Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 211. Bulu Ayam


__ADS_3

Ponsel Henry Alexander tiba-tiba mati setelah Juan Mahardika memperingatkan untuk berhati-hati tentang mantan suami Kris. Berkali-kalii dihubungi ulang tidak ada sinyal. Mencoba mengirim pesan WA juga tidak tersampaikan.


"Ada apa ini, apa Henry sengaja mematikan ponselnya?" tanya Juan Mahardika dengan perasaan kesal.


"Mungkin baterainya habis, Akak."


"Kok seperti sengaja dimatikan ya?"


"Jangan su'uzon tidak baik, Akak."


Setengah jam kemudian, Henry Alexander menghubungi jika daya baterai habis. Tidak membawa charger dan ketinggalan di kamar yang ada dilingkkungan masjid Istiqlal. Terpaksa meminjam charger milik perawat yang sedang bertugas.


Tiga hari berlalu, bersamaan Juan Mahardika dan keluarga pulang. Henry Alexander juga ke luar dari rumah sakit. Laki-laki mualaf itu langsung berkunjung ke rumah Juan Mahardika dan ingin bertemu dengan si kembar.


Hanry Alexander membawa buah tangan khusus untuk twins baby yaitu kain sutera Como. Warna pink untuk baby Za dan warna biru untuk baby Zi. Kain sutera Como adalah salah satu kain yang terbaik dengan harga selangit dan sangat halus serta hangat jika dikenakan.

__ADS_1


"Bagaimana rasanya di khitan, Henry?" tanya Juan Mahardika setelah Henry Alexander memberikan oleh-oleh kepada Elfa.


"Sebenarnya tidak terlalu sakit saat dikhitan, hanya perih dan sakit sekali ketika menegang. Henry harus berusaha menidurkan kembali agar tidak sakit berkepanjangan."


Elfa hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, teringat dulu saat Alafshar khitan di Ngawi. Saat itu Teteh Rania harus memberikan terapi dengan menggelitik telapak kaki Alashraf agar tidak menegang lagi. Bude Marmi memberikan satu bulu ayam untuk di putar di sekitar telinga agar merasa geli dan otomatis senjata akan tertidur kembali.


Elfa berbisik cara ampuh mengatasi sakit saat menegang kepada Juan Mahardika. Kemudian Elfa langsung berpamitan untuk ke kamar twins baby. Tidak ingin mendengar suami berbincang tentang senjata yang baru saja di khitan.


"Henry mau tahu bagaimana cara mengatasi agar tidak sakit saat menegang?"


"Tunggu di sini dulu, aku ambilkan!"


Juan Mahardika teringat ada kemoceng yang menggantung di dekat lemari dapur. Kemoceng dari bulu ayam yang biasa digunakan oleh bibi untuk membersihkan debu sekitar peralatan dapur. Juan Mahardika mencabut satu bulu ayam yang paling pangkal dekat gagang yang biasa untuk pegangan.


Baru saja akan duduk di depan Henry Alexander. Juan Mahardika melihat laki-laki keturunan Singapura Italia itu sedang meringis kesakitan. Tangannya menarik celana yang dikenakan sambil menundukkan kepala.

__ADS_1


Juan Mahardika tidak mengatakan cara pemakaian bulu ayam. Namun langsung dipraktekkan dengan cara diputar di tengah lubang telinga bagian luar. Walau awalnya terasa geli, Henry Alexander langsung melepas tangan yang dari tadi menarik celana.


"Waaah obat Anda ampuh sekali, terbuat dari apa itu, Tuan?" tanya Henry Alexander belum sempat melihat bulu ayam yang dipegangnya.


Saat Henry Alexander melihat satu bulu ayam yang dipegang oleh Juan Mahardika. Laki-laki mualaf itu langsung melompati sofa menjauh, "Astaga!" teriaknya.


"Ini hanya bulu ayam, Hendry."


"Jauhkan itu dari Henry, Tuan. Henry pobia sama ayam!" Henry Alexander sampai berlari mendekati puntu utama luar.


Juan Mahardika tergelak melihat tinggah lucu Hanry Alexander. Masih tetap memegang satu bulu ayam sambil diputarnya perlahan, "Kamu harus membawa pulang ini, Henry. Nanti kalau senjata kamu menegang hanya ini saja obatnya!"


BERSAMBUNG


__ADS_1


__ADS_2