Mahardika langsung menuju dapur. Tidak ada Elfa yang ada hanya Bude Marmi dan keluarga yang lain sedang memasak. Duduk di kursi meja makan sudah ada sawo yang sudah di kupas dan dipotong seperti tadi pagi.


"Ini sudah tinggal makan, tadi mengapa buru-buru ke pasar?" tanya Bude Marmi.


"Sudah habis kata Pakde tadi."

__ADS_1


"Tinggal beli di tetangga di depan rumah tidak perlu jauh-jauh ke pasar."


"Tadi tetangga sedang tidak ada di rumah, Bude."


"Orangnya di sungai bersama kita tadi."


"Oooo."


Juan Mahardika hanya menukmati beberapa potong sawo saja. Karena bentuk sama seperti tadi pagi rasaya masih terbayang apa yang melewati sungai. Sehingga tidak terlalu antusiaa menikmati manisnya buah sawo.


Menyusul Elfa beristirahat di kamar, Elfa sedang mengurut kakinya sendiri sambil meluruskan kaki di tempat tidur, "Kenapa kakinya, Sayang?"


"Rasanya capek sekali, Akak. Padahal hanya jalan bolak-balik rumah sungai saja."


"Mau Akak persiapkan air hangat buat remdam kaki?"


"Ada Nany Sofia, dia aja yang suruh mempersiapkannya, Akak."


"Akak juga bisa kalau cuma itu."


"El percaya Akak bisa, tetapi El mau di urut juga setelah di rendam."


Juan Mahardika tersenyum devil, "Itu keahlian Akak sekarang ini, tenang saja."


Elfa menggelengkan kepalanya, jika suami yang melakukan itu alamat akan terjadi terapi plus-plus. Sedangkan badan rasanya lelah tidak hanya kaki saja. Jika ingin meolak pasti tidak bisa karena suami selalu bisa membuat rileks dan menikmati jika sudah beraksi.


"Kalau sama Akak pasti ada plus-plus nya, El sangat capek."


"Nanti Akak tahan deh, tidak mungkin Akak tega juga."


"Tidak usah, Akak. Tolong panggilkan Nany Sofia saja!"


"Baik, tunggu sebentar Akak ganti baju dulu."


"Maaf ya, Akak."


"No problemo, Sayang."


Baru saja Juan Mahardika ke luar kamar, ada suara ribut di halaman rumah. Juan Mahardika bergegas berlari menuju teras rumah setelah menutup pintu. Tidak ingin Elfa juga ikut berlari agar bisa beristirahat dengan tenang.

__ADS_1


Ada banyak keluarga dan tetangga yang sedang bergerombol di bawah pohon sawo. Ada seorang laki-laki berbaju putih yang berada di tengah sedang duduk memegangi perutnya. Ada juga suara amarah saling bersahutan kepada laki-laki itu, "Ada apa Pakde?" tanya JuanMahardika.


__ADS_2