Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 187. Belanja


__ADS_3

Juan Mahardika mendapat pelototan tajam dari Elfa. Ucapan suami takut menjadi kenyataan melahirkan saat kamnunggan berumur tujuh bulan. Walau dikatakan sudah cukup umur saat melahirkan pada umur itu tetapi lebih baik melahirkan tepat umur sembilan bulan.


"Akak, ini baru tujuh bulan jangan sampai melahirkan sekarang!"


"Maaf, ada yang bisa dibantu akar twins baby anteng?"


"Akak mau bantu apa?"


"Mungkin twins baby minta di tengok sama Daddy-nya begitu?"


Elfa langsung mengerucutkan bibirnya, "Itu bukan twins baby yang ingin di tengok, tetapi Akak yang modus," jawab Elfa dengan jutek.


Juan Mahardika tergelak sambil mengusap perutnya yang membuncit. Modus kesukaan sekarang mudah ditebak oleh istri tercinta karena sudah terbiasa. Walau akhirnya berakhir dengan menyatunya dua hati sampai puncak nirwana bersamaan.


Keesokan harinya Elfa harus pulang ke Jakarta kembali. Ada banyak pekerjaan yang harus dikerjakan karena tidak ada Asisten Dwi Saputra. Sampai sekarang asisten pribadi masih berada di Eropa belum bisa kembali.


Pulang dari Ngawi, Elfa langsung mempersiapkan isi kamar twins baby yang kemarin kosong. Mulai dari baju, celana, popok, sampai box bayi sudah dibelinya.


Tidak hanya sekalli atau dua kali berbelanja di mall milik Papi Alfarizi yang ada di Jakarta. Didampingi oleh suami tercinta untuk mengunjungi toko khusus bayi dan perlengkapan. Hampir satu toko dipilih dan dibeli oleh Elfa dan Juan Mahardika.

__ADS_1


Elfa memilih perlengkapan dan baju berwarna pink. Juan Mahardika memilih berwarna biru. Satu ukuran dan satu model hanya berbeda warna saja.


"Akak, bagaimana kita bawa pulang belanjaan segitu banyaknya?" tanya Elfa setelah menyadari jumlah belanjaan yang menggunung.


"La iya, mengapa sebanyak itu yang kita pilih ya?"


Pemilik toko langsung tersenyum dan mendekat, "Jangan khawatir Tuan dan Nyonya, kami yang akan mengantar sampai rumah Anda."


"Ooo baiklah, ini semua berapa?"


"Sebentar kami hitung dulu."


Menggunakan black card untuk membayar semua yang sudah di pilih. Langsung keluar toko setelah membayar kontan dan mengambil kembali black card yang selesai digesek. Barang akan di kirim setelah selesai di packing.


"Mau ke mana lagi, Sayang?"


"El mau makan lapar."


"Makan di mana?"

__ADS_1


Ada restoran berjajar di samping toko perlengkapan bayi yang dikunjungi. Ada yang siap saji dan ada pula restoran umum. Ada satu yang menjadi perhatian Elfa yaitu restoran sea food.


"Makan sea food aja, Akak. El pingin makan kerang-kerangan."


"El duduk saja, Akak yang pesan!"


"Di tambah pecel lele tanpa nasi ya, Akak!"


"Baik, tunggu di sini." Juan Mahardika menarik kursi untuk duduk Elfa.


Kerang yang dipesan ada berbagai jenis yang di mix menjadi satu. Diantaranya, kerang hijau, kerang bambu, dan kerang kapah. Dimasak dengan bumbu sederhana yaitu bumbu saus padang.


Ditambah pecel lele tanpa nasi. Hidangan yang berbeda jauh dari namanya. Terkadang membuat gagal fokus karena tidak ada sambal kacang dalam hidangan pecel lele ini.


Juan Mahardika menunggu pelayan datang setelah dua hidangan selesai di letakkan di meja, "Lo kok lama betul pelayan tadi?"


"Akak menunggu apa?"


"Katanya pecel lele, mana sambal kacangnya kok tidak ada?"

__ADS_1


__ADS_2