Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 69. Akak Mau Banget


__ADS_3

"Kalian mau menggoda istriku?" suara bariton Juan Mahardika terdengar menyeramkan.


Elfa hanya tersenyum kecut sambil melihat dua pemuda yang salah tingkah. Tidak perlu menjawab dua pemuda yang mendekati. Sudah ada yang menjawab, hanya tinggal melihat saja tanpa harus mengeluarkan sepatah kata.


Dengan spontan dua pemuda itu berdiri dari kursi dan membungkukkan badan, "Maaf, Mas. aku kira mbak nya sendirian."


"Waah bojone bule."


"Sana pindah, tidak boleh ada yang menggoda istriku!"


Elfa melotot kearah Juan Mahardika karena kesal disebut sebagai istri. Namun, yang dipelototi justru tersenyum sambil menunjuk jari jempol dan telunjuk yang disilang simbol sarangheo. Mulut berucap cinta walau tanpa suara yang terucap.


Untung sudah memesan tongseng kambing pedas. Kembali ke rombong dan mengambil pesanan yang sudah ready, "Ayo dimakan, atau perlu Akak suapin?"


"Tidak, El mau makan sendiri."


"Atau dibalik?"


"Apanya yang dibalik?"


"El yang suapin Akak."


Elfa enggan menjawab perkataan Juan Mahardika. Lebih memilih menikmati tongseng kambing pedas yang terlihat menggugah selera. Tidak memperdulikan selalu dipandang dengan perasaan cinta yang membara.


"El mau tambah?"


"Tidak, tetapi El haus."


"Mau minum apa?"


"Es jeruk atau air putih es juga boleh."


"Tunggu sebentar!"


"Habiskan dulu makan Akak, nanti kalau dingin tidak enak."


"Alhamdulillah, pengertian banget sih, garwoku."


Bibir Elfa langsung monyong lima centimeter dan cemberut. Sambil tersenyum Juan Mahardika kembali menikmati nasi tongseng kambing pedas dengan lahap. Tidak pernah merasakan makan senikmat ini karena menganggap sang kekasih hati ada di sampingnya.


Pedagang minuman tidak seantri Pedagang makanan. Tidak sampai lima menit es jeruk dan air mineral dingin sudah berada dihadapan Elfa. Hanya satu gelas yang diletakkan di meja dan satu lagi es jeruk langsung disodorkan dekat mulut Elfa, "Ayo minumlah!"


Elfa langsung meneguk tanpa memegang gelas. Terus dipandang oleh pemegang gelas sambil tersenyum. Rasa cinta semakin tumbuh dengan seiringnya waktu.


Juan Mahardika yang jarang makan makanan pedas, dari tadi sudah menahan rasa pedas. Setelah Elfa meneguk setengah gelas es jeruk tanpa ragu meminum setengahnya dengan cepat. Langsung tandas tanpa sisa, itupun tidak mengurangi rasa pedas yang ditahan.

__ADS_1


Elfa kaget melihat Juan Mahardika meneguk es jeruk sisa yang tadi diminum, "Akak JM!" teriaknya


"Ada apa, Garwoku?" tanya Juan Mahardika sambil tersenyum.


"Mengapa diminum es jeruk sisa El?"


"Memangnya kenapa, semenjak El memanggil Akak apalagi baru saja tadi memanggil dengan Akak JM, Akak sudah menganggap kita sudah resmi pasangan. Wajarlah kalau minum satu gelas berdua."


"Iiiih resmi, kata siapa?"


"Kata Akak JM dong."


"Sudah ... Akak semakin ngawur saja. Ayo pulang!"


"Baiklah."


Keesokan harinya setelah sarapan, Juan Mahardika ikut Pakde Sarto melihat masyarakat petani yang sedang panen raya. Kebersamaan saat panen sangat terlihat di desa. Mereka bergotong royong panen padi secara bergantian.


Sedangkan Elfa seperti biasa duduk di batu besar pinggir sungai sambil bermain air. Menemani Bude Marmi dan tetangga sedang mencuci baju. Ada juga anak-anak yang mandi sambil bermain dengan riang.


Terkadang Elfa tidak mendengar pertanyaan dari Bude Marmi dan tetangga. Elfa duduk sambil termenung teringat sudah satu hari ini bersama Juan Mhardika. Perasaan seperti nano-nano ada rasa kesal, sedih, benci dan bahagia menjadi satu.


Perubahan sikap yang hampir seratus delapan puluh derajat dari sikap yang dulu. Tanpa terasa menumbuhkan hati semakin terpaut. Usaha yang dilakukan dengan kekuatan cinta seolah mulai mengikis dinding kebencian yang terpatri dalam hati.


Teringat pesan Mami Mitha untuk jujur dengan perasaan yang ada dalam hati yang paling dalam. Namun baru bersama satu hari saja sudah mulai terpaut. Apa jadinya jika bersama selama sebulan di sini karena kemarin berniat lama tinggal di Ngawi.


Satu persatu tetangga selesai mencuci baju dan pulang. Anak-anak juga ikut pulang bersama ibunya. Hanya tinggal Bude Marmi yang belum selesai mencuci baju.


"El, kapan kamu akan menikah dengan Mas Londo?"


"Masih lama, Bude."


"Ojo suwe-suwe, Nak."


"El belum siap, Bude."


"Opo to sing dipikir?"


Elfa terdiam dan termenung kembali mendengar pertanyaan Bude Marmi. Yang dipikirkan hanya keraguan yang masih ada dalam hati. Belum ada kepercayaan dan belum ada yang bisa meyakinkan hati untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.


Akan menerima cinta itu saja sampai sekarang masih ragu-ragu. Ada banyak faktor yang membuat perasaan masih bimbang. Masa lalu yang kelam dan sakit hati yang masih tertoreh adalah salah satu yang masih mengganjal di hati.


"Apakah menurut Bude Mas Londo cocok untuk El, Bude?"


"Cocok banget, Kata orang jawa, jika jodoh itu wajahnya mirip."

__ADS_1


"El tidak ada miripnya sama sekali sama dia, Bude?"


"Coba El perhatikan kalau sedang berdua. bentuk wajah El sama Mas Londo itu sama-sama panjang, tidak seperti Bude ini wajahnya bulat."


Elfa langsung membuka ponsel membuka kamera melihat wajahnya sendiri, "Perasaan wajah El tidak lonjong banget, Bude."


"Ya sama seperti Mas Londo, dagunya juga sama dia sama El. Bisa dipastikan kalian itu berjodoh."


"Aamiin, terima kasih Bude doanya." Suara bariton Juan Mahardika datang langsung duduk di batu samping Elfa.


"Akak mendengar pembicaraan kami?"


Juan Mahardika mengangguk dan tersenyum sambil mendekat telinga Elfa, "Akak mau banget!"


"Mau apa?"


"Itu yang dibilang Bude Marmi."


"Idih, emang semudah itu?"


"Apa yang harus Akak lakukan agar bisa mudah?"


"Tidak tahu, pikir saja sendiri."


Bude Marmi selesai mencuci baju, kali ini Bude Marmi tidak mandi seperti biasanya, "El, Bude pulang duluan ya!"


"Eee, El ikut, Bude."


"Akak ikut juga."


Hampir lima hari Juan Mahardika tinggal di Ngawi. Setiap pagi selalu ikut Pakde Sarto melihat petani panen, siang dan sore hari dihabiskan merayu dan mengikuti Elfa. Malamnya belajar tentang agama bersama Pakde Sarto.


Sedikit demi sedikit Juan Mahardika bisa menyesuaikan makan dengan menu masakan Indonesia. Terutama yang bercita rasa pedas seperti selera Elfa. Tidak pernah memilih makanan seperti biasanya saat dimasakkan koki keluarga.


Hanya sayangnya, mulut dan perut tidak bisa diajak kompromi. Mulutnya makan apa saja yaang disediakan keluarga Pakde Sarto. Namun, karena tidak tahan pedas sore ini Juan Mahardika merasakan perutnya sakit dan melilit.


Baru dua jam saja, Juan Mahardika sudah bolak-balik ke kamar mandi selama tujuh kali. Badan rasanya lemas dan tidak bertenaga. Hanya bisa berbaring ditempat tidur sambil memegangi perutnya.


Karena azan magrib belum kunjung keluar kamar untuk menunaikan kewajiban. Elfa mengetuk pintu kamar tamu yang ditempati Juan Mahardika, "Akak, sudah magrib ayo keluar?"


"El, perut Akak sakit," jawabnya dari dalam dengan lemah.


Elfa langsung mendorong pintu dan melihat Juan Mahardika terbaring lemah sambil memegangi perutnya, "Akak Kenapa?"


"Akak diare, lemas banget badan Akak."

__ADS_1


__ADS_2