
Kris terkaget saat datang suara yang tidak asing di dengar di telinga. Henry Alexander datang sambil tersenyum dan memabawa box kotak berisi makanan. Tidak disangka tidak hanya Henry Alexander saja yang datang, ada wanita paruh baya yang berjalan sambil tersenyum.
"Selamat pagi, Nak," sapa Wanita berbandan gemuk dan berkulit putih.
"Selamat pagi, Mrs."
Kris ingin turun dari gazebo untuk menyambut wanita yang tidak dikenal. Namun, beliau bergegas mendekati dan memeluk Kris dengan erat, "Jangan panggil begitu, panggil saja Mama Cristine!"
"Apakah Anda Mama dari Henry?"
"Benar sekali, Nak. Mama sudah tahu cerita kamu dari Henry."
"Benarkah?"
Mama Cristine duduk di samping Kris sambil memandang putra tercinta. Mengusap perut Kris yang terlihat membuncit, "Jangan merasa sendiri, Nak. Ada banyak orang yang sangat menyayangi Kris."
"Terima kasih, Mama Cristine."
"Bagamana kalau Nak Kris ikut Mama ke Eropa?"
"Maksud Mama Cristine?"
"Henry sangat mencintai Kris, sampai sekarang pun tidak pernah berubah. Mama ingin mempunyai anak gadis yang baik seperti Kris. Seandainya suatu saat nanti Kris tidak berjodoh dengan Henry, Mama ingin sekali menganggap Kris seperti putri Mama sendiri."
"Mama baru pertama bertemu Kris, mengapa Mama bilang Kris ini baik."
"Mama sangat percaya Nyonya El, Mama juga banyak mendengar tentang Kris dari Henry dan cerita dari Nyonya El. Walau baru pertama bertemu, tetapi Mama sudah merasa klop dan cocok sama Kris."
Kris memandangi wajah Mama Cristine dan sorot matanya. Tatapan mata itu begitu teduh dan tulus. Tidak ada keraguan dalam hati terlihat di sorot mata beliau.
"Kris, aku tahu dari dulu kita terhalang keyakinan. Aku sangat menghormati itu, satu yang perlu Kris catat hati ini tidak pernah berubah sampai saat ini. Aku tidak akan memaksakan kehendak, walau Kris menganggap aku sahabat aku akan terima dengan lapang dada."
"Maaf, Henry Kris ingin sekali ...?" Kris seolah tercengang mendengar Henry sangat sabar menunggu sampai detik ini.
"Tidak perlu Kris jelaskan, Aku sudah faham. Kita hanya akan beteman saja sampai bayi Kris lahir."
__ADS_1
"Baiklah."
Setelah Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra berankat kerja. Elfa dan Rena menemui orang tua Henry Alxander yang sedang berbincang banyak hal tentang Kris. Secara khusus Mama Cristine meminta agar Kris ikut ke Eropa.
"Mama masih ada sekitar tiga hari tinggal di sini, jadi Nak Kris masih banyak waktu untuk mempertimbangkan."
Elfa yang awalnya tidak setuju dengan permintaan Henry ALexander dan Mama Cistine. Setelah melihat ketulusan orang tua dari Henry Alexander, Elfa mulai menyetujui. Namun, semua harus persetujuan Kris tanpa ada unsur pemaksaan dari pihak siapa pun.
Harus menunggu dan meminta izin kepada Juan Mahardika serta Asisten Dwi Saputra. Kedua suami itu pasti yang akan bisa mengatur jika Kris setuju. Apalagi di negara kelahiran Mama Cristine ada perusahaan milik keluarga Mahardika yang bisa untuk Kris bekerja nanti setelah Kris melahirkan.
"Baiklah, kami pamit. Semoga semua bahagia dan bisa mengambil keputusan dengan kepala dingin."
"Baik terima kasih, Mama. Kris akan mempertimbangkan terlebih dahulu."
Setelah Henry Alexander dan Mama Critine berpamitan pulang. Kris minta izin tidur masuk kamar yang ada di klinik. Rena yang menemani Kris sampai Kris bisa terlelap dan tidur dengan tenang.
Elfa di kamar menghubungi abang kandung meminta secara khusus untuk bisa menangani Dokter Yohan Carnett. Bukan tidak percaya dengan kemampuan sang suami. Elfa berharap jika dibantu oleh lebih banyak orang yang handal akan lebih cepat selesai persoalan itu.
Walau kemarin sudah mendengar dokter urologi itu sudah mendapatkan persetujuan untuk berobat ke Australia. Masih bisa dibatalkan jika ada bukti baru tentang hal yang memberatkan. Karena terjadi di Indonesia kemungkinan besar akan lebih mudah jika hukum diselesaikan di Indonesia juga.
Asisten Julio bertindak cepat dengan menghubungi pengadilan dan pihak yang berwenang termasuk pihak yang berwajib bagian khusus narkoba. Tanpa diduga hanya dalam dua jam, Asisten Julio mengetahui pihak Juan Mahardika sudah menyelesaikan semua.
Persetujuan untuk Dokter Yohan Carnett rehabilitasi di negara Australia dibatalkan. Dokter urologi itu sekarang berada dalam pengawasan pihak yang berwajib dan di rehabilitasi oleh rumah sakit yang diawasi langsung oleh pihak yang berwajib.
Sore harinya saat Juan Mahardika pulang, Elfa langsung memeluk suami dengan erat, "Terima kasih, Akak. Semua ternyata sesuai harapan El. Dokter durjana itu tidak kembali ke sini."
"Sama-sama, Sayang. Sebaiknya kita jangan cerita dengan Kris sekarang, biarkan dia tenang dulu."
"Iya terkadang bawaan ibu hamil terlalu sensi."
Juan Mahardka tergelak mengeratkan pelukannya, "Sama kayak El, terkadang istri Akak ini juga sensi."
"Maaf, terkadang El tidak bisa mengontrol emosi."
"Tidak apa-apa yang penting pusaka bumerang Akak selalu sejahterna. Di sensiin tidak masalah."
__ADS_1
"Mulai deh, sana mandi dulu Akak bau acem!"
"Kita mandi bareng yok!"
"Ogah, pasti Akak mintanya mandi plus-plus."
"Tahu aja sih."
"Asal Akak pijitin dulu pinggang El, rasanya pinggang El mau patah capek banget padahal tidak kerja apa-apa."
"Dengan senang hati ayo kita ke kamar mandi!"
Elfa mengangguk dan berjalan bergandengan tangan dengan Juan Mahardika. Mengusap perut buncitnya yang terlihat besar. Walau baru hamil kurang dari lima bulan tetapi sangat terlihat besar karena kembar.
Ada banyak perbedaan antara hamil kembar dengan hamil tunggal. Disamping ukuran perut yang berbeda, Elfa merasa lebih mudah lelah. Makan pun sekarang semakin bertambah porsinya karena bukan untuk diri sendiri tetapi untuk bertiga.
Berat badan selama satu bulan ini juga naik drastis. Pipi menjadi cabi dan terlihat lebih berisi. Apalagi dua gundukan ukurannya semakin membesar.
Ditambah kaki yang mulai membesar tanpa disadari. Sekarang ini Elfa penampillannya semakin besar. Hampir semua baju tidak ada yang cukup untuk dipakai.
Elfa di dalam buth-up tanpa mengenakan sehelai benang pun berendam dalam sabun beraroma terapi. Hanya terlihat kepala saja bersandar di ujung buth-up. Juan Mahardika mulai memberikan terapi mulai dari ujung kaki.
"Jangan terlalu banyak jalan, Sayang. Ini mengapa sudah mulai membesar, Akak pernah baca umumnya jika sudah mendekati melahirkan baru membesar?"
"Mungkin karena twins baby, Akak. Jadi lebih cepat."
Juan Mahardika membulatkan mulutnya saja sambil berpindah menyusuri dari bawah ke atas. Terapi dilakukan sangat teliti dan sesekali berbelok ke tempat favorit, "Jangan belok dulu, Akak. nanti setelah selasai baru boleh!"
"Akak gemas, dari tempat Favorit Akak semua menggemaskan dan bertambah ukuran, Akak sangat menyukainya."
"Apa maksud, Akak. El sekarang jadi gemuk begitu?"
BERSAMBUNG
Jangan lupa mampir ke novel teman yang rekomen banget ini yuk
__ADS_1