Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 80. Syarat Khusus


__ADS_3

Juan Mahardika langsung berlari menyambut Alfian Afarizi yang baru turun dari helikopter. Ternyata saat mengirim pesan tadi calon kakak ipar itu belum landing di hanggar samping rumah. Laki-laki abang dari pujaan hati itu terlihat tegas dengan wajah yang garang.


"Assalamualaikum, Bang."


"Walaikum salam."


Alfian Alfarizi tidak segarang yang terlihat dan dibayangkan. Nyatanya Juan Mahardika mengucap salam tetap dijawab, walaupun dengan suara jutek. Antara abang dan adik setali tiga uang, jutek dan tegas.


"Apa yang harus Juan lakukan agar Abang percaya dan merestui pernikahan kami?" tanya Juan Mahardika sambil berjalan.


"Ayo masuk, Abang ingin bicara empat mata denganmu!"


"Siap, Bang."


Juan Mahardika tersenyum dalam hati mendengar Alfian Alfarizi menyebut dirinya dengan sebutan abang seperti bicara dengan Elfa atau kedua orang tua. Padahal dulu saat pertama kali bertemu dan menghajar sampai babak belur, dia berbicara dengan kasar dan tegas.


Alfian memeluk Mami Mitha di ruang tamu. Mencium punggung tangan Papi Alfarizi dan Pakde Sarto bergantian. Mengusap rambut Elfa dengan lembut dan mengecup keningnya


Asisten Julio juga melakukan hal yang sama seperti yang Alfian lakukan. Hanya bedanya putra dari sahabat Mami Mitha itu hanya melambaikan tangan pada Elfa. Juan Mahardika sudah besiap-siap saat Asisten Julio mendekati Elfa, ada cemburu yang membara di hati.


"Bang, apa yang akan dibicarakan dengan Nak Juan?" tanya Mami Mitha.


"Hal sangat penting, Mami."


"Apakah tidak bisa di sini saja?"


"Tidak bisa, ini pembicaraan antar laki-laki."


"Jangan pakai kekerasan, Bang. Pakai kepala dingin!" perintah Papi Alfarizi.


"Lihat nanti, Pi. Kami ke belakang dulu. Dilarang ada yang mengikuti!"


Juan Mahardika mengikuti Alfian Alfarizi berjalan ke belakang rumah. Menuju sungai yang sangat jernih di tengah sawah. Sebagian besar keluarga sangat menyukai sumber mata air yang sangat alami itu walau terkadang ada hal yang membuat geli.

__ADS_1


Alfian Alfarizi langsung duduk di batu besar yang biasa di duduki oleh Elfa. Batu besar dan atasnya yang datar memang yang paling nyaman untuk duduk bersantai. Apalagi langsung menghadap ke arah sungai pemandangan terlihat asri dan membuat pikiran tenang.


"Katakan apa sebenarnya yang kamu lakukan pada El?" tanya Alfian Alfarizi to the point.


Jantung Juan Mahardika langsung berdegup kencang mendengar pertanyaan itu. Hanya bisa menduga kemungkinan tahu yang dilakukan kepada Elfa di masa lalu. Kemarin baru merebutkan Elfa saja sudah babak belur apalagi telah merenggut kesucian adik kesayangannya.


"Ha, maksud Abang apa, Juan tidak faham?"


"Maksudnya mengapa kamu mengejar El?"


"Karena Juan sangat mencintai El."


"Abang tahu masa lalu dan sepak terjang kamu, rasanya janggal jika kamu bisa jatuh cinta pada El."


Juan Mahardika langsung mengambil napas panjang dan menghembuskan napas perlahan. Masa lalu yang kelam itu selalu menjadi acuan dan alasan sebagian orang menilai diri. Tidak ada yang tahu betapa menyesal kini setelah mengtahui arti sebuah perjuangan.


"Maaf, Bang. Masa lalu Juan memang kelam, dulu Juan tidak pernah merasakan cinta. Hanya nafsu dan obsesi semata kepada lawan jenis, tetapi sekarang jantung ini hanya berdetak untuk El. Hati ini hanya terpaut pada El seorang."


Juan Mahardika mengerutkan keningnya sambil memandang wajah calon abang ipar. Jika dilihat dan diperhatikan setiap ucapannya, pemikiran dan pandangan tentang keluarga seperti Papi Alfarizi. Tidak akan mungkin tertarik jika diiming-imingi harta dan kekayaan.


"Bagini, Bang. Juan kemarin sudah mengatakan pada Papi, sekarang akan Juan gunakan untuk meyakinkan Abang."


"Katakan!"


"Sejatinya cinta itu hanya memberi bukan meminta dan menuntut, cinta Juan kepada Elfa tidak terbatas, Juan tidak menuntut sedikitpun dibalas, Juan akan melakukan apapun agar El bahagia, tidak perduli hati ini sakit, tidak perduli raga ini terluka, jika cinta masih meminta balasan sejatinya bukan cinta tetapi obsesi."


"Mengapa Abang masih belum yakin ya, karena sudah pasti kamu pandai merangkai kata-kata manis seperti tadi?"


Tidak seperti Papi Alfarizi sepenuhnya pemikiran calon abang ipar. Tidak mudah meyakinkan hati yang dari awal sudah tidak suka. Harus bisa meyakinkan dengan bukti nyata atau cerita yang mudah diterima dengan logika.


"Juan tahu El adalah salah satu pendiri pejuang gadis."


"Dari mana kamu tahu, itu sangat dirahasiakan dari siapa pun?"

__ADS_1


"El telah menggagalkan pernikahan sirri Juan sebanyak tiga kali, awalnya Juan mendekati El untuk balas dendam, tetapi semakin Juan ingin balas dendam Juan semakin terpikat oleh kebaikan dan ketulusan El. Juan juga tidak faham seolah hati dan pikiran Juan selalu teringat dengan kebaikan itu dan tanpa sengaja semua yang dilakukan El pasti Juan ikuti."


Juan Mahardika memandang wajah Alfian Alfarizi dengan lekat. Wajahnya terlihat serius tetapi mulai tidak ada emosi. Seolah tidak percaya informasi anggota pendiri pejuang gadis yang di sembunyikan rapat-rapat mudah diketahui.


Tidak berniat untuk menceritakan kejadian selanjutnya seperti yang diminta Elfa kemarin. Hanya bisa berharap setelah cerita itu Alfian Alfarizi mulai melunak dan mau menerima sebagai adik ipar. Mau merestui pernikahan yang akan dilakukan sebentar lagi.


"Juan mohon, restui kami menikah ya, Bang!"


"Apa yang kamu lakukan sehingga El menerima lamaran kamu, padahal Abang tahu El belum bisa menerima kamu seutuhnya?"


Juan Mahardika tersenyum kecut, teringat Elfa menerima lamaran bukan karena harta benda. Tidak juga menjawab rasa cinta yang membara di dada. Namun, karena akan mengobati luka hati yang telah ditorehkan di masa lalu.


Ada satu lagi alasan Elfa menerima lamaran yang dilakukan tadi malam. Karena keyakinan dari Papi Alfarizi dan Mami Mitha tentang perubahan yang dilakukan selama ini. Walau belum sepenuhnya terpaut hati Elfa, tetapi sudah mulai bisa menerima.


"Juan tidak menjanjikan apa-apa, karena tahu betul jika El tidak pernah menganggap kekayaan Juan yang utama. Juan hanya akan mengubah diri menjadi lebih baik dan lebih layak agar bisa layak untuk El."


"Apa maksud lebih layak?"


"Iya, Bang. Juan sekarang ini sedang belajar menjadi lebih baik."


"Termasuk belajar agama dan keyakinan?"


"Benar sekali."


Alfian Alfaizi mengangguk membuat Juan Mahardika semakin lega. Seolah baru terlepas dari jerat leher yang sangat kencang. Ujian dan pertanyaan bisa dijawab dengan tenang, padahal tadi sangat takut akan tidak diizinkan untuk menikahi adiknya.


"Apakah ada syarat khusus agar Juan mendapatkan restu dari Abang?"


"Ok Abang akan memberikan satu syarat. Jika kamu bisa melakukan ini, Abang akan rela El menjadi istrimu!"


"Siap, katakan apapun syarat itu, insyaallah akan Juan penuhi."


"Selain emas kawin yang akan diminta El nanti, Abang ingin kamu membacakan ayat suci Surah Ar Rahman sebagai mas kawin. Apakah kamu sanggup?"

__ADS_1


__ADS_2