Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 101. MP


__ADS_3

Dengan anggukkan Elfa tanda setuju, Juan Mahardika tersenyum sambil kembali beraksi. Mulai beraksi main dan turun gundukan serta tidak lupa memutari gundukan dengan mesra.


Semakin intens beraksi semakin suasana hati menjadi bertambah terpaut. Sebisa mungkin Juan Mahardika menjaga suasana hati Elfa terjaga. Berusaha agar usahanya tidak gagal lagi kali ini.


Sampai Juan Mahardika beraksi di puncak gundukan yang terlihat nyata. Elfa semakin bisa menikmati dengan tenang semua aksi sang suami. Bahkan, terkadang dengan lirih mengeluarkan suara syahdu saat memanggil nama suami.


Sesekali Juan Mahardika memandang wajah Elfa yang masih bisa menikmati suasana syahdu. Tidak ada penolakan dan hanya bisa menikmati. Tidak ada rasa dingin di badan menambah semangat hati terus melanjutkan aksinya.


"Kita berpindah, Sayang?"


"Hhmm."


Juan Mahardika tetap memeluk pinggang Elfa saat mendekati tempat tidur yang penuh taburan bunga. Sambil membimbing Elfa berbaring dan tetap beraksi seperti awal lagi. Bibir, leher dan turun ke gundukan kembar.


Tanpa menghentikan semua aksinya, Juan Mahardika membuka sendiri buah kemeja lengan panjang yang dikenakan. Tidak lupa yang menempel pada tubuh bagian bawah juga satu per satu terlepas dan dilempar entah ke mana. Tidak lupa lingerie yang dikenakan Elfa yang awalnya hanyalah tersingkap kini mulai ditarik dan terbelah sampai bawah.


"Sayang, Akak izin sampai di sini, apakah bisa dilanjutkan?" tanya Juan Mahardika sambil mengusap lembut inti tubuh Elfa.


"Hhmm." Tatapan mata Elfa seolah sudah mendamba untuk dilanjutkan.


Belahan lingerie langsung kembali ditarik sampai terlepas dan menurunkan rangkaian benang yang menutupi inti tubuh Elfa. Dengan lembut tangan mengusap berkali-kali untuk berkenalan, "Ayo kenalan dong sayang?"


"Siapa?"


"Ini dong, milik Akak yang sekarang menjadi milik El saja," Juan Mahardika mengarahkan tangan Elfa ke pusaka bumerang yang sudah terbangun sempurna.


Dengan ragu-ragu Elfa mulai menyentuh mulai dari ujung saja. Sambil terpejam berani memindahkan tangan dari ujung menelusuri sampai mendekati pangkal pusat pusaka. Sensasi demi Sensasi yang dirasakan seolah mengalahkan ketakutan yang bersarang dalam hati.


"Sayang, terus ayo terus!"


"Akak," panggilnya lirih sambil mengeluarkan suara yang membuat Juan Mahardika semakin menggila.


"izin masuk ya, Sayang."


"Jangan sakit ya Akak!" Suara Elfa bergetar antara ada rasa takut yang terlintas, tetapi rasa semakin dalam.


"Tentu saja, Sayang."


Hanya perlahan saja Juan Mahardika mengarahkan pusaka bumerang masuk. Mata sambil memandang wajah Elfa yang terpejam menikmati rasa. Masih terasa sempit walau pernah dulu memasukinya.


Sampai pusaka bumerang masuk sempurna, sengaja berhenti sejenak. Seolah memperkenalkan diri kembali sarung pusaka yang sudah lama tidak ditempati. Memberikan rasa nyaman pemilik yang sebenarnya sebelum beraksi.

__ADS_1


"Sudah siap, Sayang?"


"Hhmm."


"terima kasih."


Sambil menggerakkan pusaka bumerang perlahan. Tangan dan bibir juga juga ikut beraksi ke tempat favorit. Akan menambah sensasi semakin meninggi.


"Sayang ...!"


"Akak JM."


Dari awal penggerakkan perlahan, semakin cepat dan lebih cepat lagi, Elfa terus menerus memanggil nama Juan Mahardika. Sakit yang ada dulu kini menjadi rasa yang indah tanpa disadari. Sensasi yang dirasakan kini seolah telah menghilangkan rasa sakit hati yang tersirat.


Rasa itu sekarang mengalahkan sakit yang tersirat di lubuk hati yang paling dalam. Sensasi yang didapatkan mengalahkan semua trauma yang dialami selama ini. Sampai keduanya dipuncak dan terbang di atas awan, rasa itu tertanam dalam benak hati.


Apalagi sensasi yang dirasakan oleh Juan Mahardika. Sudah lama tidak beraksi, terkadang hanya bisa merasa sendiri di kamarnya mandi. Kini rasa memuncak itu sanggup membuat terbang melayang setinggi awan.


Ke uncak nirwana dialami hampir bersamaan dicapai. Dengan tersenyum dan tumbang di samping Elfa tangan tidak bisa diam. Pipi, bibir dan dagu dielusnya dengan lembut.


"Terima kasih, Sayang. Love you so much." kecupan mesra mendarat di kening Elfa.


Selimut ditarik sampai dada Elfa, "Beristirahat dulu, Sayang. Akak akan menghubungi restoran."


"Untuk apa, Akak El tidak lapar?"


"El harus minum susu atau cokelat hangat, El tidak boleh capek."


"Baiklah."


Juan Mahardika duduk mengambil ponsel dan menghubungi bagian restoran. Ada chef khusus yang biasa stanbye jika pemilik hotel berada di hotel. Para chef memilih berjaga bergantian untuk bisa memberikan pelayanan terbaik untuk orang yang membayar gaji mereka.


"Susu hangat, coklat hangat dan buah dan antar sekarang!" perintah Juan Mahardika.


Kurang dari sepuluh menit pesanan yang diminta langsung di antar sampai depan pintu. Dulu saja tidak sembarang orang bisa masuk kamar. Apalagi sekarang, dua chef hanya mengantar satu meja troli sampai depan pintu.


Juan Mahardika sendiri yang mendorong troli meja mendekati Elfa, "Sayang, ayo bangun, minum susu hangat dulu!"


"Akak, El belum pakai baju, lingarie yang tadi sudah terbelah Akak tarik," kata Elfa dengan manja.


"Tidak perlu pakai saja, Akak lebih suka."

__ADS_1


"Ambilkan baju dulu baru minum susu!"


"Baiklah, duduk dulu!"


Elfa mengambil napas panjang sebelum duduk. Ada rasa perih pada inti tubuhnya seperti dulu saat keluar dari villa. Bedanya dulu tidak merasakan sensasi seperti yang dirasakan kini.


Elfa memakai baju lingerie yang diambilkan oleh Juan Mahardika. Menurunkan kaki dan masih duduk dipinggir tempat tidur sambil meringis.


"Apakah sakit banget?"


"Tidak, hanya perih saja."


"Mau Akak obati?"


"Jangan iiih, malu dong."


Sambil tersenyum Juan Mahardika mentowel dagu Elfa, "Akak sudah melihat dan merasakan itu, mengapa harus malu?"


"Masih malu, Akak."


Juan Mahardika mengambil satu gelas susu hangat, "Ini di minum dulu!" Elfa hanya membuka mulut dan menikmati susu hangat. Tangan Juan Mahardika yang memegang gelas.


Setelah setengah gelas diteguk, sisanya Juan Mahardika yan menghabiskan sisa susu hangatnya. Mengambil piring yang berisi beberapa buah yang sudah dipotong dadu. Menikmati buah dengan menggunakan garbu satu untuk berdua.


Yang terakhir dinikmati adalah cokelat hangat. Satu gelas juga dinikmati berdua, tetapi kali ini Juan Maharika yang terlebih dahulu menghabiskan setengah. Setelah itu Elfa yang menghabiskan sisa cokelat hangat sampai habis.


Juan Mahardika duduk bersandar di dashbord tempat tidur. Elfa berada dalam dekapan dan kepala bersandar di dada. Membelai pipi dan rambutnya dengan mesra.


"Apakah El sudah mengantuk?"


Elfa menggelengkan kepala masih menempel di dada. Rasa cinta seolah semakin besar setelah bisa menikmati indahnya beraksi berdua. Walau menikmati setelah hampir satu bulan menikah.


"Sudah berapa hari kita menikah, Sayang?"


"Satu bulan kurang dua hari, ada apa sih menghitung hari kita menikah?"


"Setelah dua puluh delapan hari kita baru MP, apakah bisa Akak minta di rapel?"


"Apanya yang dirapek, Akak?"


"MP dong?"

__ADS_1


__ADS_2