Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 135. Di Bundaran Titik Nol IKN


__ADS_3

Hanya menjawab dengan mengangguk, Juan Mahardika membawa Elfa melayang ke negari awan. Saling mencurahkan cinta sejati dan saling menunjukkan gelora cinta yang semakin besar. Apalagi dengan didukung suasana yang syahdu dalam hotel bintang lima yang mewah.


Elfa langsung tertidur pulas dalam pelukan suami setelah selesai sekali beraksi. Juan Mahardika masih memeluk dan mengusap pipi sang istri sampai terlelap dalam mimpi. Belum bisa tidur, hanya memejamkan mata karena teringat Elfa yang belum ingin diperiksa oleh tim dokter.


Dari pertama mendekati sampai menikah, Juan Mahardika selalu bersabar dan selalu menahan diri. Membuat sang istri senyaman mungkin, walau sebenarnya ingin sekali mengetahui dan ingin sekali mempunyai keturunan. Mengingat umur kini lebih dari kepala tiga dan sering ditanya Mommy Vera tentang cucu.


Cinta yang terlalu besar mampu merubah sifat diri yang dulu pemarah dan emosi. Membentengi diri dengan ilmu agama yang selama ini dipelajari. Membuat Juan Mahardika semakin memahami makna hidup dan kehidupan.


Sambil memandang wajah istri yang damai dan terlelap. Juan Mahardika terseyum dan menggelengkan kepala jika teringat dulu saat sang istri dalam mode jutek dan dingin. Selalu saja membuatnya jungkir balik mengejar cinta dan menakhlukkan hati sang pujaan hati.


Saat ini menanti dengan cemas menunggu hasil usaha beraksi. Semoga menghasilkan keturunan yang selalu di dambakan dalam diam. Selalu berkoordinasi dengan dokter agar bisa merayu perlahan sang istri untuk mau diperiksa.


Teringat dalam dua hari ini saat meeting, selalu mual dan terkadang muntah di kantor. Ada banyak karyawan laki-laki yang menebak jika sang istri sedang berbadan dua. Hanya mengaminkan setiap pertanyaan dan doa karyawan.


Tidak bercerita pada istri saat mengalami mual atau muntah. Tidak ingin membuat istri khawatir dan banyak pikiran. Akan diceritakan setelah mendapatkan kepastian tim dokter nanti setelah bisa memeriksa Elfa.


Sedang melamun sambil membelai sang istri, ada pesan WA dari asisten perusahaan tambang yang ada di Samarinda. Jadwal besok pagi akan diawali pukul sembilan pagi setelah sarapan pukul delapan pagi. Hanya menjawab emot acungan jempol dan meletakkan kembali ponsel di samping bantal.


Pagi hari sebelum sarapan, tim dokter memeriksa Elfa sebelum beraktifitas. Hanya memeriksa tensi darah dan kesehatan umum saja. Karena Elfa masih bersikukuh untuk diperiksa setelah pulang dari berkunjung di Titik Nol IKN.


Pagi ini Elfa, Juan Mahardika, tim dokter dan kru pesawat sarapan bersama di restoran hotel tempat menginap. Hidangan khas Balikpapan untuk sarapan pagi. Yaitu sarapan nasi kuning yang sangat terkenal lezat dan sangat mudah ditemui di sudut mana pun di kota Balikpapan.


Nasi gurih dengan warna kuning dari kunyit bepadu santan ditambah garam dan wangi daun salam. Sangat terasa nikmat ditambah mie goreng, sambal goreng tempe dan daging bumbu merah. Ditaburi serundeng kelapa dan bawang goreng semakin membuat gurih nasi kuning menggoyang lidah.

__ADS_1


Hanya sayangnya, Juan Mahardika yang jarang makan dari karbohidrat nasii hanya makan danging bumbu merah yang diiris tipis. Di tambah dengan mie goreng sebagai karbohidratnya. Jadi tidak heran jika menu danging bumbu merah hampir lenyap setengahnya setelah Juan Mahardika mengambil menu prasmanan sendiri.


Elfa tersenyum mengambil menu nasi kuning komplit kepada chef yang berdiri sambil menerangkan kondimen nasi kuning. Ada juga wakil chef yang langsung menambah daging bumbu merah yang tinggal setengah. Baru harum daun salam dan gurih yang menyeruak dihidung membuat Elfa semakin tidak sabar menikmati hidangan nasi kuningnya.


"Gurih banget nasinya, Akak tidak mau mencoba?"


"Cobain satu suap aja dari El, ha!"


Elfa langsung menyuapkan satu sendok nasi kuning ditambah mie goreng dan sambal goreng tempe tanpa potongan daging bumbu merah, "Tambah daging dari piring Akak sendiri ya!"


Sambil mengangguk Juan Mahardika menambah satu potong kecil daging ke dalam mulut. Gurihnya nasi kuning berpadu dengan manis pedas sambal goreng tempe dan kondimen lainnya sangat menggoyang lidah. Apalagi ditambah taburan serundeng, rasa gurihnya tidak tertandingi.


"Enak banget ternyata, suapin lagi dong!" pinta Juan Mahardika sambil membuka mulut.


Elfa hanya menerima beberapa suapan dari sang suami. Perut terasa sangat kenyang dan menolak untuk disuapi lagi, "El sudah kenyang, Akak saja yang habiskan!"


"Hhmm."


Rombongan tiga mobil menuju Titik Nol IKN, sedangkan Juan Mahardika dan Elfa satu mobil sendiri. Sopirnya adalah manager perusahaan tambang sendiri tanpa meminta sopir untuk mengantar. Untuk menghormati bos dan sang istri yang baru pertama kali berwisata di Balikpapan.


Elfa sangat antusias saat tiba du bundaran Titik Nol IKN. Perjalanan selama dua jam terbayar sudah saat sedang berdiri di tengah bundaran yang sangat ikonik. Tangan direntangkan dengan menegadah ke atas. Diambil gambarnya menggunakan kamera canghih milik Juan Mahardika.


Dengan udara yang masih segar dan rimbunnya hutan belantara. Membuat Elfa betah lama-lama berada di ikon calon ibu kota negara yang akan datang. Merupakan kebanggaan tersendiri bisa mengunjungi wisata alam yang sangat menakjupkan.

__ADS_1


Manager hotel sengaja membaut wisata keluarga saat berada di titik Nol IKN. Sengaja membangun tenda kecil seperti yang dilakukan oleh presiden saat peresmian tempat ikonik ini. Walau tidak akan menginap, hanya sekedar untuk beristirahat dan berlindung dari teriknya matahari.


Elfa semakin antusias dan bahagia melhat tenda kecil yang terlihat sangat kokoh. Berkali-kali mengambil foto duduk di depan tenda, duduk di pintu tenda dan masih banyak lagi foto yang diambil.


"Akak, sekali lagi ambil foto El ada di dalam tenda, ayo masuk!" teriak Elfa sambil masuk ke dalam tenda.


"Siap, Sayang." Juan Mahardika mengangguk sambil tersenyum. Ikut masuk ke dalam tenda dan menutup pintu tenda dengan perlahan.


"Mengapa pintunya di tutup rapat, Akak?"


"Silau dari matahari, nanti fotonya tidak terlihat terang," jawab Juan Mahardika sambil tersenyum devil.


Awalnya Elfa tidak curiga dengan senyum sang suami. Berpose duduk di pojok tenda sambil tersenyum agar segera diambil fotonya. Hanya dua kali Juan Mahardika mengambil foto Elfa, langsung merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepala di pangkuan istri tercinta, "Akak capek ingin istirahat sebentar."


Elfa langsung mengusap keringat yang ada di pipi dan dahi Juan Maharika dengan tangannya sendiri, "Capek, 'kah?"


"Hhmm," jawab Juan Mahardika memejamkan mata sambil menyunggingkan bibirnya.


"Apanya yang capek, kaki atau tangan?"


Sambil tergelak Juan Mahardika menunjuk pusaka bumerang yang sudah bangun sempurna, "Yang capek ini, dan minta di pijit terapi."


"Eee Akak ngawur aja ...!"

__ADS_1


__ADS_2