
Elfa sedang berada di ruang VVIP ruang rumah sakit Aljuzeka. Seluruh keluarga inti sedang duduk mengelilingi tempat tidur. Mendengarkan penjelasan Elfa tentang dua laki-laki yang dikabarkan berkelahi merebutkan satu gadis.
Elfa bercerita berterus-terang tentang Dokter Yohan Charnett. Mulai dari saat bekerja di rumah sakit yang ada di Australia. Sampai dokter urologi itu menyusul ke tempat bencana sebagai relawan.
Hanya sayangnya Elfa tidak berani bercerita tentang Juan Mahardika, hanya bercerita mengenal dia saat sedang di villa dulu. Berterus terang jika sebenarnya kemarin tidak dirawat di rumah sakit kota. Melainkan dirawat oleh pengusaha itu di pulau pribadi yang tidak tahu tempatnya.
Elfa yakin dengan mudah Asisten Julio akan mengetahui saat kemarin dirawat oleh Juan Mahardika. Sehingga lebih baik mengaku sekarang daripada akan lebih disalahkan nantinya.
"Apakah El cinta dengan Juan Mahardika?" tanya Alfian Alfarizi.
"Tidak, Bang. El tidak terlalu kenal dia, El juga jarang bertemu."
"Mengapa kemarin bisa dua laki-laki itu berantem merebutkan El?" tanpa Papi Alfarizi Zulkarnain.
"El tidak tahu, Pi."
Mami Mitha menatap tajam Elfa yang terlihat sedikit gelisah. Ada sesuatu yang disembunyikan di hati putri kesayangan. Tidak mungkin memaksakan untuk bertanya dihadapan keluarga.
"Mami, El capek di tanya terus. El salah apa sih?" tanya Elfa dengan suara manja.
"El istirahat saja, Abang mau keluar sebentar!"
Alfian Alfarizi keluar kamar Elfa dengan langkah panjang. Asisten Julio mengikuti dari belakang hampir berlari. Wajah abang kandung Elfa itu terlihat marah dan kesal.
"Julio ...!" teriak Alfian Alfarizi.
"Ya siap, Tuan."
"Seret satu persatu laki-laki itu ke sini!"
"Anda yakin akan menyeret pengusaha sekelas Tuan Juan Mahardika, Tuan?" tanya Asisten Julio.
"Yakin, aku tidak perduli, dia berani membawa El selama empat hari ke pulau pribadi tanda seizin keluarga!"
Dari kejauhan berjalan serombongan orang mendatangi Alfian Alfarizi. Orang yang baru dibicarakan secara kebetulan datang memasang badan. Setelah menemui tunangan dan memutuskannya. Juan Mahardika langsung terbang ke Indonesia dan menuju rumah sakit Aljuzeka.
Tidak menyangka masuk ingin mencari Efla. Mendengar abang kandung dari gadis yang dicintai terlihat sangat marah. Jika didengarkan perkataannya, kemungkinan Elfa sudah bercerita semua yang terjadi kemarin saat Elfa sakit.
"Tidak perlu mencari lagi, aku sudah datang, Bang." Juan Mahardika datang dengan tersenyum sekilas.
"Berani sekali lo masuk kandang macan!" teriak Alfian Alfarizi.
__ADS_1
Alfian tanpa basa-basi mendekat dan memukul dengan bogem mentah ke wajah Juan Mahardika. Baru sekali kepalan tangan Alfian mendarat di pipi dan bibir Juan Mahardika. Darah segar sudah mengalir di sudut bibinya.
Asisten Julio berlari mendekat ingin melerai. Asisten Dwi Saputra dan empat pengawal juga mendekat ingin melindungi tuannya. Ada juga orang yang melihat kaget dan berlari menjauh.
"Kalian mundur, jangan ikut campur!" teriak Juan Mahardika sambil mengusap bibirnya yang berdarah.
"Ini rumah sakit, Tuan. Nanti akan mengganggu pasien!" teriak Asisten Julio.
"Aku tidak perduli, ini untuk laki-laki yang tidak gantleman membawa keturunan Zulkarnain tanpa izin!"
Kembali Afian Akfarizi menghajar Juan Mahardika menggunakan kepalan tangan. Juan Mahardika tidak sekalipun membalas semua yang dilakukan Alfian Alfarizi. Wajah mulai merah, perih dan darah bibir terus mengalir.
"Tuan ...!" teriak Assten Dwi Saputra melihat Juan Mahardika terhuyung ke belakang.
"Kamu mundur, Dwi. Jangan ikut campur!"
"Tetapi Anda ...?"
"Aku rela babak belur, Dwi. Yang terpenting aku bisa menemui gadis yang aku cintai."
"Apa kata kamu, tidak begitu cara mencintai seorang gadis, brengsek!" Kembali Alfian Alfarizi menghajar Juan Mahardika dengan membabi-buta.
"Kamu kira kami tidak mampu?"
"Aku sangat mencintai adik Anda, Bang."
Dengan terus menghajar Juan Mahardika, Alfian melampiaskan kekesalan sambil mengingat cerita Asisten Julio. Laki-laki perayu ulung dengan bergaonta-ganti pacar. Sering menikahi sirri gadis di sekitar villa.
"Laki-laki seperti kamu tidak pantas untuk El."
Tangan Alfian Alfarizi hampir kram dan kelelahan. Namun, Juan Mahardika tetap masih bisa bertahan. Tanpa izin Asisten Julio memanggil Papi Alfarizi untuk meredam emosi Alfian.
"Bang, cukup!" teriak Papi Alfarizi berlari mendekat.
"Tuan Al!" teriak Juan Mahardika.
"Julio antar Abang Al ke kantor!" perintah Papi Alfarizi.
"Siap, Tuan."
Juan Mahardika masih tertegun sambil melihat Alfian Alfarizi berjalan meninggalkan tempat. Mengingat semua perkataan abang dari gadis yng dicintai. Kemungkinan Elfa hanya bercerita tentang saat sakit, tetapi kemungkinan soal masa lalu.
__ADS_1
"Tuan Juan maafkan Alfian, mari ikut saya ke UGD!"
"Tidak perlu, Tuan. Saya ingin bicara pribadi dengan Anda."
"Baiklah, mari ke kantor."
Jantung Juan Mahardika berdegup kencang saat berjalan beriringan dengan ayah kandung Elfa. Dulu saat sedang kerja sama secara resmi tidak merasa nerveus. Sekarang ini akan menghadapi orang yang sangat penting dalam hidup.
Masih berharap kesalahan peristiwa masa lalu tetap menjadi rahasia. Baru saja membawa ke pulau pribadi selama empat hari saja, sudah mendapatkan bogem mentah. Apalagi mengetahui kesalahan besar yang dilakukan dulu.
"Silahkan duduk, Tuan Juan!"
"Terima kasih."
"Katakan apa yang ingin dibicarakan."
"Maaf tentang perawatan putri Anda kemarin, terus-terang saya sangat mencintai putri Anda, saya hanya ingin melakukan yang terbaik untuk dia. Dan tidak bermaksud yang lain."
Papi Alfarizi memandang wajah Juan Mahardika dengan lekat. Walaupun wajahnya babak belur dan lebam. Namun, sorot matanya terlihat tulus dan serius.
Teringat cerita Asisten Julio tentang masa lalu Juan Mahardika. Papi Alfarizi teringat masa lalu saat pertama kali menikahi sirri Mami Mitha. Setiap orang memiliki masa lalu yang berbeda, intinya berubah setelah menemukan cinta sejati.
"Mengapa Tuan Juan tidak mengabari kami saat itu?"
"Karena saya masih berjuang untuk mendapatkan cinta putri Anda."
"Terus-terang kami sekeluarga awalnya tidak setuju karena mengetahui latar belakang kehidupan Anda dan juga kami mendengar Anda sudah bertunangan."
Juan Mahardika menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan. Teringat tadi pagi terpaksa harus memberikan rekaman vedio yang diambil oleh Asisten Dwi Saputra kepada Mommy Vera. Untuk meyakinkan agar bisa memutuskan pertunangan dengan Sherly Crash.
Sherly Crash terus memohon untuk tidak dibatalkan pertunangan. Mengikuti Juan Mahardika pulang ke rumah dan meninggalkan Brian Prayoga sendirian. Walau dengan berat hati, akhirnya Mommy Vera menyetujui jika pertunangan itu batal.
"Saya sudah tidak bertunangan lagi, Tuan. Saya dijodohkan oleh Mom kemarin dan sekarang sudah dibatalkan."
"Benarkah?"
"Saya tidak bohong, jika tidak percaya silahkan tanya Asisten Dwi Saputra."
Papi Alfarizi tersenyum dan menggelengkan kepala. Bukan masalah percaya atau tidak, tetapi tentang komitmen dengan seseorang tidak bisa untuk main-main, "Saya percaya, tetapi masalahnya El baru saja kami tanya jika dia tidak menyukai Anda."
"Ha, betulkah?"
__ADS_1