
Hari ketiga, Elfa baru bisa berwisata bersama suami. Yang pertama dikunjungi tentu saja menara yang sangat terkenal yaitu Menara Pisa yang sangat terkenal. Menara yang terkenal miring itu pada awalnya rancangan bangunan menara tegak lurus, seperti umumnya sebuah bangunan menara yang ada di dunia.
Kemiringan yang terjadi diakibatkan oleh ketidaksengajaan, terutama faktor tanahnya yang labil. Sehingga posisi menara yang tadinya tegak, menjadi miring sampai 5 meter. Keunikkan itulah ternyata yang menjadi daya tarik para wisatawan, bahkan Menara Pisa menyandang predikat sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.
"El belum pernah ke sini?" tanya Juan Mahardika saat baru sampai.
"Sudah dulu saat SMP, tetapi El tetap ingin berkunjung ke sini."
"Apakah ada memori yang tidak terlupakan di sini?"
"Di Menara Pisa ini terakhir El berwisata bersama Almarhumah Nenek Ani."
"Semoga, Almarhumah bahagia di sisi Alllah," doa Juan Mahardika.
"Aamiin."
Elfa mengabadikan momen dengan berfoto berdua di sekitar Menara Pisa. Berfoto yang dilakukan oleh Elfa dan Juan Mahardika di Menara Pisa adalah bergaya seolah-olah sedang mendorong menara. Gaya itu membuat foto menjadi lebih menarik, karena membuat seolah-olah sedang berusaha mengangkat atau mendorong Menara Pisa.
Sengaja Elfa enggan diajak pulang, sampai senja menjelang. Elfa masih menikmati indahnya berjalan berdua. Ada live musik yang bisa dinikmati setelah menjelang senja hari di beberapa restoran yang ada di sekitar Menara Pisa.
Yang El tunggu-tunggu pada senja ini akhirnya dimulai yaitu perayaan Luminara Festival. Ketika matahari terbenam tiba, di sepanjang Arno River akan dinyalakan sepuluh ribu lilin. Kesemua lilin tersebut akan menghasilkan pemandangan cahaya yang spektakuler di sekitar Ponte di Mezz. Kemudian festival akan diakhiri dengan menyalakan kembang api yang sangat besar.
Saat kembang api besar sedang menyala, ini momen yang sangat bagus mengambil foto. Dengan tangan menengadah dan kepala mendongak ke atas. Seolah Elfa sedang menggenggam kembang api besar.
Berkali-kali Juan Mahardika mengambil foto Elfa yang terlihat artistik, "Sayang, tangan di rentangkan sambil melihat atas, Akak ambil lagi fotonya!"
"Begini kah?" Elfa merentangkan tangan seperti yang di minta oleh suami.
"Iya tahan dulu!"
Sedang asyik dan menikmati indahnya festival. Ada seorang wanita yang berjalan sendirian mendekati Juan Mahardika dari belakang. Elfa yang awalnya ingin berpose untuk di foto langsung berlari bersamaan wanita itu memanggil nama sang suami.
"Darling, Kamu Bang Juan, 'kan?" tanya wanita itu sambil melihat dengan lekat wajah Juan Mahardia.
"Maaf, Anda siapa ya?" tanya Elfa berdiri di tengah antara Juan Maharika dengan wanita itu.
"Nama saya Magdalena, kamu siapa?"
__ADS_1
"Saya Elfa istri dari Kak Juan."
Wanita yang bernama Magdalena tergelak sambil menggelengkan kepala, "Magda tidak percaya Bang Juan menikah."
"Mengapa tidak percaya, coba lihat kami memakai cincin nikah!" Elfa menunjukkan jari manis diikuti juga oleh Juan Mahardika.
"Kami memang sudah menikah," jawab Juan Mahardika dengan tegas.
Kembali Magdalena tergelak seolah tidak percaya. Laki-laki yang dulu mampu berkencan lebih dari tiga wanita kini memiliki istri. Dulu pernah bilang tidak berniat menikah selama ada yang bisa di kencani.
"Apakah Bang Juan sudah tidak laku, bagaimana kalau kita berkencan lagi seperti dulu?"
"Jangan ngawur ya kalau bicara!" teriak Elfa.
"Hai Nona, Magda sangat tahu jika Bang Juan ini milik sejuta wanita."
"Itu masa lalu, Nona. Sekarang dia adalah suamiku dan tidak seorang pun yang bisa mengajak berkencan."
Juan Mahardika tersenyum mendengar Elfa yang berbicara dengan tegas. Dengan sengaja memeluk pinggang Elfa dengan posesif. Menunjukkan perkataan Elfa adalah benar adanya.
Magdalena maju beberapa langkah ingin mendekati Juan Mahardika. Langsung di hadang oleh Elfa dan ditahan dengan menggunakan tangan, "Kamu mau ke mana?"
"Kamu berani?" Elfa mendorong Magdalena sampai mundur beberapa langkah.
Magdalena membelalakkan mata sambil memandang Elfa dengan pandangan mata yang tajam. Melihat Juan Mahardika seolah meminta dukungan. Namun, Juan Mahardika tidak menghiraukan, tetapi lebih memilih memperhatikan Elfa yang mulai emosi.
"Sayang, El tidak apa-apa?"
"Akak diam dulu, El akan berurusan dengan wanita yang tidak tahu malu itu!"
"Tetapi ...?" Juan Mahardika tidak sempat melanjutkan ucapannya saat melihat Magdalena berjalan mendekat.
"Bang, Magda mau bicara berdua sebentar."
Sebelum Magdalena mendekati Juan Mahardika dan sejajar dengan Elfa. Dengan cepat tangan wanita yang menganggap suaminya milik sejuta wanita itu langsung ditarik tangannya. Tangan itu langsung di putar ke belekang badannya.
"Aauw, sakit. Bodoh. Bang tolong Magda!"
__ADS_1
"Ogah amat," jawab Juan Mahardika melihat ke sekeliling tempat merek berdiri.
Tidak seorang pun yang yang memperhatikan atau membantu Magdalena. Semua turis dan pengunjung sedang fokus melihat indahnya kembang api besar yang bertebaran di langit. Suara teriakan Magdalena bahkan tidak terdengar jelas karena bersahutan dengan orang yang kagum melihat kembang api besar.
"Sekarang dia sudah menikah, tidak seorang pun yang bisa memiliki dia kecuali istrinya saja, kamu mengerti?" Elfa semakin memutar tangan Magdalena.
"Auw, tangan Magda sakit!"
"Lebih sakit mana jika suami dilirik dan di kejar wanita mantan masa lalu?"
"Iya ... ampun, lepaskan tangan Magda!" teriak Magdalena sambil meringis kesakitan.
Elfa melepas tangan Magdalena sambil mendorong wanita itu menjauh. Memandang wanita itu dengan tatapan yang tajam seolah ingin menelan dia hidup-hidup. Emosi Elfa dari kemarin ditahan sekarang semua di tumpahkan kepada Magdalena.
"Sana pergi, jangan sekali-kali kamu menggoda dan menemui dia lagi!"
"Baik." Magdalena bergegas pergi sambil mengusap tangannya yang ngilu.
Juan Mahardika tersenyum mendengar Elfa yang marah dan emosi. Perkataan Elfa membuat hati sangat bahagia dan melayang. Baru kali ini Elfa menunjukkan rasa cinta dengan melabrak langsung wanita masa lalu.
"Sayang, ayo kita ...!" Juan Mahardika mengusap pundak Elfa bertujuann ingin meredakan emosi, tetapi belum sempat melanjutkan ucapannya, Elfa langsung memotong ucapan suaminya, "Ayo Apa!" teriaknya jutek.
"Eee ...!"
"El mau pulang!"
"Mengapa jutek banget, Akak salah apa?"
"Banyak."
Elfa berjalan dengan langkah panjang, menerobos para wisatawan yang masih terpaku melihat kembang api besar. Terkadang hampir menaberak orang yang tidak dikenal. Juan Mahardika berlari mengejar dari belakang sambil berkali-kali memanggil, "Sayang, jangan marah. Akak minta maaf!"
Tidak menyangka saat bertekad ingin mengatasi sendiri masalah sang mantan masa lalu ternyata sangat membuat emosi. Wanita yang masih menganggap suami masih seperti dulu membuatnya teringat keraguan itu terlintas kembali. Masih belum bisa menahan amarah saat menyaksikan langsung suami dikagumi oleh wanita lain.
"Garwoku, tunggu!" teriak Juan Mahardika dengan keras.
Seketika Elfa menghentikan langkahnya mendengar kata garwoku. Teringat saat berdiri di jembatan Kapel Locerne di negara Swiss. Saat itu selalu berucap syukur karena mendapatkan jodoh yang sangat mencintai.
__ADS_1
"Akak memang tidak bersalah, tetapi El masih kesal karena Magda tadi. Malam ini Akak di hukum dilarang beraksi!"
"Waduh ...!"