
Elfa berjalan menuju ruang operasi dengan gontai. Sebenarnya enggan untuk menemui Dokter Yohan Garnett. Laki-laki yang sok mengatur dan selalu sok kuasa.
Biasanya ruang operasi akan terbuka jika operasi belum dimulai. Namun setelah Elfa sampai di depan pintu ruang operasi. Pintu sudah tertutup dan ada lampu hijau yang sedang menyala.
"Alhamdulillah ... El ditinggal berarti El tidak harus meladeni dokter yang sok ngatur itu," monolog Elfa sendiri dengan suara pelan.
Tanpa disadari saat Elfa berbalik badan. Dibelakang Elfa ada seorang perawat yang berdiri mematung, "Astagfirullah ... Sus bikin kaget saja!" teriak Elfa sambil memegangi dada.
Perawat itu hanya menahan tawa sambil menutup mulutnya. Dan bergegas melipat tangan untuk meminta maaf, "Maaf Kak El ruang operasi mendadak di tempati Dokter Bobby Charlton, Anda di minta ke kantor Dokter Yohan sekarang!"
"Jadi operasinya tidak jadi?"
"Tidak jadi, Kak El."
Elfa tersenyum simpul karena merasa lega. Jika operasi tidak jadi tidak perlu menemui dokter lagi. Harus mempunyai alasan yang tepat agar bisa menghindari pertemuan yang tidak diinginkan.
"Aduuuh ... Suter, tolong sampaikan kepada Dokter Yohan tiba-tiba El ingin buang air besar, bye bye!" teriak Elfa sambil memegangi perut.
"Tapi Kak El ...!"
Perawat itu tidak melanjutkan ucapannya karena Elfa langsung berlari menuju toilet. Lebih baik menghindar dari dokter itu karena perasaan yang tidak tumbuh seperti dia.
Disamping tidak ingin pacaran. Elfa Sudah bertekad untuk belum ingin mencari pasangan hidup. Masih ingin menikmati hidup dengan menimba ilmu sebanyak mungkin.
Sudah tidak memiliki hal yang paling berharga dalam hidup juga salah satu faktor Elfa tidak berniat mencari pacar atau pendamping. Sebagian waktunya hanya untuk bekerja membantu orang lain dengan ilmu yang dimiliki.
Hampir satu jam Elfa berdiam diri di kamar mandi. Tidak ingin ketahuan jika hanya menghindar dari dokter yang menyukai. Ke luar dari kamar mandi sambil melihat dan mengawasi area yang terlihat sepi.
Bertepatan dengan ruang operasi yang terbuka. Elfa langsung menghentikan langkahnya. Ada dokter urologi ke luar bersama dengan dua suster. Dari lawan arah Dokter Yohan Garnett mendekati Dokter Bobby Charlton.
"Bagaimana dengan pasien Anda, Dok?" tanya Dokter Yohan Garnett.
"Aman ... semua berjalan dengan lancar, bahkan Juan langsung meninggalkan ruang operasi tanpa mau di observasi terlebih dahulu."
"Ok selamat, sekarang gantian kami juga akan melakukan vasektomi pasien."
"Tentu silahkan!"
Elfa bersembunyi di balik tiang besar sambil mendengar pembicaraan dua dokter. Saat salah satu dokter itu menyebut nama Juan, jantung Elfa seolah berhenti berdetak. Ada rasa sakit yang tiba-tiba muncul seakan menyesakkan dada.
__ADS_1
Menyebut nama laki-laki yang sama dengan laki-laki yang pernah merenggut segalanya dalam hidup, seolah darah langsung mendidih. Tangan mengepal memukul tembok berkali-kali. Padahal hanya mendengar namanya saja dan belum tentu orang yang dimaksud adalah sama.
"Suster, di mana Elfa?" tanya Dokter Yohan Garnett.
"Tadi ke kamar mandi, Dok. Katanya sedang sakit perut." jawab salah satu perawat.
Elfa yang awalnya ingin keluar dari persembunyian, mengurungkan niatnya dan tetap di tempat. Sambil menutup mulut bahkan hampir tidak bernapas agar tidak ketahuan. Bertahan sampai dokter dan suster masuk ke ruang operasi.
"Sus ... kamu cari dulu Elfa, suruh ke sini kalau dia ada di ruangannya!"
"Baik, Dok!"
Perawat berbalik badan tidak masuk ke ruang operasi. Bergegas ke ruang counseling untuk mencari orang yang dimaksud Dokter Yohan Garnett. Tanpa melihat atau menyusul ke kamar mandi.
Elfa masih bertahan di balik tiang rumah sakit yang besar. Bergegas Elfa mengirim pesan WA kepada Sheilla Jannes, "Tolong izinkan ke kepala counseling, El pulang karena sakit perut."
Tidak menunggu jawaban dari dari sahabatnya. Elfa langsung bergegas ke luar rumah sakit. Menuju ke parkiran tempat memarkirkan mobil mewahnya.
Bagai keluar dari kandang harimau, masuk ke kandang macan. Elfa bertemu teman satu fakultas yang sering mengejarnya. Si putra emas berlian Atheer Ahmed yang menunggu di parkiran.
"Elfa ...!" teriaknya.
"Kamu mau pulang kah?"
"Iya," jawab Elfa singkat.
"Bagaimana kalau Athe antar pulang?"
Elfa hanya menggelengkan kepala sambil membuka pintu mobil. Enggan menanggapi pemuda yang selalu mengikuti setiap saat. Tidak memperhatikan pemuda itu sangat berharap bisa berdua.
"Elfa please!"
"Sorry ... El buru-buru ada hal yang penting harus segera diurus, Bye." Elfa langsung menjalankan mobilnya tidak memparhatikan lagi Atheer Ahmed berdiri mematung.
"El aduuuuh!"
Atheer Ahmed berlari menuju mobil dan ingin mengejar mobil Elfa. Hanya sayangnya Elfa melaju dengan kecepatan tinggi dan menghilang bersama mobil pengendara lain. Tidak mungkin bisa mengejar karena berhenti adanya lampu merah yang menghalangi.
Elfa langsung bernapas dengan lega saat melihat spion yang ada di atas kepala. Mobil teman satu fakultas itu tidak lagi mengikuti. Kemungkinan tidak akan bisa mengejar lagi setelah lampu merah berganti menjadi lampu hijau.
__ADS_1
Hampir dalam satu minggu ini Juan Mahardika bertemu dengan Dokter Bobby Charlton. Selalu berkonsultasi dan diopservasi paska pembukaan vasektomi yang dilakukan. Pemeriksaan dilakukan secara teliti untuk mengetahui penyebab mati suri pusaka bumerang milik Juan Mahardika.
Hampir satu minggu berlalu, Dokter Bobby Charlton mengobservasi segala kemungkinan yang ada. Tidak ditemukannya penyakit yang membahayakan. Semua terlihat normal dan masih sehat seperti saat dulu melakukan vasektomi.
"Sejauh ini semua normal dan tidak ada yang dikhawatirkan," kata Dokter Bobby Charlton.
"Apakah ini tidak berbahaya, ingat pusaka ini sudah tidak berfungsi selama tiga bulan terakhir?"
Sambil tergelak dokter pribadi sekaligus sahabat Juan langsung menyahut, "Mungkin dia lelah dari dulu selalu kamu ajak bekerja keras."
"Dulu paling hanya sehari cuma empat kali, tidak sih kalau lelah."
"Apakah dulu kamu sering minum obat kuat sebelum beraksi?"
"Tidak pernah sama sekali, semakin di gunakan pusaka ini semakin kuat."
"Ha ... ha ... ha kamu bisa aja."
"Ini ada resep yang harus dibeli, setelah ini semoga dia bisa bangkit dan beraksi kembali."
"Kalau tidak bisa bagaimana?"
"Berarti ada something wrong yang kamu lakukan saat terakhir saat beraksi."
Juan Mahardika terdiam dan mengingat saat terakhir mengambil dengan paksa pimpinan pejuang gadis. Hanya tidak ingat apa yang terjadi setelah terlelap tidur. Yang diingat gadis itu menangis sesunggukan di lantai tanpa diperdulikan.
"Ok kami berikan waktu satu minggu untuk mengingat kejadian terakhir. Jika minum obat yang diresepkan ini tidak berhasil. Akan saya rekomendasikan untuk bertemu dengan psikiater."
"Maksud kamu apa?"
"Kamu harus counseling dengan dokter khusus agar masalah kamu bisa teratasi dengan baik."
"Apakah tidak ada cara lain?"
BERSAMBUNG
yok mampir kk di novel teman author yang rekomen banget ini, pasti tidak menyesal.
__ADS_1