Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 183. Kelapa Muda Bakar


__ADS_3

"Tidak mungkin Tetehmu akan hamil, jalannya dibuntu dengan spiral," jawab Alfian Alfarizi dengan kesal.


"Abang ingin punya bayi lagi?" tanya Juan Mahardika penasaran.


"Abang sebenarnya ingin punya keturunan sebelas."


"Memangnya kelinci tinggal brojol, capek tahu hamil dan melahirkan," gerutu Rania pada suaminya.


Juan Mahardika hanya nyengir kuda mendengar kakak ipar dari istri tercinta. Membayangkan punya anak banyak mungkin menyenangkan. Namun, saat teringat Elfa selalu terlihat kelelahan rasa tidak tega itu muncul di dada.


"Ya sudah, semua menginap di sini saja, besok akan Juan antar ke tempat Abah pedagang rujak bebeg."


"Iya El nanti juga ikut, Papi dan Mami istirahat saja kalau capek!"


Keesokan harinya kebetulan hari minggu dan hari libur. Sambil berolah raga pagi di taman, keluarga Papi Alfarizi datang lebih pagi. Menghirup udara segar dipagi hari sambil mencari kuliner untuk sarapan pagi.


Ada banyak menu sarapan pagi yang dijajakan setiap hari Minggu di taman kota. Mulai dari bubur ayam jakarta, nasi uduk, lontong sayur berjajar rapi di pinggir taman kota. Ada juga jajanan khas Jakarta yang legendaris yang di jual di sana.


Ada jajanan yang jarang ditemui di Jakarta yang dijual di sini. Seperti kue rangi, kue cincin dan asisan Betawi juga ada yang berjajar rapi. Tinggal memilih yang di suka dengan harga terjangkau.


Elfa yang sangat antusias mencicipi jajanan yang jarang ditemui. Dulu waktu kecil sering jajan di sekolah dan sekarang dapat ditemui di taman kota yang dikunjungi.


Dengan antusias, Juan Mahardika membelikan semua yang diinginkan Elfa. Walau terkadang Elfa hanya memesan, tetapi tidak dimakan setelah mencicipi sedikit. Terpaksa Juan Mahardika yang harus menghabiskan yang dipesan Elfa.


"Mau beli apa lagi, Sayang?"


"Perut Akak masih muat?"


"Akak sudah kenyang banget, tetapi kalau rujak bebeg mungkin masih bisa masuk."


Seluruh keluarga duduk di gazebo yang berada di ujung taman. Sambil menunggu Abah penjual rujak bebeg datang menikmati asrinya taman dan lalu-lalang orang yang sedang berolah raga. Diselingi canda tawa sambil bercerita tentang Kris yang ada di Eropa.

__ADS_1


Saat Abah rujak bebeg datang, keluarga tidak menyadai karena asyik berbincang dan bercanda. Sampai Abah rujak itu siap berjualan dan dagangan sudah dipersiapkan.


Yang pertama melihat Abah pedagang rujak bebeg adalah Rania. Wajahnya tiba-tiba pucat pasi saat melihat Abah pedagang rujak itu sedang meracik rujak sambil bercanda dengan pembeli. Suara itu, tawa dan guestur tubuhnya sangat mirip seperti Almarhum Abah Asep.


"Abang, lihat!" Rania menunjuk arah rombong kecil dengan dipenuhi buah yang ada di dalam box kaca.


"Ya Allah ya Rob, apakah Abah hidup lagi?" tanya Alfian Alfarizi.


Yang paling kaget adalah Mami Mitha. Mata terlihat berkaca-kaca seolah sedang melihat dan mengawasi Abah Asep secara sembunyi-sembunyi seperti dulu. Saat Almarhum Abah Asep tidak mau bertemu dengan putri dan cucu tercinta ketika itu karena merasa bersalah.


"Lo si Abah sudah datang, mengapa kita tidak menyadari, Sayang?"


"El juga tidak melihat Abah datang, Ayo kita ke sana!"


Juan Mahardika menggandeng Elfa mendekati Abah pedagang rujak bebeg. Elfa langsung meraih punggung tangan dan mencium punggung tangan si Abah. Diikuti oleh Rania sambil berlinang air mata.


"Abah, apa kabar?" kata Elfa.


"Neng cantik, Alhamdulillah Abah sehat."


Rania dan Mami Mitha ikut meraih dan mencium punggung tangan si Abah, "Semoga kalian semua mendapatkan ridho dari yang maha kuasa."


"Aamin."


Dengan linangan air mata Rania bercerita sekilas tentang pertemuan pertama dengan Almarhum Abah Asep. Terkadang Mami Mitha juga menambah cerita tentang ayah kandung yang dulu pernah menikahkan sirri saat SMK.


Walau tidak ada hubungan darah dengan Almarhum Abah Asep. Abah pedagang rujak bebeg itu mendengar cerita dengan seksama. Berdoa untuk Almarhum dan berdoa untuk kesehatan dan rezeki yang melimpah untuk keluarga Alfarizi.


Dengan spontan satu rombong rujak bebeg langsung di borong oleh Papi Alfarizi. Dibagikan kepada pelanggan yang datang tanpa harus membayar. Terutama kepada ibu hamil seperti putri tercinta.


Walau tidak ada hubungannya sama sekali dengan Almarhum Abah Asep. Pedagang buah itu sangat tersanjung dianggap keluarga orang terpandang. Merasa dihargai yang notabene hanya seorang pedagang kecil, tetapi dihargai dan dihormati.

__ADS_1


Dari taman kota, keluarga laangsung pulang ke Bekasi kecuali Pakde Sarto dan Bude Marmi. Besok akan pulang ke Ngawi bersama Elfa dan Juan Mahardika. Sedangkan yang lain akan menyusul nanti di hari H.


Kali ini bukan naik helikopter ke Ngawi, tetapi menggunakan pesawat pribadi milik Mami Mitha. Hanya sampai di bandara Adi Sumarmo Solo pesawat mendarat. Setelah itu menggunakan jalan darat yaitu mobil melewati jalan tol.


Tim Dokter tidak mengizinkan Elfa untuk naik helikopkter ke Ngawi. Disamping sangat beresiko untuk kehamilan dan kesehatan Elfa. Juga karena cuaca tidak mendukung karena sedang musim hujan.


Jarak jalan darat Solo Ngawi hanya ditempuh kurang dari satu jam saja. Keluar dari jalan tol sudah tinggal kurang dari sepuluh kilometer saja sudah sampai rumah. Tetapi Elfa meminta berhenti saat melihat pedagang unik dipinggir jalan.


Ada pedagang kelapa muda bakar yang terlihat ramai didatangi pembeli. Ada asap pembakaran yang terlihat membumbung tinggi yang menjadi perhatian Elfa. Bau khas serabut kelapa yang dibakar juga sangat khas yang menjadi daya tarik pembeli datang.


Setelah selesai di bakar diatas bara arang dan menjadi hitam serabut kelapa langsung di kupas. Dibuka sedikit bagian atas batok kelapa dan diberikan sedotan. Ada bau harum yang berbeda setelah disajikan langsung setelah siap dinikmati.


Minum kelapa muda yang baru selesai dibakar, yang pertama di rasakan adalah air kelapanya terasa hangat masuk perut. Rasa manis khas air kelapa sangat berbeda seperti biasanya. Ada sensasi seperti gosong dari bau serabut kelapa semakin menambah rasa semakin beda.


"Waaah rasanya hangat banget, bagaimana dengan kelapa mudanya ya?" tanya Elfa.


"Minta dibelahkan sama pedagangnya setelah isi airnya habis, Nak." Pakde Sarto yang mengetahui cara menikmati kelapa muda bakar.


"Kalau masih ada airnya bagaimana, Pakde?" tanya Elfa.


"Bisa dituang di gelas."


"Rasanya beda tidak?" tanya Juan Mahardika.


"Mungkin hangatnya jadi berkurang."


"Sayang banget, habiskan dulu saja deh baru dibelah," jawab Juan Mahardika langsung menyedot air kelapa sampai habis.


"Cepat Akak minta dibelah, El mau kelapa mudanya seperti apa rasanya!"


"Iya, tunggu sebentar pedagangnya masih sibuk, Sayang."

__ADS_1


Elfa langsung cemberut dan bersedih membuat Juan Mahardika tidak tega, "Akak saja yang membelahnya, Akak pinjam parang dulu sebentar." Elfa langsung tersenyum senang.


Juan langsung membelah kepala setelah meminta izin meminjam parang pada pedagang, "Bagaimana cara membelahnya ini, waduh ...!"


__ADS_2