
Kris hanya menjawab nyengir kuda saja pada Henry Alexander yang sangat serius. Laki-laki yang berbeda keyakinan itu memiliki pendirian yang teguh. Selalu menunjukkan keseriusan hati dalam setiap tindakan dan ucapannya.
Sudah dua kali bertemu dengan laki-laki yang salah. Yang pertama Jonny Evans dan yang kedua Dokter Yohan Carnett. Keduanya sangat berbeda dengan sikap dan tindakan Henry Alexander.
Prinsip dan keyakinan yang dulu dipegang teguh kini terasa goyah. Bukan hanya keyakinan saja yang bisa menentukan seseorang berbuat bijak sesuai akidah keyakinan. Justru yang satu keyakinan, tetapi memiliki hati yang jauh dari ekspektasi.
Hanya satu yang masih belum bisa difahami yaitu cinta dan debaran hati terkadang tidak bisa diprediksi. Dari mengenal Henry Alexander saat kuliah dulu hati ingin dibuka. Sayangnya pikiran selalu menentang hanya karena berbeda keyakinan.
Apalagi sekarang semakin bertambah umur Henry Alexander semakin menunjukkan keseriusan. Tidak memperdulikan status saat ini masih terikat dengan orang lain. Masih tetap menunjukkan keseriusan hati, bahkan rela ingin mengasuh bayi yang bukan darah dagingnya sendiri.
"Kris pasti bisa merawat bayi ini dengan penuh kasih dan tanggung jawab."
"Syukurlah, semoga semua dilancarkan." Mama Cristine berdoa menengadahkan tangan.
"Aamiin."
Makan siang kali ini berakhir dengan kenangan manis. Terutama Kris yang mulai memahami jika di dunia ini tidak semua laki-laki hanya memanfaatkan saja. Ada Henry Alexander yang tidak memandang dari kelemahan, tetapi mengagumi karena ketulusan.
Mama Cristine dan Henry Alexander pun tidak mau bicara pribadi di depan sahabat. Mereka sangat menghormati perasaan dan tidak memaksakan hati. Karena sejatinya cinta tidak bisa dipaksa, akan tumbuh karena debaran hati.
"Mama izin mengajak jalan-jalan Nak Kris sebentar, Tuan Juan?"
"Ooo silakan saja."
"Jangan khawatir akan kami pulangkan dalam keadaan utuh," kata Henry Alexander sambil bercanda.
Kris mengikuti mobil Henry Alexander dan Mama Cristine. Asisten Dwi Saputra mendapatkan kabar dari bandara. Keluarga Kris tiba di bandara dan sekarang menuju rumah Juan Mahardika dan Elfa.
"Mereka sudah sampai, Tuan."
"Ayo kita pulang kalau begitu!"
__ADS_1
"Siapa yang sampai, Akak?"
Juan Mahardika bercerita tadi malam Ibu Prayuda menghubungi Asisten Dwi Saputra. Izin ingin bertemu dengan Kris dan berniat menyusul ke Australia. Bahkan ibu paruh baya itu rela akan menjual rumah atau digadaikan asal bisa bertemu dengan Kris.
Kebetulan pesawat pribadi berada di Bali mengantar Daddy Hans Mahardika yang sedang menghadiri pertemuan pengusaha. Juan Mahardika langsung memerintahkan untuk menjemput mereka ke Jakarta. Berangkat ke Australia bersama dengan Daddy Hans Mahardika selesai pertemuan.
Ibu Prayuda tidak jadi menggadaikan atau menjual rumah. Berangkat bersama kedua adik Kris tanpa biaya sepeser pun. Bahkan mereka tanpa susah mengurus paspor, semua anak buah Asisten Dwi Saputra yang mengerjakan.
"Ayo kita pulang, Akak. Jangan sampai mereka tiba di rumah kita masih di jalan!"
"Ayo!"
"Kris tidak tahu ibu dan dua adiknya ke sini, El?" tanya Rena.
"Tidak tahu sama sekali, El saja beru tahu juga."
Ibu Prayuda dan dua adik Kris sampai di rumah setelah Elfa dan rombingan sepuluh menit di rumah. Rena yang pertama kali berlari memeluk Ibu Prayuda dengan erat. Rena yang paling akrab dengan keluarga Kris saat masih di desa.
"Alhamdulillah, di mana Kris, Rey?" tanya Ibu Prayuda dengan khawatir.
"Nanti Rey ceritakan, kita temui tuan rumah dulu ya, Bu!"
"Baiklah, terima kasih. Untung Kris memiliki teman seperti Non El yang sangat baik."
Keluarga Kris menemui Juan Mahardika dan Elfa serta Aisten Dwi Saputra. Bercerita tentang semua yang terjadi di sini. Termasuk Mama Cristine dan Henry Alexander dan rencana mereka.
Mereka berbincang lebih dari dua jam sambil menunggu Kris datang. Elfa dengan sengaja melarang menghubungi Kris walau ibu dan adik Kris sangat merindukannya. Elfa hanya ingin membuat Kris nyaman dan merasa dihargai dan dihormati keputusan yang akan diambil nanti.
Elfa hanya berpesan kepada ibu dan dua adik Kris agar menghormati keputusan yang akan diambil nanti. Mendukung apapun keputusan itu yang terpenting dalam jalur dan tujuan yang benar. Agar Kris merasa masih ada keluarga yang mendukung dan menyayangi dengan tulus.
Baru saja Ibu Prayuda dan dua adik Kris istirahat dan masuk kamar tamu. Kris datang sendirian masuk rumah. Henry Alexander mengantar Kris hanya sampai halaman rumah saja.
__ADS_1
Elfa dan Rena ingin menceritakan tentang kedatangan keluarga, tetapi Kris langsung mengajak berbincang serius, "El ... Rey, Kris ingin membicarakan hal serius!"
"Kami juga ingin mengabarkan ...?" Elfa belum sempat melanjutkan ucapannya langsung dipotong oleh Kris lagi, "Nanti saja El cerita!"
"Ok, ayo duduk!" perintah Elfa.
"Kita bicara di gazebo belakang saja," ajak Kris lagi.
"Baiklah,"
Elfa dan Rena mendengarkan cerita Kris tentang kebersamaan dengan Henry Alexander dan Mama Cristine. Ibu dan putranya itu sangat tulus ingin membantu Kris, Bukan semata karena sangat mencintai saja, tetapi demi masa depan Kris dan buah hati.
Mama Cristine membarikan pemahaman cara menghadapi hidup dari sisi lain yang dijalani Kris saat ini. Mereka mengatakan hidup akan terus berjalan walau tidak ada keadilan. Masa lalu akan selalu penjadi pelajaran dan pengalaman untuk tidak terjerumus untuk kesekian kalinya.
Cinta tidak harus memiliki, cinta tidak harus rela berkorban jika yang di cintai hanya memanfaatkan kelemahan kita. Yang paling tepat adalah cinta tanpa harus meminta, tetapi cinta hanya akan memberi dan tidak mengharap dicintai, Jika sudah melewati tahap cinta seperti itu barulah mencinta yang sempurna.
Kris bercerita jika Henry Alexander tidak menuntut sama sekali cintanya. Laki-laki keturunan Melayu Eropa itu ingin melihat Kris bahagia. Dengan siapa pun bersanding tidak pernah merasa keberatan.
Mama Cristine menambahkan jika cinta tidak bisa dipaksakan. Cinta adalah debaran hati yang datang juga dari hati. Jika cinta hanya alasan untuk menyakiti bukan orang yang dicinta saja yang hancur, tetapi diri sendiri juga akan hancur bersama.
Dari sikap Henry Alexander dan Mama Cristine, Kris mulai mengerti cara mencintai sahabat kuliahnya dulu itu tanpa batas. Sekarang ini mulai memahami arti cinta dan tidak terlalu membawa perasaan untuk menentukan masa depan. Merasa beruntung bisa bertemu dengan keluaga baik dan tulus.
"Kris sangat beruntung bertemu mereka, semoga Kris bisa membuka hati suatu saat nanti," kata Rena dengan penuh keyakinan.
"Iya El juga setuju, ingat pepatah mengatakan lebih baik kita dicintai daripada kita mencintai."
"Rey setuju, jika cinta itu masih menuntut lebih akan cenderung terobsesi namanya bukan mencintai."
"Iya, Kris juga setuju sekarang."
"Apa keputusan Kris sekarang?" tanya Elfa.
__ADS_1