
Asisten Dwi Saputra tercengang saat mendengar Juan Mahardika ingin membalas dendam pada Elfa. Beru saja atasannya mengutarakan maksud setelah kemarin merenung seperti saran yang diminta. Sudah menyimpulkan jika semua karena salah Elfa.
Harapan Asisten Dwi Saputra melenceng jauh seperti yang dipikirkan. Bukannya berubah lebih baik, tetapi semakin tersesat jauh, "Maksud saya memikirkan dengan lebih ...?"
Asisten Dwi Saputra tidak melanjutkan perkataan karena Juan Mahardika menghentikan dengan jari telunjuk di bibir. Wajah dan mata Juan Mahardika terlihat memancarkan kebencian, "Cukup, Dwi. Tugas kamu sekarang cari tahu di mana Elfa!"
"Tetapi maksud saya bukan begitu, Tuan."
"Cepat kerjakan tugas itu sekarang, jangan sampai aku kehilangan kendali lagi!"
"Baiklah, saya permisi."
Dengan perasaan kecewa Asisten Dwi Saputra ke luar dari kantor Juan Mahardika. Hanya bisa berharap suatu saat nanti bisa mengubah cara berpikir tentang gadis itu. Seharusnya yang salah bukan gadis yang pernah direnggut kehormatannya.
Tugas tetaplah tugas yang harus dikerjakan, walaupun tidak sesuai dengan hati nurani. Hari ini Asisten Dwi Saputra mencari informasi tentang Elfa di media sosial. Hanya sayangnya putri pengusaha keturunan Arab dan Sunda itu jarang terekspos media. Dalam akun resmi perusahaan sering dan wara-wiri wajah kakak kandung dan ayah kandung Elfa saja.
Asisten Dwi Saputra mencari informasi tentang rumah sakit milik keluarga Zulkarnain di Bogor. Di akun resmi rumah sakit itu banyak kegiatan sosial yang selalu diadakan. Ada foto Elfa dalam beberapa kegiatan sosial.
Elfa yang sedang ikut palang merah saat SMA bersama rumah sakit. Sedang membantu bencana banjir di sekitar Jakarta. Ada juga sedang berfoto bersama anak-anak panti asuhan.
"Gadis baik dan berjiwa sosial ini yang Anda benci, Tuan Juan?" monolog Asisten Dwi Saputra sambil terus melihat akun resmi rumah sakit.
Asisten Dwi Saputra memutar otak untuk bisa mencari informasi tentang Elfa. Bingung harus mengawali dari mana karena tidak menemukan hak buruk pada diri Elfa. Waktu beristirahat ingin menyegarkan pikiran yang penat dengan ke luar kantor.
Asisten Dwi Saputra melajukan mobil menuju kafe yang biasa di datangi saat pikiran penat. Ada minuman susu cokelat hangat kesukaan yang bisa membuat rileks pikiran yang sedang penat. Tidak masalah jarak yang lumayan jauh dari perusahaan.
Baru sampai pertengahan jalan melewati taman kota. Asisten Dwi Saputra melihat ada segerombolan anak muda yang sedang mengumpulkan dana. Seragam mereka menunjukkan perguruan silat ternama asli Indonesia. Mereka ada yang berkeliling, ada juga yang berdiri di pinggir jalan.
__ADS_1
Yang membuat Asisten Dwi Saputra meminggirkan mobil di seberang taman. Ada mobil mewah yang berhenti mendekati para pencari dana. Yang pertama dilihat adalah nomor polisi dengan tulisan awal huruf B, dan ada nomor khusus EL.
Asisten Dwi Saputra langsung mengambil ponsel dan merekam menggunakan Vedio. Bersamaan sopir mobil mewah itu turun dari mobilnya, "Kak El!" teriak para pencari dana bersamaan.
"Kalian sedang mencari dana apa?" tanya Elfa sambil ber-tos ria dengan mereka satu persatu.
"Bencana gunung meletus, Kak."
"Mereka banyak yang gagal panen, Kak El."
"Tempatnya sangat terpencil, sampai sekarang belum banyak bantuan yang datang."
Masih banyak lagi yang memberikan laporan dan bercerita dengan akrab pada Elfa. Seolah mereka keluarga besar yang saling mengenal satu sama lain. Tidak menunjukkan adanya perbedaan kaya dan miskin.
Melihat penampilan Elfa yang terlihat modis dan elegan, tetapi sangat ramah kepada semua anggota pencari dana. Bercerita dan bercanda dengan akrab. Senyumnya yang terlihat tulus, sangat ramah dan bersahaja.
Pemuda itu langsung berteriak, "Hu hu ... sepuluh juta, Guys!"
"Terima kasih, Kak El." kata mereka bersahutan.
Mereka langsung bertepuk tangan dengan gemuruh. Mereka kembali melakukan tos dengan hati yang riang. Elfa langsung berpamitan dan masuk ke mobil mewah miliknya.
"Sudah ya, Kak El melanjutkan perjananan, Assalamualaikum!" Elfa melambaikan tangan meninggalkan taman kota.
"Walaikum salam hati-hati, Kak El!"
Asisten Dwi Saputra mengakhiri mengambil vedio, "Gadis seperti ini apakah pantas menerima balas dendam dari Anda, Tuan?" kata Asisten Dwi Saputra sambil mengirim vedio itu ke ponsel Juan Mahardika.
__ADS_1
Mobil Elfa berlawanan arah dengan mobil Asisten Dwi Saputra. Dengan cepat memutar mobil tidak jadi ke kafe tujuan pertama. Mengikuti arah dan tujuan Elfa dengan jarak yang tidak terlalu jauh.
Hampir satu jam Asisten Dwi Saputra mengikuti mobil Elfa dari belakang. Mobil itu menuju arah perbatasan Jakarta Timur menuju Bogor. Asisten Dwi Saputra menghentikan mobil setelah bisa menebak arah tujuan Elfa, kemungkinan Elfa akan menuju rumah sakit milik kakak kandung yang ada di Bogor.
Asisten Dwi Saputra langsung kembali menuju perusahaan tempatnya bekerja. Hampir dua jam dia sampai di perusahaan. Belum sempat melangkah ke pintu utama, sudah disambut oleh suara bariton Juan Mahardiika, "Dwi ...!" teriaknya.
"Ya siap, Tuan!" Antara kaget dan spontan, Asisten Dwi Saputra menjawab dengan ikut berteriak.
"Cepat ke sini!" perintah Juan Mahardika masuk lift khusus untuk para petinggi perusahaan.
Asisten Dwi Saputra langsung berlari secepat mungkin masuk lift. Belum sempat pintu lift tertutup, Juan Mahardika memberondong pertanyaan tentang Elfa. Mulai pertanya tentang posisi Elfa sekarang. Cara mendapatkan vedio, sampai bertanya identitas para pencari dana juga ditanyakan.
"Coba satu-satu tanyanya, Tuan. Saya jadi bingung."
"Kamu cerita dari awal saja cepatlah!"
"Baik lah."
Dengan sabar Asisten Dwi Saputra bercerita mulai dari tidak sengaja melihat Elfa. Mengambil vedio kegiatan yang ada di taman kota, mengikuti sampai perbatasan daerah Bogor. Sesekali Bercerita dengan diselipkan kebaikan yang dilakukan oleh gadis itu.
Asisten Dwi Saputra tidak berani memuji langsung pada kebaikan Elfa. Takut Juan Mahardika marah karena melihat sorot mata itu masih memancarkan kebencian. Hanya ingin menunjukkan kebaikan gadis itu secara perlahan.
Tidak lupa menceritakan juga kegiatan Elfa dari sejak SMA yang sering melakukan kerja sosial. Tidak banyak informasi yang didapat di media sosial tentang Elfa. Kemungkinan keluarga pengusaha Zulkarnain sengaja tidak banyak mengizinkan putri semata wayang terekspos media.
Yang diberitakan di media sosial hanya keturunan laki-laki terutama Alfian Alfarizi Zulkarnain. Kakak kandung Elfa adalah penerus perusahaan sedangkan adiknya lebih menyibukkan diri membantu sesama.
Juan Mahardika terdiam sesaat setelah Asisten Dwi Saputra selesai bercerita. Bertepatan lift terbuka dan mereka ke luar lift. Berjalan menuju kantor masing-masing yang hanya bersebelahan saja.
__ADS_1
Belum sempat membuka pintu kantor, Juan Mahardika berbalik badan ke arah asistennya, "Kamu yakin dia menuju ke Bogor?"