
Setelah sholat magrib, Juan Mahardika ke luar kamar untuk memesan apa yang diinginkan Elfa. Masih mengenakan sarung dan baju koko lengkap dengan sarung dan songkoknya. Bertemu dengan Asisten Dwi Saputra dan Rena.
"Itu suami El muslim, Aa?" tanya Rena sambil berbisik.
"Ya, muslim sejati dari lahir, tetapi sekarang menjadi lebih baik karena sahabat Rena."
"Alhadulillah."
"Kalian mau ke mana?" tanya Juan Mahardika.
"Kami mau ke kantor security, Tuan."
"Apakah dokter brengsek itu masih ada di sana?"
"Masih, tadi break dulu karena sholat magrib."
Sambil berjalan beriringan Asisten Dwi Saputra bercerita tentang Dokter Yohan Charnett. Setelah babak belur diberikan bogem mentah oleh Alfian Alfarizi. Dokter urologi itu diinterogasi oleh oleh security dan dua polisi yang dihubungi oleh Asisten Surya.
Karena waktu menjelang magrib, interogasi dihentikan sementara. Dokter itu dijaga oleh lima security secara bergantian. Sekarang ini semua menuju ke kantor security untuk melanjutkan interogasinya.
Pada awal interogasi tadi, Dokter Yohan Charnett mengaku putus asa karena berbulan-bulan tidak bisa bertemu dengan Elfa. Rasa cinta yang tidak terbalaskan membuat dia nekat. Apalagi setelah melihat konferensi pers Papi Alfarizi yang mengatakan pujaan hati telah dipersunting dengan orang satu negara.
Berusaha ingin bertemu sebelum acara akad nikah. Mencari informasi di mana pun, tetapi tidak pernah berhasil. Padahal hanya ingin bertemu dan membicarakan cinta yang tidak bisa hilang dalam hati.
Asisten Dwi Saputra bercerita juga, jika dokter itu tidak pulang setelah melajukan mobilnya ke luar mall. laki-laki itu hanya mengecoh para security yang mengawasi. Masuk ke tempat acara dengan menyamar dan berhasil masuk ke area resepsi kembali tanpa diketahui.
"Kamu duluan saja, setelah aku mencarikan pesanan El, aku juga kan menyusul ke kantor security!"
"Baik, Tuan."
"Jangan lupa kirim orang menjaga lantai atas, awasi orang yang naik ke sana!"
"Siap laksanakan, Tuan."
Hanya dalam waktu seperempat jam saja, Juan Mahardika mendapatkan es krim dan buah yang diinginkan Elfa. Ditambah menu makan malam untuk nanti malam yang di pesan di restoran yang ada di mall. Langsung dibawa ke kamar kembali dengan menggunakan lift khusus untuk keluarga.
"Sayang, ini buah dan Es krimnya."
__ADS_1
"Kok banyak betul, yang itu apa?"
"Menu makan malam kita nanti, atau El mau makan sekarang?"
"Tidak, El masih kenyang. Makan itu saja dulu."
"Mau makan Es krim atau buah dulu?"
"Es krim dulu, sini El sendiri saja!"
"Sekarang El makan sendiri, Akak keluar sebentar ya?"
"Akak mau ke mana?"
"Si dokter brengsek itu masih ada di kantor security, masih diinterogasi oleh Papi dan Bang Al."
"Akak jangan emosi, jangan sampai ada masalah besar yang terjadi!"
"Beres, Sayang."
Tuan dan asistennya berdiri melingkar dekat Dokter Yohan Charnett yang duduk di kursi yang ada di kantor security. Hanya Papi Alfarizi dan dua polisi yang duduk sedang menginterogasi dokter yang sudah babak-belur. Salah satu polisi sedang memeriksa identitas dan kelengkapan laki-laki satu negara dengan Juan Mahardika.
Tidak perduli dengan situasi jika Elfa sudah menikah. Belum bisa menerima sepenuhnya jika sang pujaan hati menolak Berkali-kali. Dalam hati masih belum menyerah dan masih ingin berjuang. Dengan alasan suami dari sang pujaan hati adalah seorang casanova.
Rasanya Alfian Alfarizi masih ingin memberikan bogem mentah kepada laki-laki yang tergila-gila pada sang adik tercinta. Setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya selalu dijawab dengan berbelit-belit. Jawaban juga hanya diulang seolah tidak ada kosa kata lain yang dikuasai oleh dokter itu.
"Tuan, visa dia masuk ke Indonesia bukan visa kerja melainkan visa wisata selama satu bulan," kata salah satu Polisi yang memeriksa dokumen.
"Kapan masa berlaku visa itu berakhir?" tanya Juan Mahardika.
"Satu minggu yang lalu, Tuan."
"Jebloskan dia ke penjara sekarang dengan tuduhan pekerja ilegal!" perintah Papi Alfarizi.
"Papi, apakah bisa dilaporkan dengan tuduhan membuat keonaran?" tanya Alfian Alfarizi.
"Apakah itu perlu?"
__ADS_1
"Juan setuju usulan Bang Alfian, Pi. Ini untuk mengantisipasi kemungkinan esok hari, tipe laki-laki seperti dokter brengsek ini tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa diinginkan."
"Tuan, jangan khawatir saya dan Asisten Dwi serta Asisten Julio yang akan mengusahakan agar dokter urologi ini di blacklist dari Indonesia terutama Jakarta dan sekitarnya," kata Asisten Surya.
"Bagus, sekarang silakan kalian urus dia!" perintah Papi Alfarizi.
"Siap, Tuan." Tiga asisten menjawab bersamaan.
Juan Mahardika duduk bersama tiga Asisten setelah abang ipar dan papi mertua kembali ke kamar. Mereka meeting mendadak tentang laporan tuntutan kepada Sherly Crash dan media yang telah mengabarkan tentang isu sekitar model majalah dewasa itu.
Asisten Dwi Saputra telah mendapatkan kabar dari pengacara jika Sherly Crash masuk rumah sakit karena terlalu banyak mengkonsumsi minuman beralkohol. Dilarikan ke rumah sakit oleh asisten pribadinya sendiri karena perut terlalu tegang.
Tidak ada pendarahan atau luka pada model dewasa itu. Ada seorang wartawan yang mendengar ocehan ngelantur Sherly Crash yang disimpulkan menjadi opini yang tidak akurat. Sekarang ini penyelidikan kepolisian sedang berlangsung.
Ada satu wartawan, media yang menaungi wartawan juga terseret dalam kasus ini. Sherly Crash juga dijadikan tersangka bersama wartawan dan perusahaan tempat wartawan itu bekerja. Tuntutan pencemaran nama baik dengan ganti rugi yang sangat besar saat ini diajukan oleh pengacara Juan Mahardika.
"Baru satu jam yang lalu mereka menunggu Anda untuk bertemu, Tuan." Asisten Dwi Saputra melaporkan.
"Apakah mereka mengajak berdamai?"
"Kemungkinan seperti itu."
"Bagaimana menurut Anda Asisten Surya?" tanya Juan Mahardika.
Asisten Surya mengerutkan keningnya karena tahu betul jadwal menantu dari tuannya itu akan padat dalam satu bulan ke depan. Akan ada penyatuan perusahaan yang awalnya hanya berskala Asia milik Papi Alfarizi. Akan menjadi berskala internasional bergabung dengan perusahaan Mahardika.
Dua nama perusahaan digabung menjadi satu menjadi Zulkarnain & Mahardika Corp. Akan semakin besar dan merajai dunia bisnis sampai Eropa. Pegawai yang ada di dua perusahaan akan semakin sejahtera dengan adanya penyatuan perusahaan.
"Anda tidak mungkin ada kesempatan untuk datang ke Australia dalam satu bulan ke depan, Tuan," jawab Asisten Surya.
"Oya, coba bacakan jadwalku sekarang, Dwi!"
Asisten Dwi Saputra membacakan jadwal Juan Mahardika mulai dari meeting pemegang saham, peresmian penyatuan persahaan. Mengunjungi perusahaan yang ada di Asia dan Eropa sampai seluruh wilayah Indonesia.
"Kalau bisa jadwal ulang setelah peresmian penyatuan perusahaan, yang ke Eropa terlebih dahulu!"
"Saya bisa menebak Anda akan sekalian berbulan madu, betul, 'kan?" tanya Asisten Surya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Itu maksudku."
"Apakah Anda belum melalui malam pertama, Tuan?" tanya Asisten Dwi Saputra keceplasan.