Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 142. Ulur Waktu


__ADS_3

Rena termenung dan tidak menjawab pertanyaan Elfa. Teringat dua hari lalu saat ada di Pasar Jimbaran untuk mencari oleh-oleh. Melihat seperti siluet badan Krisnawati dari belakang berjalan menjauhi dirinya.


Rena berlari mengejar wanita itu, tetapi sampai di persimpangan gang yang ada di pasar tiba-tiba wanita itu menghilang. Sampai Rena memutari gang dan sekitarnya tidak ditemukan sosok wanita itu. Sampai terpisah dari suami sejenak, untungnya sang suami tidak menyadari karena saat itu Asisten Dwi Saputra sedang memilih jaket kesukaannya.


"Wanita yang seperti Kris itu memakai baju apa, Rey?" tanya Elfa.


"Dia memakai celana levis dan kaos hitam."


Baru ingin bertanya lagi tentang Krisnawati, ada Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra datang, "Sayang, apakah sudah selesai makan ayam betutunya?"


"Sudah, Akak mau sarapan?"


"Iya, bibi buat sarapan apa selain ayam betutu?" tanya Juan Mahardika.


"Bibi!" panggil Elfa dengan keras karena bibi sedang berada di dapur.


"Ya, Nyonya."


"Ada sarapan apa selain ayam betutu?"


"Ada bubur ayam, nasi goreng ada juga roti bakar."


"Akak mau sarapan yang mana?"


"Nasi goreng saja, sama susu coklat, El sudah minum susu hamil?"


"Belum, susunya sudah habis. Nanti El beli dulu."


"Nanti Akak antar ke supermarket."


"Rena ikut ya!" ajak Elfa.


"Dengan senang hati, Aa juga ikut ya!"


"Hhmm!"


pukul sepuluh siang, dua pasang suami istri pergi ke supermarket yang ada di mall ternama di Bali. Elfa hanya melenggang berjalan tanpa membawa apa-apa. Tas mewah miliknya Juan Mahardika yang membawa tanpa malu-malu.


Asisten Dwi Saputra dan Rena berjalan di belakang pasangan bucin yang terlihat mesra. Rena menyelempangkan tas panjang miliknya sendiri. Sedangkan Asisten Dwi Saputa juga membawa tas slempang sendiri.

__ADS_1


Elfa sedang asyik memilih susu hamil dengan teliti. Juan Mahardika mendorong troli sambil ikut memperhatikan susu hamil yang berjejer rapi. Asisten Dwi Saputra sedang memperhatikan deretan keperluan laki-laki yang ada di samping deretan susu. Rena hanya berjalan mengikuti suami sambil melihat ponsel dan sesekali melihat area sekitar.


Elfa sudah mengambil empat kotak susu hamil dengan varian susu yang berbeda. Dua suami masih konsentrasi keperluan pria tanpa melihat orang-orang yang berlalu-lalang. Rena yang sering memperhatikan satu per satu orang lewat terutama wanita muda.


"Aa, Rey mau ke kamar mandi sebentar sakit perut," bisik Rena.


"Iya hati-hati." Asisten Dwi kembali melihat barang yang ada di depannya.


Rena mendekati Elfa dengan berjalan setengah berlari, "El, Rey melihat sekelebatan orang yang tidak asing, ulur waktu sampai Rey kembali," bisiknya.


"Siapa, Rey?"


"Nanti Rey ceritakan setelah kembali, tadi Rey pamit sama Aa Dwi ke kamar mandi."


"Ok cepat kembali!"


"Siap, ingat kalau Rey terlambat datang jangan lupa ulur waktu, nanti kalau sudah pasti baru kita serita pada suami."


Rena berlari meninggalkan Elfa setelah berbelok menuju pintu utama supermarket. Elfa yang mengawasi Asisten Dwi Saputra dan Juan Mahardika. Agar Mereka tidak curiga karena Rena berlari menuju ke luar mall bukan ke toilet.


Elfa berbalik menyusul suami yang masih melihat barang yang dijajar rapi, "Akak,"


Elfa berjalan melirik bagian supermarket ada gerai makanan siap saji yang terlihat menarik. Sangat cocok untuk mengulur waktu menunggu Rena kembali. Tidak mungkin berani Asisten Dwi Saputra untuk mengajak pulang terlebih dahulu saat bumil sedang pingin menikmati makanan siap saji yang ada di supermarket.


"El mau makan di situ, boleh?"


"Tentu dong, Sayang. Lo Rena ke mana kok tidak ada?"


"Dia ke toilet, Tuan."


"El saja yang menghubungi Rey, Asisten Dwi. Untuk menyusul kita di gerai siap saji itu!"


"Baik, silakan saja."


Elfa membuka ponsel dan menulis pesan WA kepada Rena. Menceritakan jika sekarang sudah mulai mengulur waktu dengan makan di gerai siap saji yang ada di dalam supermarket. Hanya tersampaikan saja pesan yang dikirim dan tidak dibaca oleh Rena.


Elfa bisa menebak pasti Rena sekarang ini sedang berlari atau berjalan mencari orang yang dimaksud. Tidak mungkin sempat membuka ponsel untuk membaca pesan. Namun, harus bisa memberikan alasan kepada Asisten Dwi Saputra agar dia tidak khawatir.


"Asisten Dwi," panggil Elfa.

__ADS_1


"Ya, ada yang bisa dibantu?"


"Ini Rena pesan agak lama katanya."


"Ok!" Asisten Dwi Saputra mengacungkan jempol sambil mengikuti Juan Maharika yang masuk di gerai siap saji.


Satu piring menu ayam goreng tepung tanpa nasi, hanya menggunakan kentang goreng sudah ludes dinikmati oleh Elfa. Waktu mungkin hampir dua puluh menit, tetapi pesan yang Elfa kirim belum juga dibaca oleh Rena.


Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra kebetulan sedang membahas pekerjaan yang mendadak dikirim oleh pengganti Asisten Dwi Saputra yang ada di Jakarta. Sehingga setelah setengah jam berlalu dua suami itu belum menyadari jika Rena belum juga datang.


Elfa mulai gelisah setelah lima kali membuka pesan WA yang dikirim ke Rena belum juga dibaca. Berpikir keras bagaimana cara jika ditanya oleh dua laki-laki yang sedang konsentrasi bekerja bisa menjawab tanpa dicurigai. Jika dipikir sudah hampir satu jam ke toilet belum juga kembali pasti akan dicurigai.


Di luar gerai makanan siap saji, ada stan buah dan ada juga buah yang sudah dipotong kecil-kecil ditambah dengan sambal rujak. Dengan terpaksa Elfa memesan satu porsi padahal perut sudah kenyang. Jika masih menikmati makanan pasti suami dan sang asisten akan rela menunggu.


Elfa sengaja makan rujak buah perlahan saja. Satu potong masuk mulut kemudian memeriksa ponsel. Terus dilakukan berulang kali sampai baterai ponsel sampai hampir habis.


Suami Rena dan suami tercinta belum menyadari waktu satu jam berlalu. Mereka masih konsentrasi pada laptop dan masih membahas pekerjaan. Sampai minuman yang dipesan sudah terlihat kosong tanpa sisa, Rena belum juga menampakkan batang hidungnya.


"Bagaimana ini, Rey mengapa lama sekali?" monolog Elfa setelah rujak buah satu piring juga sudah ludes pindah ke dalam perut.


Badan Elfa mendekati Juan Mahardika sambil melirik ponsel Asisten Dwi Saputra yang ada suara notifikasi pesan WA masuk. Tanpa sengaja melihat ponsel suami Rena itu mati karena kehabisan daya. Elfa tersenyum memiliki ide setelah mengetahui ponsel itu mati.


Asisten Dwi Saputra langsung melihat jam tangan yang ada dipergelangan tangan kanan. Baru menyadari istrinya pergi ke toilet sudah satu jam lebih, "Mengapa lama sekali ke kamar mandi?"


Elfa pura-pura tidak tahu berapa lama Rena pergi, "Perasaan El baru saja Rey ke toilet, jam berapa sih sekarang?"


"Rey sudah satu jam setengah ke toilet, tetapi belum juga kembali, Nona."


"Apakah Rey tidak kirim pesan pada Anda, Asisten Dwi?"


"Baru saja ponsel saya mati, kemungkinan Rena mengirim pesan tetapi belum sempat dibaca, saya mau menyusul dia dulu deh!"


"Eeee. Anda ingin masuk toilet wanita Asisten Dwi?"


BERSAMBUNG


Ayo mampir di novel teman author yg rekomen ini ya


__ADS_1


__ADS_2